Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Periode November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2018 tumbuh 6,46% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 6,20% (yoy). Dari sisi penawaran, peningkatan pertumbuhan diakibatkan meningkatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan yang berimbas pada sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pemerintah serta peningkatan kinerja pada ekspor. Sementara itu, pertumbuhan investasi mulai mengalami deselerasi seperti yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini diimbangi dengan menurunnya pertumbuhan impor yang sempat tinggi pada semester I 2018. Pada triwulan IV 2018, arah pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap positif meskipun mengalami sedikit perlambatan. Perlambatan tersebut diperkirakan lebih disebabkan oleh faktor bencana yang menerpa Sulawesi Tengah.

Sulawesi Tengah pada September 2018 tercatat 2,52% (yoy), lebih rendah dari Juni 2018 yang tercatat 3,61% (yoy). Penurunan inflasi disebabkan oleh meningkatnya pasokan ikan segar akibat naiknya hasil tangkap ikan. Selain itu, tarif angkutan udara juga mengalami penurunan cukup signifikan setelah periode peak season pasca lebaran. Tracking inflasi pada Desember 2018 diperkirakan meningkat pasca terjadinya bencana gempa yang sempat mengakibatkan menurunnya produksi dan terhambatnya distribusi pasokan barang kebutuhan masyarakat. Selain itu, tarif angkutan udara juga meningkat karena terbatasnya penerbangan di tengah tingginya arus evakuasi pada Oktober dan peak season libur Natal dan tahun baru.

Secara keseluruhan kondisi stabilitas keuangan daerah baik di sektor korporasi, rumah tangga maupun perbankan masih terjaga dengan baik. Beberapa sumber kerentanan korporasi dan rumah tangga menunjukkan perkembangan yang positif. Meskipun demikian, pergerakan harga komoditas sektor pertanian cukup mampu memberikan tekanan pada kinerja sektor pertanian. Di sisi lain, kinerja sektor industri pengolahan masih meningkat di tengah stabilnya kondisi negara mitra dagang utama. Sementara itu, perkembangan indikator perbankanmenunjukan perkembangan yang positif. Aset perbankan tumbuh 11,65% (yoy), sementara DPK tumbuh 8,03% (yoy) dan pertumbuhan kredit mencapai 10,91% (yoy). Tingkat non performing loan (NPL) juga masih rendah yakni 2,44% meskipun perkembangan NPL pada sektor perdagangan perlu diwaspadai lebih lanjut.

Hingga akhir triwulan III2018, realisasi pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja daerah. Berdasarkan data APBD 2018 sebelum perubahan, realisasi pendapatan APBD Sulawesi Tengah mencapai Rp2,95 triliun atau 77,05% dari pagu anggaran 2018 sebesar Rp3,83 triliun. Total realisasi belanja APBD mencapai Rp2,33 triliun atau 61,09% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3,82 triliun. Adapun pada triwulan laporan, persentase nilai realisasi belanja APBD sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tiga tahun sebelumnya yang mencapai 59,22%. Sementara itu, dari sisi APBN, realisasi belanja di Sulawesi Tengah tercatat 60,23% dari pagu anggaran Rp 11,01 triliun yang diikuti dengan realisasi dana desa yang telah mencapai Rp899,86 miliar atau 65,97% dari pagu anggaran Rp1,37 triliun.

Jumlah uang yang diedarkan Bank Indonesia di Sulteng tercatat net outflow. Sepanjang triwulan III 2018 perkembangan uang yang beredar di KPw BI Sulawesi Tengah tercatat net outflow. Hal ini sejalan dengan masih tingginya realisasi APBD dan APBN oleh Pemerintah Daerah untuk berbagai proyek barang dan jasa. Di samping itu, adanya tunjangan gaji ke-13 untuk PNS yang direalisasikan pada Juli 2018 mendorong tingginya kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal untuk keperluan konsumsi. Perayaan hari raya Idul Adha juga mendorong tingginya kegiatan konsumsi masyarakat yang menyebabkan banyaknya penarikan uang dari perbankan.

Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Sulawesi Tengah secara umum relatif membaik. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun dari 3,81% pada Agustus 2017 menjadi 3,43% pada periode Agustus 2018 seiring dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri pengolahan. Tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 14,14% pada Maret 2017 menjadi 14,01% pada Maret 2018 didukung perkembangan inflasi yang relatif terkendali pada periode laporan. Sementara itu, rasio gini Sulawesi Tengah pada Maret 2018 tercatat 0,346, semakin membaik jika dibandingkan posisi Maret 2017 yakni 0,355. Namun demikian, nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Tengah hingga September 2018 masih berada dibawah nilai 100 yakni 97,03. Untuk itu perlu upaya lebih dalam meningkatkan pemberdayaan petani, baik melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi, serta meningkatkan daya tawar petani melalui perbaikan kelembagaan.

Prospek perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan I 2019 diperkirakan akan mengalami perlambatan dibandingkan triwulan IV 2018. Perlambatan ekonomi pada periode ini masih merupakan dampak lanjutan dari bencana yang terjadi. Perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan I 2019 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,8%-5,2% (yoy). Pertumbuhan ke depan lebih ditopang oleh kinerja ekspor luar negeri yang masih terus meningkat serta kinerja konsumsi pemerintah dan lembaga nonprofit rumah tangga. Sedangkan, sektor konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan masih akan mengalami perlambatan. Faktor lain yang diperkirakan akan membantu peningkatan kinerja perekonomian Sulawesi Tengah adalah masa persiapan dan pelaksanaan Pemilu 2019. Berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia, tingkat Indeks Keyakinan Konsumen di Sulawesi Tengah masih berada pada zona optimis yang mengindikasikan optimisme masyarakat dalam berkonsumsi tetap terjaga.

Sementara itu, inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2019 diperkirakan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi pada triwulan I 2019 diperkirakan berada pada kisaran 3,2 - 3,6% (yoy). Faktor terkendalinya tekanan inflasi berasal dari upaya-upaya antisipasi TPID dalam menjaga ekspektasi dan pasokan komoditas kebutuhan pokok masyarakat. Dari sisi kelompok bahan makanan, dengan semakin jelasnya aturan perdagangan antar daerah yang mengharuskan pemenuhan kebutuhan domestik lebih didahulukan dibanding perdagangan antar daerah diharapkan mampu menahan gejolak harga. Tata cara dan pengawasan yang tepat seharusnya mampu mengatur produksi dan distribusi bahan makanan. Selain itu, produktivitas serta waktu tanam yang teratur juga harus mulai ditingkatkan.

Dari sisi kelompok bahan makanan, hasil tangkapan nelayan masih juga bergantung pada curah hujan. Oleh karena itu, fluktuasi hasil tangkap ikan juga akan mempengaruh fluktuasi harga ikan segar, sehingga perlu adanya alternatif pemenuhan protein dari ikan air tawar. Pola musiman pada awal tahun yang disertai dengan libur sekolah berpotensi meningkatkan permintaan tiket pesawat. Hal ini sesuai dengan pola musiman dimana tarif angkutan udara berpotensi naik.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel