​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah November 2017​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020
​​

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2017 mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 8,68% (yoy), mengalami akselerasi dari triwulan sebelumnya 6,61% (yoy). Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sangat dipengaruhi lima sektor utama yakni sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Kontribusi lima sektor utama terhadap total PDRB Sulawesi Tengah mencapai 75,56%. Sisanya sebanyak duabelas sektor hanya memiliki kontribusi 24,33%. ​​

Beberapa faktor menjadi justifikasi penyebab terjadinya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada trwiulan laporan. Sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan memiliki andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi yakni 4,54%. Smelter di wilayah Morowali dan sekitarnya yang telah berhasil memproduksi stainless steel ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan pada ekspor Sulawesi Tengah yang mampu tumbuh 41,59% (yoy). Tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan tersebut juga mendorong sektor pertambangan untuk tumbuh 18,94% (yoy) karena industri pengolahan di Sulawesi Tengah membutuhkan input dari sektor pertambangan. Disamping kuatnya permintaan dari industri dalam negeri, harga nikel yang sempat menyentuh level tertinggi selama dua tahun terakhir (12.380 dolar AS per metric ton) menjadi faktor pendorong lain tingginya pertumbuhan sektor pertambangan. ​​

Walaupun demikian, terdapat perlambatan khususnya dari sektor pertanian dikarenakan beberapa harga komoditas dari subsektor perkebunan (perkebunan memiliki share tertinggi, 40,86% terhadap sektor pertanian) seperti kelapa sawit dan kakao yang mengalami penurunan. Sektor perdagangan pada triwulan laporan hanya mampu tumbuh 3,88% (yoy). Hal ini dikarenakan turunnya penjualan kendaraan bermotor pada triwulan laporan. Perlambatan sektor perdagangan juga searah dengan perlambatan konsumsi rumah tangga yang juga hanya tumbuh 6,62% (yoy). Pembayaran gaji ke-13 yang jatuh pada bulan Juli nampaknya belum mampu mengakselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga Sulawesi Tengah. ​​

Inflasi tahunan Kota Palu pada akhir triwulan III 2017 tercatat 4,61% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahunan pada triwulan sebelumnya 5,23% (yoy). Terkendalinya inflasi pada triwulan III 2017 tidak lepas dari faktor meningkatnya penawaran beberapa komoditas pangan. Relatif stabilnya curah hujan mengakibatkan tidak adanya gangguan pada pasokan komoditas pangan. Dari sisi permintaan, terdapat indikasi tingkat permintaan masyarakat cenderung stabil pada triwulan laporan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini dapat dikonfirmasi dari indeks tendensi konsumen Sulawesi Tengah yang relatif menurun dari 106,42 pada triwulan II 2017 ke level 104,75 pada triwulan III 2017 . Penurunan kepercayaan konsumen juga dikonfirmasi oleh Indeks Keyakinan Konsumsi yang juga turun menjadi 139,67 dimana pada triwulan sebelumnya berada pada posisi 140,5. Turunnya kedua indeksi ini merupakan salah satu indikator dari tertahannya permintaan konsumen terhadap pembelian barang dan jasa dan diperkirakan menjadi salah satu faktor penahan meningkatnya inflasi inti (core Inflation). ​​

Secara keseluruhan kondisi stabilitas keuangan daerah baik di sektor korporasi, rumah tangga maupun perbankan masih terjaga dengan baik. Meskipun demikian, terdapat beberapa sumber kerentanan yang masih perlu menjadi perhatian bagi Stabilitas Keuangan Daerah di Sulawesi Tengah. Perlambatan tingkat konsumsi memberikan tekanan pada sektor korporasi di Sulawesi Tengah khususnya kepada sektor perdagangan. Hal ini dapat memberikan dampak pada ketahanan rumah tangga akrena sektor perdagangan merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi setelah sektor pertanian. Sementara itu, indikator perbankan semakin membaik setelah pertumbuhan kredit dan DPK pada triwulan laporan mengalami akselerasi dengan rasio kredit macet yang terkendali. ​​

Dari aspek keuangan daerah, Hingga akhir Triwulan III 2017 realisasi pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja daerah. Realisasi pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp2.492,02 miliar atau 69,39% dari pagu anggaran 2017 sebesar Rp3.591,486 miliar. Disisi lain, total realisasi belanja daerah mencapai Rp1.980,26 miliar atau 55,16% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3.599,70 miliar. Persentase realisasi belanja Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mampu mencapai 65,67%. Salah satu faktor penyebab menurunnya realisasi belanja pemerintah adalah perubahan numenklatur dan adanya peleburan ataupun perampingan kelembagaan dalam instasi daerah di tahun 2017, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan administrasi dan susunan anggaran di awal tahun. Sementara itu, realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah relatif stabil dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan laporan, jumlah total belanja APBN mencapai Rp2.555,25 miliar, dengan tingkat serapan anggaran 23,13% dari total pagu belanja Rp10.921 miliar. Dengan demikian, angka rasio kemandirian hanya mencapai 35,57 poin atau masih berada di bawah triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mampu mencapai 40,57 poin. ​​

Perkembangan dari sistem pembayaran, nominal transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan di sisi inflow tetapi mengalami penurunan di sisi outflow jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Nominal outflow pada triwulan laporan mencapai Rp697,08 miliar, lebih tinggi dibandingkan outflow triwulan II 2017 sebesar Rp2150,03 miliar. Sedangkan inflow justru mengalami peningkatan menjadi Rp1.117,10 miliar dari Rp311,15 miliar di triwulan II 2017. Sesuai dengan tren tahun sebelumnya, nilai outflow mengalami penurunan di triwulan III seiring dengan menurunnya pengeluaran masyarakat setelah perayaan hari Raya Idul Fitri. ​​

Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum relatif menurun namun masih dalam prospek yang optimis. Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2017 mencapai 1,42 juta orang atau lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2016 yang tercatat sebanyak 1,51 juta orang ataupun periode Februari 2016 yang mencapai 1,49 juta orang. Penurunan jumlah angkatan kerja yang disertai dengan peningkatan jumlah pengangguran menyebabkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 3,29% pada Agustus 2016 menjadi 3,81% pada periode Agustus 2017. Secara spasial, tingkat pengangguran tertinggi berada di Kota Palu 6,56%, diikuti dengan Kabupaten Sigi 5,29% dan Kabupaten Buol 4,4%. Secara sektoral, sektor pertanian, perdagangan, dan jasa kemasyarakatan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dengan pangsa masing-masing sebesar 44,3%, 15,86% dan 20,21%. ​​

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH ​​

Memperhatikan kondisi perekonomian saat ini dan prospeknya ke depan, kami memproyeksikan perekonomian Sulteng pada triwulan III 2017 akan tumbuh di kisaran 10,2%-10,5% (yoy); sementara prospek perekonomian Sulteng secara keseluruhan 2017 diprediksikan masih cukup baik meski tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7,1-7,5% (yoy). Kami optimis perkembangan konsumsi rumah tangga dan produksi sektor pertanian kami perkirakan meningkat. Optimisme pada sektor pertanian ini ditunjang dengan upaya positif dari pemerintah daerah khususnya dalam melakukan pembenahan kualitas bibit, metode tanam, serta perbaikan infrastruktur irigasi, jalan dan bandara, sehingga konektivitas antar daerah semakin baik. Di samping itu, sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan diperkirakan masih memberikan kontribusi yang cukup besar melalui produksi LNG dan nikel olahan, sehingga mampu memenuhi permintaan ekspor luar negeri dan menjadi penggerak perekonomian yang dominan dari sisi permintaan. ​​

Pada triwulan IV 2017 tekanan inflasi diperkirakan sedikit mengalami peningkatan, namun melalui upaya penguatan koordinasi TPID dan peningkatan kerjasama antar daerah (antar Kab/Kota di Sulteng) diharapkan dapat mengendalikan dan menjaga pasokan maupun tingkat harga komoditas pangan strategis. Tekanan inflasi diperkirakan lebih dipengaruhi oleh harga kelompok administered prices yang diperkirakan mengalami peningkatan tarif angkutan udara sebagai dampak meningatnya jumlah penumpang menjelang natal dan tahun baru. Meningkatnya permintaan diharapkan dapat diimbangi dengan tambahan jadwal penerbangan oleh maskapai sehingga dampak peningkatan harga tarif angkutan udara bisa sedikit diredam. Selain itu, pola hasil tangkapan ikan laut yang selalu menurun dari Oktober – Desember menyebabkan pasokan ikan segar akan berkurang. Kondisi ini berpotensi menyebabkan ahrga ikan segar akan kembali naik pada Desember 2017. ​​

Dengan mempertimbangkan banyaknya tantangan yang dihadapi Sulteng, kami masih tetap optimis inflasi pada akhir 2017 berdasarkan asesmen per Oktober 2017 akan dapat dikendalikan di kisaran 4,60 – 4,80% (yoy), meski perkiraan ini jauh lebih tinggi dari inflasi tahun sebelumnya 1,49% (yoy). Angka proyeksi yang berada di atas batas angka maksimal tersebut, kami tetapkan setelah mempertimbangkan pengaruh dari kebijakan kenaikan tarif listrik pada awal 2017 dan meningkatnya tarif angkutan udara menjelang natal dan tahun baru. Selain itu, proyeksi juga telah mempertimbangkan potensi penurunan pasokan ikan segar pada Desember 2017 yang disebabkan siklus iklim yang berpengaruh pada gelombang air laut yang tinggi. ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel