Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020
Pada triwulan III 2018 ekonomi Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 6,6% (yoy), mengalami akselerasi pertumbuhan dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang sebesar 6,1% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan perekonomian didorong oleh akselerasi yang terjadi pada konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah serta terkontraksinya impor. Sementara itu dari sisi penawaran, akselerasi pada lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha pertambangan dan penggalian dan lapangan usaha industri pengolahan mendorong pertumbuhan perekonomian yang terjadi. Memasuki triwulan IV 2018, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dan diperkirakan mampu tumbuh pada kisaran 6,7% - 7,1% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja yaitu lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, Lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Dengan capaian tersebut, perekonomian Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan meskipun kecenderungan melambat dengan tumbuh pada kisaran 6,2% – 6,6% (yoy) dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2017 yang sebesar 6,8% (yoy).

Sementara itu, ingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan III 2018 mencapai 1,40% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,79% (yoy). Cuaca yang kondusif pada triwulan laporan mendorong terjadinya peningkatan produksi di kelompok bahan makanan. Meskipun demikian, penurunan inflasi ini tertahan akibat peningkatan tekanan inflasi pada kelompok penyumbang inflasi lainnya. Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan III 2018 difokuskan pada pengendalian inflasi sayur-sayuran dan ikan segar untuk mencegah terjadinya efek berkelanjutan.

Dari sisi stabilitas keuangan, di tengah ketidakpastian global kondisi stabilitas sistem keuangan di Sulawesi Tenggara relatif terjaga. Kondisi tersebut tercermin pada ketahanan keuangan sektor rumah tangga, sektor korporasi, UMKM dan institusi keuangan yang menunjukkan perkembangan yang positif dengan risiko yang relatif terkendali. Ketahanan keuangan sektor rumah tangga terus terjaga dengan peningkatan penghasilan, optimisme konsumsi, perilaku berhutang yang aman dan kemampuan keuangan yang masih cukup untuk berbagai keperluan. Ketahanan pada sektor korporasi juga terus terjaga. Selanjutnya, dari sisi institusi keuangan, indikator aset bank umum, penghimpunan dana pihak ketiga dan kredit menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kondisi yang aman juga terlihat dari sisi risiko kredit yang masih terkendali.
 
Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan I 2019 diprakirakan berada pada kisaran 6,6% - 7,0% (yoy), cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan jika dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang diprakirakan tumbuh sebesar 6,7% - 7,1% (yoy). Perlambatan tersebut disebabkan oleh perlambatan yang terjadi pada beberapa lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran meskipun tertahan dengan akselerasi yang terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Dengan memperhitungkan hal tersebut, maka pada tahun 2019 perekonomian Sultra diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan pada kisaran 6,8% - 7,2% (yoy). Akselerasi tersebut didukung oleh pertumbuhan yang terjadi pada lapangan usaha nonpertambangan meskipun tertahan oleh lapangan usaha pertambangan. Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 2,8% - 3,2% (yoy), cenderung stabil dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2018 yang berada pada kisaran 2,8% - 3,2% (yoy). Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mendorong peningkatan produksi perikanan dan sayur-sayuran yang selama ini menjadi penyebab utama inflasi di Sulawesi Tenggara dapat menjadi faktor yang mendorong stabilnya capaian inflasi di Sulawesi Tenggara. 
 
​Variabel ​Q1-2017 Q2-2017​ Q3-2017​ Q4-2017​ Q1-2018​ Q2-2018​ Q3-2018​
​Pertumbuhan Ekonomi (%,YoY) ​7,8 6,9​ 6,6​ 6,1​ 5,8​ 6,1​ 6,6​
​PDRB (Rp. Miliar), ADHK 2010
​19.315 ​20.650 ​21.230 ​21.844 ​20.441 ​21.908 ​22.367
​Inflasi (%, YoY)
​2,25 ​5,21 ​3,18 ​2,97 ​2,39 ​1,79 ​1,40
​Pertumbuhan DPK (%, YoY)
​3,3 ​8,7 10,6
​14,4 ​12,1 ​11,3 ​13,5
​Pertumbuhan Kredit (%, YoY), Lokasi Bank
​11,2 ​8,6 ​9,9 ​12,8 ​13,4 ​12,2 ​12,7
​NPL ​3,23 ​3,27 ​3,12 ​2,72 ​2,46 ​2,56 ​2,42
  

 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel