KEKR Provinsi Sulawesi Utara Agustus 2017​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019

Perkembangan Ekonomi Makro

Perekonomian Sulawesi Utara triwulan II 2017 tumbuh melambat sebesar 5,80% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 6,43% (yoy). Pertumbuhan tersebut juga lebih rendah bila baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 yang tumbuh sebesar 6,15% (yoy) maupun rata-rata pertumbuhan triwulan II selama 5 tahun terakhir (2012-2016) yakni sebesar 6,29% (yoy). Meskipun melambat, namun pertumbuhan ekonomi Sulut tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,01% (yoy) pada triwulan II 2017.

Memasuki triwulan III 2017, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara diperkirakan meningkat dalam kisaran 5,9 – 6,3% (yoy) dibandingkan triwulan II 2017. Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2017 diperkirakan didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga (RT), konsumsi pemerintah dan investasi serta kinerja ekspor. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2017 akan ditopang oleh peningkatan sektor pertanian seiring dengan membaiknya perikanan tangkap dan panen beras, dan sektor industri pengolahan seiring dengan membaiknya pasokan bahan baku, serta sektor konstruksi yang meningkat seiring dengan pola belanja modal pemerintah dan investasi swasta yang berlanjut.

Keuangan Pemerintah

Anggaran pendapatan APBD Sulawesi Utara tahun 2017 meningkat dibanding tahun sebelumnya yang didorong oleh naiknya pendapatan asli daerah (PAD) dan pendapatan transfer dari pemerintah pusat. Meskipun anggaran pendapatan khususnya PAD meningkat, namun rasio kemandirian pendapatan Sulawesi Utara tahun 2017 rendah, bahkan mengalami penurunan dibandingkan sejak tahun 2015. Pada triwulan II 2017, realisasi anggaran pendapatan Sulawesi Utara cukup baik yakni sebesar 52,51%, lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan II 2015 dan triwulan II 2016.

Dari sisi belanja, anggaran belanja APBD Sulawesi Utara tahun 2017 juga meningkat dibanding tahun sebelumnya yang terutama didorong oleh peningkatan anggaran belanja non-modal. Sementara itu, belanja modal mengalami penurunan. Selain mengalami penurunan, porsi belanja modal juga lebih kecil dibanding belanja non modal. Pada triwulan II 2017, realisasi anggaran belanja APBD Provinsi Sulawesi Utara tercatat sebesar 36,96%. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2016 (39,47%) namun lebih baik dibandingkan triwulan II 2015 (33,42%).

Di sisi lain, alokasi APBN di Sulawesi Utara juga mengalami peningkatan anggaran belanja sebesar 5,91% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang turun 5,41% (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan belanja pegawai dan belanja modal, sedangkan pos belanja barang dan bantuan sosial mengalami penurunan. Pada triwulan II 2017, penyerapan alokasi anggaran APBN di Sulawesi Utara tercatat sebesar 33,26%, lebih rendah dibandingkan triwulan II 2016 yang tercatat sebesar 34,42%.

Perkembangan Inflasi Daerah

Inflasi Sulawesi Utara pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 3,59% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya (3,93%). Inflasi Sulawesi Utara triwulan II 2017 berada dalam rentang target inflasi tahun 2017 yakni 4%±1% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, inflasi tahunan pada triwulan II 2017 disumbang oleh inflasi kelompok AP sebesar 2,16%, kelompok core sebesar 1,30%, dan kelompok VF sebesar 0,13%.

Memasuki awal triwulan III 2017, IHK bulan Juli 2017 tercatat inflasi sebesar 0,86% (mtm), atau secara tahunan tercatat sebesar 3,61% (yoy) yang sedikit meningkat dibandingkan bulan Juni 2017. Meski inflasi tahunan meningkat, namun masih berada dalam rentang target inflasi tahun 2017 yakni 4±1% (yoy).

Berbagai upaya dilakukan oleh TPID Sulawesi Utara untuk mencapai sasaran inflasi. Pada April 2017, BI bersama dengan Pemerintah Kota Manado dan Pemerintah Provinsi Sulut telah mencanangkan gerakan Barito (Batanang Rica dan Tomat) sebagai bentuk nyata pengendalian inflasi melalui gerakan menanam baik oleh masyarakat maupun ASN. Selanjutnya, Pada Mei 2017, BI bersama dengan Pemerintah Kota Manado dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui wadah TPID telah melaksanakan berbagai kegiatan diantara lain panen raya cabai rawit dan tomat sayur hasil dari Gerakan Barito yang dicanangkan pada tahun 2017, serta sidak pasar bersama dengan Wakil Gubernur Sulawesi Utara untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat. Sepanjang Juni, Bank Indonesia bersama dengan TPID Provinsi dan TPID Kab/Kota memfokuskan upaya pengendalian inflasinya dalam menghadapi risiko peningkatan harga selama bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri 1438H.

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM

Kondisi Stabilitas Keuangan Daerah di Sulawesi Utara pada triwulan II 2017 relatif masih terjaga. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga masih relatif baik seiring dengan berkurangnya tekanan dan potensi risiko pada kedua sektor tersebut. Ketahanan sektor korporasi ditopang oleh permintaan Negara mitra dagang yang relatif stabil, disi lain potensi kerentanan yang bersumber dari tren penurunan harga CNO serta keterbatasan bahan baku untuk Industri Pengolahan Ikan dampak dari kondisi cuaca perlu diwaspadai. Disisi lain, kondisi sektor rumah tangga yang salah satunya tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKE) masih berada pada level yang optimis (di atas 100) meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi perkembangan indikator utama perbankan menunjukkan perbaikan. Tekanan terhadap pertumbuhan DPK mereda, disertai dengan kredit yang tetap tumbuh meski melambat dibandingkan periode sebelumnya. DPK pada triwulan II 2017 tercatat tumbuh 3,6% (yoy) membaik dari -0,1% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perbaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan komponen giro yang pada bulan sebelumnya terkontraksi 18,62% (yoy), kini tumbuh positif meski dalam level yang terbatas sebesar 2,64% (yoy) serta peningkatan deposito dari 2,9%(yoy) pada triwulan I 2017 menjadi 3,08%(yoy). Dari sisi pembiayaan, kredit tumbuh 6,9% (yoy) melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 8,06% (yoy). Loan To Deposit Ratio (LDR) menunjukkan penurunan menjadi 146,3% dari 148,8% pada triwulan sebelumnya. Rasio NPL menunjukkan peningkatan menjadi 3,9% yang menunjukkan meningkatnya rasio kredit bermasalah.

Meski kredit secara agregat meningkat, namn penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM masih relatif terbatas yang tercermin dari pangsa kredit UMKM hanya sebesar 25,6% dari total kredit di Sulut. Di sisi lain, pangsa unit usaha UMKM terhadap total unit usaha di Sulawesi Utara mencapai 98,67%. Adapun laju pertumbuhan kredit UMKM pada triwulan II 2017 tercatat mengalami peningkatan menjadi 7,53% (yoy) dari 7,08% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Disisi lain, indikator akses keuangan Sulawesi Utara secara keseluruhan terutama dari sisi penghimpunan dana mengalami peningkatan, namun demikian dari sisi penyaluran pembiayaan menunjukkan penurunan. Untuk mendorong peningkatan akses masyarakat Sulawesi Utara terhadap layanan jasa keuangan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, Bank Indonesia telah melakukan berbagai bentuk langkah dan upaya diantaranya mendorong ekspansi agen LKD, sosialisasi dan edukasi akses keuangan, penciptaan aplikasi SIAPIK, Diseminasi penelitian KPJU serta pelaksanaan penelitian lending model.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah di Sulawesi Utara dan Gorontalo

Pada triwulan II 2017, transaksi kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo tercatat sebesar Rp 1,80 triliun menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 2,42 triliun. Hal ini sejalan dengan perlambatan perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan II 2017. Secara pertumbuhan, transaksi kliring kembali mengalami kontraksi yaitu sebesar 33,83% (yoy) pada triwulan II 2017 lebih dalam dari pada triwulan I 2017 yang terkontraksi sebesar 15,7% (yoy).

Pergerakan aliran masuk uang kartal dari masyarakat ke kas Bank Indonesia pada triwulan II 2017 masih mengikuti pola historisnya yaitu menunjukkan adanya peningkatan net-outflow. Permintaan masyarakat akan uang kartal meningkat pada triwulan II 2017 sejalan dengan peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang kartal jelang hari raya Idul Fitri dan perayaan pengucapan di wilayah Minahasa dan sekitarnya.

Temuan uang palsu di Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2017 sebanyak 121 lembar, meningkat dari triwulan I 2017 yang tercatat hanya sebanyak 103 lembar. Berdasarkan pecahannya, temuan pada triwulan II 2017 terdiri dari 78 lembar pecahan Rp 100 ribu, 41 lembar pecahan Rp 50 ribu dan 2 lembar pecahan Rp 20 ribu.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Ketenagakerjaan di Sulawesi Utara mengalami perbaikan pada periode Februari 2017. Perbaikan ketenagakerjaan di Sulawesi Utara tersebut tercermin dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada periode Februari 2017 yang sebesar 6,12%, menurun dari tahun sebelumnya yang berada di level 6,18%. Jumlah tenaga kerja meningkat baik secara pertumbuhan maupun jumlah jiwanya dibandingkan jumlah peningkatan angkatan kerja. Kondisi tersebut menyebabkan TPT mengalami penurunan yang cukup dalam. Berdasarkan lapangan usahanya, penurunan tingkat pengangguran ditopang oleh penyerapan tenaga kerja pada lapangan usaha pertanian dan industri.

Sejalan dengan keadaan ketenagakerjaan, kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara meningkat yang tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Sulawesi Utara menurun dari 8,98% menjadi 8,20% pada data terakhir bulan September tahun 2016. Selain dampak dari pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang rendah, meningkatnya kesejahteraan masyarakat juga didukung oleh program pengentasan kemiskinan pemerintah daerah “ODSK”[1] menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara.

Prospek Perekonomian Daerah

Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh meningkat dibandingkan perkiraan pertumbuhan triwulan III 2017. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara diperkirakan berada pada kisaran 6,1-6,5% (yoy) di triwulan IV 2017, lebih tinggi dibandingkan perkiraan triwulan III 2017 yaitu 5,9-6,3% (yoy). Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh peningkatan seluruh komponen utama sisi penggunaan yakni konsumsi, investasi dan ekspor. Dari sisi lapangan usaha, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara terutama bersumber dari 5 sektor utama yakni pertanian, perdagangan, konstruksi dan transportasi, serta industri pengolahan. Sementara itu, sepanjang keseluruhan tahun 2017, perekonomian Sulawesi Utara diperkirakan tumbuh meningkat dibandingkan tahun 2016. Ekonomi Sulawesi Utara diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,1-6,5% (yoy).

Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Utara pada triwulan IV diperkirakan meningkat dibandingkan perkiraan inflasi triwulan III 2017, namun demikian masih berada dalam rentang target inflasi tahun 2017 4±1%. Inflasi triwulan IV 2017 secara tahunan diperkirakan sebesar 4,0-4,4% (yoy). Secara bulanan, inflasi terjadi di ketiga bulan di triwulan IV 2017, dengan inflasi tertinggi terjadi di bulan Desember. Pada bulan Oktober 2017, IHK Sulawesi Utara diperkirakan mengalami inflasi yang relatif kecil yakni sebesar 0,2% (mtm). Pada bulan November dan Desember, inflasi Sulut diperkirakan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yakni berturut-turut sebesar 0,5% dan 0,8% (mtm).

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan (Program Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw)

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel