Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020
Pada triwulan IV 2018 ekonomi Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 6,2% (yoy), mengalami perlambatan periode sebelumnya yang dapat tumbuh sebesar 7,1% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan perekonomian Sulawesi Tenggara disebabkan oleh perlambatan pada seluruh komponen utama, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor luar negeri. Sementara itu dari sisi penawaran, perlambatan dipengaruhi oleh perlambatan kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha pertambangan dan lapangan usaha industri pengolahan. Dengan perkembangan ekonomi yang terjadi sepanjang tahun 2018, perekonomian Sulawesi Tenggara pada tahun tersebut masih mampu tumbuh sebesar 6,4% (yoy) dan berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,2% (yoy). Namun pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengggara pada tahun 2017 yang mencapai 6,8% (yoy). Memasuki triwulan I 2019, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat meskipun tidak terlalu signifikan dengan kisaran 6,1% - 6,5% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha industri pengolahan. Namun perlambatan pada lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran diperkirakan akan menahan laju akselerasi perekonomian pada periode tersebut. Sementara dari sisi permintaan, percepatan pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi diperkirakan mampu mendorong akselerasi perekonomian Sulawesi Tenggara pada periode mendatang.
 
Sementara itu, tingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan IV 2018 mencapai 2,66% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,40% (yoy). Perubahan cuaca yang sangat signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya memberikan dampak pada terjadinya penurunan produksi beberapa komoditas seperti sayur-sayuran dan hortikultura. Selain itu, peningkatan tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok transportasi terutama tarif angkutan udara yang disebabkan oleh aksi korporasi penyedia jasa penerbangan komersial yang melakukan perubahan struktur tarif. Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan IV 2018 difokuskan pada penyusunan rencana kerja pengendalian inflasi tahun 2019 dan upaya pengendalian harga menjelang hari raya keagamaan dan libur akhir tahun.
 
Dari sisi stabilitas keuangan, di tengah ketidakpastian global kondisi stabilitas sistem keuangan di Sulawesi Tenggara relatif terjaga. Kondisi tersebut tercermin pada ketahanan keuangan sektor rumah tangga, sektor korporasi, UMKM dan institusi keuangan yang menunjukkan perkembangan yang positif dengan risiko yang relatif terkendali. Ketahanan keuangan sektor rumah tangga terus terjaga dengan peningkatan penghasilan, optimisme konsumsi, perilaku berhutang yang aman dan kemampuan keuangan yang masih cukup untuk berbagai keperluan. Ketahanan pada sektor korporasi juga terus terjaga. Selanjutnya, dari sisi institusi keuangan, indikator aset bank umum, penghimpunan dana pihak ketiga dan kredit menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kondisi yang aman juga terlihat dari sisi risiko kredit yang masih terkendali.
 
Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2019 diprakirakan berada pada kisaran 6,9% - 7,3% (yoy), cenderung mengalami peningkatan jika dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang diprakirakan tumbuh sebesar 6,1% - 6,5% (yoy). Dari sisi penawaran, akselerasi kinerja pada periode tersebut diperkirakan berasal dari lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Dengan memperhitungkan hal tersebut, maka pada tahun 2019 perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan pada kisaran 6,8% - 7,2% (yoy). Akselerasi tersebut didukung oleh pertumbuhan yang terjadi pada lapangan usaha nonpertambangan meskipun tertahan oleh lapangan usaha pertambangan. Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 2,8% - 3,2% (yoy), cenderung stabil dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2018 yang berada pada kisaran 2,8% - 3,2% (yoy). Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mendorong peningkatan produksi perikanan dan sayur-sayuran yang selama ini menjadi penyebab utama inflasi di Sulawesi Tenggara dapat menjadi faktor yang mendorong stabilnya capaian inflasi di Sulawesi Tenggara.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel