Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah Agustus 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI REGIONAL

Pertumbuhan ekonomi Sulteng sedikit melambat pada triwulan II 2019. Ekonomi Sulteng tumbuh 6,62% (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya 6,98% (yoy). Realisasi ini berbeda dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya yang mengalami akselerasi pada triwulan II. Secara Lapangan Usaha (LU), perlambatan Sulteng disebabkan oleh kinerja pertanian, industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh lebih rendah dari triwulan sebelumnya. LU pertanian hanya tumbuh 3,23% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya 5,07% (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh produksi padi yang menurun pada triwulan laporan. Kerusakan irigasi akibat bencana di Kab. Sigi nampaknya cukup mempengaruhi penurunan kinerja sektor tersebut. LU industri pengolahan juga mengalami perlambatan dari 12,64% (yoy) ke 6,86% (yoy) pada triwulan laporan. Hal ini disebabkan oleh kinerja ekspor hilirisasi nikel yakni hot-rolled-coiled (HRC) & cold-rolled-coiled (CRC) yang tidak sebesar triwulan sebelumnya. Selain itu, kinerja LU perdagangan juga masih tumbuh relatif rendah yakni hanya 0,68% (yoy). Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja penjualan barang tahan lama dan penjualan kendaraan bermotor yang belum maksimal seiring dengan tertahannya pertumbuhan konsumsi RT pada triwulan laporan.

Pencapaian realisasi belanja APBD pada triwulan II 2019 tercatat 31,82% dari pagu anggaran Rp 4,26 triliun, atau lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir 36,42%. Hal ini disebabkan terdapat beberapa program yang harus disesuaikan dengan program pasca bencana (penyusunan rencan program telah selesai dilakukan sebelum bencana terjadi). Sementara itu, realisasi pendapatan APBD mencapai 50,74% dari target Rp4,14 triliun yang didorong oleh adanya bantuan keuangan dari pemerintah daerah lain untuk penanganan bencana. Realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah mencapai 34,22% dari pagu anggaran Rp 11,81 triliun, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu 34,55. Selain itu, Realisasi penyaluran Anggaran Dana Desa terserap hingga 59,77%, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan yang sifatnya bottom-up

Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2019 tercatat 5,32% (yoy), lebih rendah dari triwulan I 2019 5,59% (yoy). Secara tahunan, inflasi Sulteng masih tercatat tinggi karena faktor base-effect, namun secara akumulatif inflasi masih rendah yakni 2,13% (ytd). Peningkatan tekanan inflasi disebabkan oleh produksi bahan makanan yang menurun dan relatif meningkatnya permintaan pada beberapa jenis kebutuhan pokok masyarakat.

Stabilitas keuangan daerah masih terjaga dengan baik meskipun terdapat sedikit peningkatan risiko. Sumber kerentanan korporasi seperti perkembangan kondisi negara mitra dagang yang melambat dan harga komoditas global yang cenderung turun diperkirakan memberikan dampak negatif pada kinerja korporasi yang mengandalkan ekspor. Namun demikian, kinerja industri pengolahan logam tumbuh tinggi didorong oleh tingginya nilai tambah hilirisasi nikel yakni hot rolled coiled (HRC) dan cold rolled coiled (CRC). Secara umum, kondisi rumah tangga secara umum masih belum terlalu membaik setelah terjadinya bencana gempa, tsunami dan likuifaksi. Perkembangan indikator perbankan sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, namun risiko kredit macet perlu diwaspadai terutama pada LU perdagangan.

Sepanjang triwulan II 2019, perkembangan jumlah uang yang diedarkan KPw BI Sulawesi Tengah tercatat net outflow sebesar Rp 847,6 miliar. Sesuai polanya, kebutuhan uang kartal pada triwulan laporan cenderung dalam kondisi net outflow yang berarti bahwa jumlah uang kartal yang keluar dari kas Bank Indonesia baik melalui penarikan perbankan ataupun dropping kas titipan cenderung lebih banyak apabila dibandingkan uang kartal yangmasuk ke kas bank Indonesia. Transaksi keuangan secara non tunai yang mencakup transaksi yang menggunakan BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) secara total mengalami penurunan selama triwulan II 2019.

Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum relatif masih cukup baik. Meskipun tingkat pengangguran sedikit meningkat dari 3,19% per Februari 2018 menjadi 3,43% per Februari 2019, namun tingkat kemiskinan mengalami penurunan seiring dengan banyaknya bantuan yang diberikan pada periode pasca bencana. Rasio Gini Sulawesi Tengah juga dari 0,346 pada Maret 2018 menjadi 0,327 pada Maret 2019. Nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Tengah masih berada di bawah NTP Nasional. Perlu adanya peran lebih pemerintah/swasta untuk meningatkan pemberdayaan petani dengan mendorong lembaga jasa keuangan melalui hilirisasi produk pertanian, program ekstensifikasi dan intensifikasi, serta meningkatkan daya tawar petani melalui perbaikan kelembagaan dan pendampingan.

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH

Prospek perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2019 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Perekonomian Sulawesi Tengah diperkirakan berada pada kisaran 6,5% – 6,9% (yoy). Perbaikan pertumbuhan terutama didorong oleh perbaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pasca bencana serta didorong oleh masih stabilnya kinerja sektor ekternal Sulawesi Tengah. Roda perekonomian yang sebelumnya terdampak bencana, pada triwulan IV diperkirakan akan kembali normal atau mendekati level pertumbuhan ekonomi sebelum terjadinya bencana. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan masih tumbuh positif ditengah impor yang terus menurun. Selain itu, dari sisi belanja pemerintah juga diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang didukung oleh hasil panen di LU pertanian, perkebunan yang diperkirakan akan terus membaik.

Sementara itu, meskipun inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2019 diprakirakan menurun. Inflasi pada triwulan IV diprakirakan berada pada kisaran 3,3% - 3,7% (yoy). Angka inflasi ini masih berada pada target sasaran inflasi nasional 2019 yang sebesar 3,5±1%. Tekanan inflasi secara keseluruhan tahun cukup tinggi namun karena adanya dampak base effect pascabencana pada akhir tahun angka inflasi diperkirakan rendah. Pada triwulan IV 2019 tekanan inflasi diprakirakan meningkat akibat adanya hari besar keagamaan dan libur sekolah serta tekanan pada inflasi bahan makan akibat cuaca yang tidak kondusif. Oleh karena itu tekanan inflasi dari sisi bahan makanan masih tetap menjadi perhatian terutama dari harga ikan segar. Selain karena disparitas harga ikan yang cukup signifikan dengan provinsi lain kondisi cuaca menjadi penyebab utama rendahnya suplai ikan segar pada triwulan IV 2019. Sedangkan dari sisi tanaman pangan, diperkirakan pasokan diperkirakan terkendali seiring produktivitas daerah yang terdampak bencana seperti Sigi dapat ditutupi oleh sentra produksi di Kabupaten lainnya. Pengaturan mengenai pasokan ini harus tetap menjadi fokus utama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tengah. Dari kelompok komoditas transportasi, tekanan tarif angkutan pesawat diperkirakan akan sedikit meningkat sesuai pola tahunannya meskipun sebelum telah mereda seiring turunnya batas atas pada triwulan II 2019.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel