Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah Mei 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI REGIONAL
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah meningkat pada triwulan laporan. Ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 6,77% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya 5,37% (yoy). Realisasi ini tumbuh diatas ekspektasi mengingat Sulawesi Tengah baru mengalami bencana pada September 2018. Secara lapangan usaha (LU), tingginya pertumbuhan didorong oleh meningkatnya kinerja pertanian, pertambangan dan industri pengolahan. Dari LU pertanian, pertumbuhan terutama ditopang oleh meningkatnya produksi perkebunan kakao. Sementara itu, LU pertambangan didorong oleh meningkatnya permintaan dari LU industri dan kembali dilakukannya ekspor biji nikel. Selain itu, pertumbuhan juga didorong oleh meningkatnya kinerja LU industri pengolahan yang terutama disebabkan oleh tingginya nilai tambah hilirisasi lanjutan dari stainless steel yakni hot rolled coiled (HRC) dan cold rolled coiled (CRC). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ditopang oleh tingginya ekspor pada triwulan laporan dan juga membaiknya konsumsui rumah tangga (RT)). Namun perbaikan konsumsi RT masih relatif rendah dan belum kembali ke level sebelum terjadi bencana pada akhir September tahun lalu. Sementara itu, pertumbuhan investasi dan pengeluaran pemerintah pada periode laporan mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Investor cenderung wait and see terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi, sedangkan sesuai pola historisnya realisasi pengeluaran pemerintah pada awal tahun belum terlalu besar. Dari sisi eksternal, net ekspor secara keseluruhan masih mengalami pertumbuhan yang positif yang didorong oleh ekspor yang meningkat, impor yang melambat dan net ekspor antar provinsi juga mengalami penurunan.

Realisasi belanja pemerintah daerah relatif lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian realisasi belanja APBD pada triwulan I 2019 tercatat 17,28% dari pagu anggaran Rp 4,26 triliun, atau lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir 10,52%. Hal ini menjadi stimulus yang bagus bagi perekonomian pascabencana. Sementara itu, realisasi pendapatan APBD mencapai lebih dari 21,75% yang ditopang oleh tingginya realisasi pendapatan transfer. Realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah mencapai 20,11% dari pagu anggaran Rp 24,79 triliun. Tingginya angka realisasi ini terutama ditopang oleh realisasi transfer ke daerah pada triwulan laporan. Sementara itu, realisasi penyaluran Anggaran Dana Desa terserap hingga 18,19%, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan yang sifatnya bottom-up.

Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2019 tercatat 5,59% (yoy), lebih tinggi dari triwulan IV 2019 6,46% (yoy). Secara tahunan, inflasi Sulteng masih terlihat tinggi karena faktor base-effect, namun secara akumulatif inflasi masih dalam tingkat yang rendah yakni -0,59% (ytd). Penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh produksi bahan makanan yang meningkat, distribusi barang-barang bangunan yang lancar dan relatif menurunnya permintaan pada beberapa jenis kebutuhan pokok masyarakat.

Stabilitas keuangan daerah masih terjaga dengan baik meskipun terdapat sedikit peningkatan risiko. Sumber kerentanan korporasi seperti perkembangan kondisi negara mitra dagang yang melambat dan harga komoditas global yang cenderung turun diperkirakan memberikan dampak negatif pada kinerja korporasi yang mengandalkan ekspor. Namun demikian, kinerja industri pengolahan logam tumbuh tinggi didorong oleh tingginya nilai tambah hilirisasi nikel yakni hot rolled coiled (HRC) dan cold rolled coiled (CRC). Kinerja LU rumah tangga secara umum masih belum terlalu membaik setelah terjadinya bencana gempa, tsunami dan likuifaksi. Perkembangan indikator perbankan sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, namun risiko kredit macet perlu diwaspadai terutama pada LU perdagangan.

Sepanjang triwulan I 2019, perkembangan jumlah uang yang diedarkan KPw BI Sulawesi Tengah tercatat net inflow sebesar Rp1.003,14 miliar. Sesuai polanya, kebutuhan uang kartal pada triwulan laporan cenderung dalam kondisi net inflow yang berarti bahwa jumlah uang kartal yang masuk dari kas Bank Indonesia baik melalui penyetoran perbankan ataupun penarikan kas titipan cenderung lebih banyak apabila dibandingkan uang kartal yang keluar dari kas bank Indonesia. Transaksi keuangan secara non tunai yang mencakup transaksi yang menggunakan BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) secara total mengalami penurunan selama triwulan I 2019.

Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah sedikit memburuk. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Tengah pada Februari 2019 mencapai 3,54% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar 3,19%. Salah satu penyebabnya adalah dampak bencana yang menyebabkan tenaga kerja kehilangan mata pencahariannya terutama pada sektor pertanian dan perdagangan. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan seiring dengan membaiknya kinerja LU pertanian pada periode laporan (September 2018). Rasio Gini Sulteng pada September 2018 juga membaik menjadi 0,317, dari posisi sebelumnya pada September 2017 yakni 0,345. Sementara itu, nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Tengah masih berada di bawah NTP Nasional. Hal ini menggambarkan bahwa rasio harga produk yang diterima oleh petani Sulawesi Tengah lebih rendah dari harga produk lain yang harus mereka bayar. Untuk itu, perlu upaya lebih dalam meningkatkan pemberdayaan petani agar produktivitasnya meningkat. Beberapa strategi yang dapat dilakukan melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi, serta meningkatkan daya tawar petani melalui perbaikan kelembagaan.

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2019 diprakirakan akan tetap stabil yakni berada di kisaran 6,6 – 7,0% (yoy). Produksi industri manufaktur terutama dari industri hilirirsasi lanjutan nikel yakni cold rolled coiled (CRC) masih akan menjadi kunci pertumbuhan pada periode mendatang. Selain itu, perbaikan investasi usai pemilihan umum juga diprakirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan selain perbaikan sisi konsumsi rumah tangga.

Tingkat inflasi pada triwulan III 2019 diprakirakan akan tetap tinggi karena base effect yang berada pada kisaran 5,0 – 5,4% (yoy). Tekanan dari kelompok transpor khususnya tarif angkutan udara diperkirakan menurun seiring penyeusuaian tarif batas atas. Dari sisi kelompok bahan makanan, fluktuasi produksi beberapa komoditas bahan makanan masih belum stabil karena irigasi di Kab. Sigi masih belum diperbaiki dan curah hujan yang tak menentu. Selain itu, tekanan dari kelompok lainnya seperti makanan jadi dan sandang diperkirakan sedikit meningkat seiring potensi kenaikan permintaan masyarakat menjelang perayaan lebaran.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel