Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Pertumbuhan Sulawesi Tenggara pada triwulan I 2017 tumbuh sebesar 8,4%(yoy), mengalami akselerasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,6%(yoy). Akselerasi tersebut disebabkan oleh akselerasi yang terjadi pada pertumbuhan investasi, konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah pada sisi permintaan. Dari sisi penawaran, peningkatan kinerja lapangan pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha konstruksi merupakan penyebab utama terjadinya percepatan laju pertumbuhan. Sementara itu, pada triwulan II 2017 perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan akan masih mengalami akselerasi yang didorong oleh percepatan yang terjadi pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha industri pengolahan, lapagan usaha konstruksi serta lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.

Inflasi Sulawesi Tenggara pada triwulan I 2017 mengalami penurunan dari 2,69% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 2,25% (yoy). Penurunan laju inflasi Sulawesi Tenggara tersebut disebabkan oleh penurunan inflasi yang terjadi di Kota Kendari. Sementara untuk Kota Baubau tercatat mengalami peningkatan sehingga menahan laju penurunan inflasi di Sulawesi Tenggara. Sumber utama penurunan inflasi tersebut adalah deflasi yang terjadi kelompok bahan pangan dan penurunan tekanan harga kelompok makanan jadi. Upaya pengendalian inflasi difokuskan untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi seluruh TPID Kota/Kabupaten dan TPID Provinsi. Selain itu, dilakukan pula upaya untuk menjaga ekspektasi masyarakat terhadap harga kebutuhan strategis di pasar. Namun demikian, tekanan inflasi pada triwulan II 2017 diperkirakan akan mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut utamanya masih disebabkan oleh peningkatan kelompok kelompok volatile food dan kelompok administered prices akibat adanya peningkatan permintaan masyarakat akan komoditas bahan makanan dan angkutan udara pada saat Bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Stabilitas keuangan daerah masih terjaga, terutama dari ketahanan sektor rumah tangga. Tingkat konsumsi masyarakat yang masih terjaga, perilaku berutang yang masih normal, dan risiko kredit yang masih terjaga berdampak minimal pada stabilitas sistem keuangan. Dari sisi sektor korporasi, kinerja korporasi utama sudah mulai membaik seiring dengan membaiknya ekonomi global dan mampu menopang ketahanan sistem keuangan di Sulawesi Tenggara. Perekonomian yang masih terkonsolidasi mempengaruhi kinerja institusi keuangan, khususnya perbankan di Sulawesi Tenggara. Kinerja penghimpunan dana pihak ketiga sudah mulai menunjukkan peningkatan meskipun masih rendah, sementara itu penyaluran kredit kembali mengalami perlambatan. Meskipun demikian, risiko kredit masih terjaga.

Pada triwulan III 2017, perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan mengalami penurunan dan tumbuh pada kisaran 7,8% - 8,2% (yoy). Hal ini mendorong perekonomian Sultra selama tahun 2017 diperkirakan dapat tumbuh sebesar 8,3% - 8,7%. Perlambatan tersebut disebabkan oleh perlambatan kinerja lapangan usaha pertanian serta lapangan usaha perdagangan eceran dari sisi penawaran. Sementara dari sisi permintaan adanya perlambatan pada konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah merupakan faktor penyebab perlambatan ekonomi yang diperkirakan akan terjadi di triwulan III 2017. Di sisi lain, perkembangan inflasi Sultra pada triwulan III 2017 perkirakan dominan dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok volatile food dan administered prices.

Variabel​ ​Q1-16 Q2-16​ Q3-16​ Q4-16​ Q1-17
​Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy) ​5,5 6,8​ 6,0 7,6​ 8,4​
​PDRB (Rp Miliar), ADHK 2010 ​17.918 19.320​ ​19.922 ​20.580 ​19.421
​Inflasi (%, yoy) 4,75​ 3,49​ ​3,28 ​2,69 2,25​
​Pertumbuhan DPK (%, yoy) ​22,0 14,7​ 3,8​ 2,4​ 3,3​
​Pertumbuhan Kredit (%, yoy), lokasi bank 17,1​ 19,4​ ​15,8 13,5​ ​11,2
​NPL 2,6​ 2,5​ ​2,8 ​2,7 ​3,2
 
 
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel