Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

Pada triwulan II 2018 ekonomi Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 6,1% (yoy), mengalami akselerasi pertumbuhan dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang sebesar 5,8% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan perekonominan didorong oleh akselerasi yang terjadi pada konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi. Sementara itu dari sisi penawaran, akselerasi pada lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan dan lapangan usaha konstruksi mendorong pertumbuhan perekonomian yang terjadi. Memasuki triwulan III 2018, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dan diperkirakan mampu tumbuh pada kisaran 6,3% - 6,7% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja yaitu lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, Lapangan usaha pertambangan dan penggalian, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha industri pengolahan.

Sementara itu, tingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2018 mencapai 1,79% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,39% (yoy). Penurunan tekanan inflasi yang terjadi secara signifikan didorong oleh penurunan yang terjadi pada kelompok bahan makan. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya capaian inflasi pada triwulan II 2017 (based effect point). Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan I 2018 difokuskan pada upaya meningkatkan produksi dan pasokan pangan strategis dengan ikan dan sayuran menjadi fokus utama.

Dari sisi stabilitas sistem keuangan, di tengah ketidakpastian global, kondisi stabilitas sistem keuangan di Sulawesi Tenggara relatif terjaga pada triwulan II 2018. Kondisi tersebut tercermin pada ketahanan keuangan sektor rumah tangga, sektor korporasi, UMKM dan institusi keuangan yang menunjukkan perkembangan yang positif dengan risiko yang relatif terkendali. Ketahanan keuangan sektor rumah tangga semakin kuat dengan adanya peningkatan penghasilan, optimisme konsumsi, perilaku berhutang yang aman dan kemampuan keuangan yang masih cukup untuk berbagai keperluan. Sementara itu, ketahanan pada sektor korporasi terus terjaga seiring dengan peningkatan omset dan perbaikan kondisi likuiditas seiring menurunnya biaya dan terjaganya margin keuntungan. Selanjutnya, dari sisi institusi keuangan masih terpantau kondisi yang kuat meskipun terdapat moderasi pada indikator aset bank umum, penghimpunan dana pihak ketiga dan kredit dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kondisi yang aman juga terlihat dari sisi risiko kredit yang masih terkendali.

Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan IV 2018 diprakirakan berada pada kisaran 6,6% - 7,0% (yoy) mengalami akselerasi jika dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang diprakirakan tumbuh sebesar 6,3% - 6,7% (yoy). Terakselerasinya beberapa lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha pertambangan dan penggalian, lapangan usaha industri pengolahan, dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran menjadi faktor utama pertumbuhan yang terjadi meskipun tertahan dengan perlambatan yang terjadi pada lapangan usaha konstruksi. Dengan memperhitungkan hal tersebut, maka pada tahun 2018 perekonomian Sultra diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan pada kisaran 6,1% - 6,5% (yoy). Perlambatan yang terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan lapangan usaha industri pengolahan diperkirakan akan menjadi penyebab perlambatan yang terjadi. Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 2,9% - 3,3% (yoy), relatif meningkat dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2017 yang sebesar 2,97% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi tersebut terjadi disebabkan oleh peningkatan yang terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan terutama komoditas angkutan udara. Hal tersebut disebabkan oleh berkurangnya beberapa jadwal penerbangan serta peningkatan biaya avtur yang mendorong terjadinya peningkatan harga tiket angkutan udara. Namun peningkatan tersebut relatif tertahan oleh penurunan pada kelompok bahan makanan seiring dengan peningkatan produksi tabama,sayur-sayuran dan perikanan.

 
 
​Variabel Q1-2017​ Q2-2017​ Q3-2017​ Q4-2017​ Q1-2018​ Q2-2018​
​Pertumbuhan Ekonomi (%,YoY) 7,8​ 6,9​ ​6,6 ​6,1 ​5,8 ​6,1
​PDRB (Rp. Miliar), ADHK 2010
​19.315 ​20.650 ​21.230 ​21.844 ​20.441 21.908​
​Inflasi (%,YoY) ​2,25 5,21​ 3,18​ ​2,97 ​2,39 ​1,79
​Pertumbuhan DPK (%,YoY) ​3,3 8,7​ ​10,6 ​14,4 ​12,1 ​11,3
​Pertumbuhan Kredit (%,YoY), Lokasi Bank ​11,2 8,6​ ​9,9 ​12,8 ​13,4 ​12,2
​NPL ​3,23 3,27​ ​3,12 ​2,72 ​2,46 ​2,56
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel