Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020

Pada triwulan III 2017 ekonomi Sulawesi Tenggara kembali mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 6,54% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang hanya tumbuh sebesar 5,06% (yoy). Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan kinerja perekonomian Sultra pada triwulan II 2017, kinerja pada triwulan III tersebut menunjukkan adanya perlambatan dari semula dapat tumbuh sebesar 7,02% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan tersebut disebabkan disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga dan akselerasi yang terjadi pada impor luar negeri. Sementara itu dari sisi penawaran, perlambatan terjadi pada lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha konstruksi, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta lapangan usaha industri pengolahan. Memasuki triwulan IV 2017, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dan diperkirakan mampu tumbuh pada kisaran 6,8% - 7,2% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami percepatan pertumbuhan yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian, lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha konstruksi. Dengan realisasi perekonomian sampai dengan triwulan III tersebut, pada tahun 2017 perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan dapat tumbuh sebesar 6,9% s.d 7,3% (yoy). Pertumbuhan ekonomi selama tahun 2017 tersebut masih mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang tumbuh hanya sebesar 6,5% (yoy).

Tingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan III 2017 mencapai 3,18% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,21% (yoy). Sumber utama penurunan inflasi tersebut berasal dari kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan, serta kelompok bahan makanan seiring dengan telah kembali normalnya permintaan masyarakat pasca perayaan hari besar keagamaan yang berada pada triwulan sebelumnya. Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan III 2017 difokuskan pada upaya meningkatkan produksi dan pasokan pangan strategis. Upaya yang dilakukan antara lain yaitu mengimplementasikan Urban Farming untuk komoditas sayur-sayuran, rapat koordinasi membahas permasalahan pasokan ikan tangkap, sosialisasi kebijakan HET untuk komoditas beras dan gula pasir, serta upaya penguatan TPID tingkat kabupaten. Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat di tengah meningkatnya permintaan domestik seiring dengan libur Natal dan Tahun Baru. Beberapa komoditas yang diperkirakan mengalami peningkatan tekanan inflasi diantaranya tarif angkutan, pakaian, dan makanan jadi.

Stabilitas keuangan daerah masih terjaga, terutama dari ketahanan sektor rumah tangga. Meskipun menghadapi kerentanan yang disebabkan oleh adanya penurunan optimisme konsumsi, namun tingkat konsumsi yang masih dalam batas wajar, perilaku berutang yang membaik dan risiko kredit yang masih terjaga berdampak minimal pada stabilitas sistem keuangan. Sementara itu dari sisi sektor korporasi, kinerja korporasi utama masih cukup stabil meskipun terjadi perlambatan beberapa sektor utama. Meskipun demikian, optimisme dalam perekonomian turut mendukung kinerja institusi keuangan, khususnya perbankan di Sulawesi Tenggara. Kinerja penghimpunan dana pihak ketiga masih melanjutkan tren peningkatan, sementara itu penyaluran kredit mulai menunjukka perbaikan. Selain itu, risiko kredit masih terjaga.

Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 diprakirakan berada pada kisaran 7,1% - 7,5% (yoy) mengalami akselerasi jika dibandingkan pertumbuhan pada periode 2017 yang diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,1% (yoy). Perkembangan perekonomian di Sultra tersebut searah dengan prakiraan perekonomian Indonesia dan dunia yang juga diperkirakan mengalami peningkatan. Kinerja lapangan usaha pertanian, pertambangan dan industri pengolahan yang masih mendominasi perekonomian Sultra secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Beberapa asumsi yang menjadi pendorong perekonomian Sulawesi Tenggara tahun 2018 adalah (1) peningkatan kinerja lapangan usaha utama, (2) peningkatan konsumsi rumah tangga, (3) peningkatan realisasi investasi, dan (4) meningkatnya ekspor komoditas utama. Di sisi lain, Tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% + 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 2,8% s.d 3,2% (yoy), relatif meningkat dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2017 yang berada pada kisaran 2,5% s.d 2,9% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi pada tahun tersebut didorong oleh peningkatan tekanan inflasi inti dan administered prices. Sementara itu, tekanan volatile foods relatif berkurang dengan peningkatan produksi seiring dengan bertambahnya luas lahan, pengembangan urban farming, dan bertambahnya kapal penangkap ikan. Meskipun demikian, BMKG memperkirakan adanya potensi La Nina lemah pada awal tahun 2018 yang menyebabkan cuaca lebih basah dan dapat mempengaruhi produksi tanaman pangan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel