Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020

Pada triwulan IV 2017 ekonomi Sulawesi Tenggara kembali mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 6,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang hanya tumbuh sebesar 5,1% (yoy). Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan kinerja perekonomian Sultra pada triwulan III 2017, kinerja pada triwulan III tersebut menunjukkan adanya perlambatan dari semula dapat tumbuh sebesar 6,6% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan terjadi hamper diseluruh sektor, kecuali konsumsi rumah tangga yang cenderung stabil. Sementara itu dari sisi penawaran, perlambatan terjadi pada lapangan usaha utama yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Memasuki triwulan I 2018, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dan diperkirakan mampu tumbuh pada kisaran 6,2% - 6,6% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami percepatan pertumbuhan yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian dan lapangan usaha industri pengolahan.

Di sisi lain, tingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan IV 2017 mencapai 2,97% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,18% (yoy). Sumber utama penurunan inflasi tersebut berasal dari kelompok bahan makanan dan kelompok transport, komunikasi dan keuangan yang didorong oleh peningkatan produksi bahan makan yang didukung oleh kondisi cuaca yang kondusif serta tidak terlalu bergejolaknya harga tarif angkutan udaha pada periode laporan. Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan III 2017 difokuskan pada upaya meningkatkan produksi dan pasokan pangan strategis. Upaya yang dilakukan antara lain yaitu mengimplementasikan Urban Farming untuk komoditas sayur-sayuran, rapat koordinasi membahas permasalahan pasokan ikan tangkap, sosialisasi kebijakan HET untuk komoditas beras dan gula pasir, serta upaya penguatan TPID tingkat kabupaten. Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan I 2018 diperkirakan menurun seiring dengan kembali normalnya tingkat konsumsi masyarakat setelah berlalunya periode libur akhir tahun.

Dari sisi stabilitas sistem keuangan, sistem keuangan Sulawesi Tenggara masih cukup stabil terutama dari ketahanan sektor rumah tangga. Meskipun menghadapi kerentanan yang disebabkan oleh cukup rendahnya tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tanggal regional Sulawesi, namun tingkat konsumsi yang masih dalam batas wajar, perilaku berutang yang membaik dan risiko kredit yang masih terjaga berdampak minimal pada stabilitas sistem keuangan. Sementara itu dari sisi sektor korporasi, kinerja korporasi utama masih cukup stabil meskipun terjadi perlambatan beberapa sektor utama. Meskipun demikian, optimisme dalam perekonomian turut mendukung kinerja institusi keuangan, khususnya perbankan di Sulawesi Tenggara. Kinerja penghimpunan dana pihak ketiga masih melanjutkan tren peningkatan, sementara itu penyaluran kredit mulai menunjukkan perbaikan. Selain itu, risiko kredit masih terjaga.

Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 diprakirakan berada pada kisaran 6,9% - 7,3% (yoy) mengalami akselerasi jika dibandingkan pertumbuhan pada periode 2017 yang tumbuh sebesar 6,8% (yoy). Perkembangan perekonomian di Sultra tersebut searah dengan prakiraan perekonomian Indonesia dan dunia yang juga diperkirakan mengalami peningkatan. Kinerja lapangan usaha pertanian, pertambangan dan industri pengolahan yang masih mendominasi perekonomian Sultra secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Beberapa asumsi yang menjadi pendorong perekonomian Sulawesi Tenggara tahun 2018 adalah (1) peningkatan kinerja lapangan usaha utama, (2) peningkatan konsumsi rumah tangga, (3) peningkatan realisasi investasi, dan (4) meningkatnya ekspor komoditas utama.

Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 3,0% - 3,4% (yoy), relatif meningkat dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2017 yang sebesar 2,97% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi pada tahun tersebut didorong oleh peningkatan tekanan inflasi inti dan administered prices. Sementara itu, tekanan volatile foods relatif berkurang dengan peningkatan produksi seiring dengan bertambahnya luas lahan, pengembangan urban farming, dan bertambahnya kapal penangkap ikan.

​Variabel Q1 - 2016​ ​Q2  - 2016 ​Q3 - 2016 ​Q4 - 2016 ​Q1 - 2017 ​Q2 - 2017 ​Q3 - 2017 ​Q4 - 2017
Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy)​ ​5,5 6,8​ ​6,0 ​7,7 ​7,8 ​6,9 ​6,6 ​6,1
PDRB (Rp Miliar), ADHK 2010​ ​17.918 ​19.322 ​19.924 ​20.584 ​19.315 ​20.650 ​21.230 ​21.844
Inflasi (%, yoy)​ ​4,75 ​4,12 ​3,28 ​2,69 ​2,25 ​5,21 ​3,18 ​2,97
Pertumbuhan DPK (%, yoy)​ ​22,0 ​14,7 ​3,8 ​2,4 ​3,3 ​8,7 ​10,6 ​14,4
Pertumbuhan Kredit (%, yoy), Lokasi Bank​ ​17,2 ​18,0 ​15,8 ​13,5 ​11,2 ​8,6 ​9,8 ​12,8
NPL​ ​2,61 ​2,48 ​2,79 ​2,69 ​3,23 ​3,27 ​3,12 ​2,72
  
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel