Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Mei 2018​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI REGIONAL
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2018 mengalami perlambatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi tercatat 6,62% (yoy), melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya 9,15% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini sesuai dengan polanya selama ini, yang dikarenakan adanya perlambatan konsumsi di setiap awal tahun bila dibandingkan dengan akhir tahun. Perlambatan ini disebabkan melambatnya pertumbuhan sektor pertanian (memasuki masa tanam) yang merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Sulawesi Tengah. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 123,17 pada Maret 2018 dari Desember 2017 sebesar 137. Selain itu, pada awal tahun belanja pemerintah juga masih belum terlalu besar. Namun ditengah penurunan konsumsi, Sulawesi Tengah masih berhasil mencatatkan angka pertumbuhan investasi dan ekspor yang relatif tinggi, seiring dengan kecenderungan membaiknya harga komoditas andalan Sulawesi Tengan di pasar internasional seperti nikel, stainless steel dan LNG

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi kontributor utama pertumbuhan Sulawesi Tengah. Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian mencapai 15,43% yang tertinggi diantara sektor lainnya selama triwulan I 2018. Terjaganya permintaan dari negara mitra dagang atas LNG dan komoditas nikel beserta turunannya, berdampak positif pada kinerja sektor pertambangan dan penggalian sebagai pemasok bahan baku, sehingga memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sektor lain yang juga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar adalah sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan serta sektor infomasi dan komunikasi. Industri pengolahan mencatatkan angka pertumbuhan yang cukup besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kapasitas pabrik dari berbagai industri pengolahan utama seperti smelter nikel di Morowali dan pengolahan LNG di Banggai telah berjalan hingga 100%. Namun sektor pertanian sebagai penyangga utama atau memiliki share terbesar terhadap perekonomian Sulawesi Tengah, laju pertumbuhannya mengalami perlambatan. Sedangkan sektor konstruksi yang pada tahun triwulan sebelumnya menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan, pada triwulan I 2018 mengalami pertumbuhan yang relatif rendah.

Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2018 tercatat 2,71% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 4,33% (yoy). Penurunan inflasi pada triwulan laporan tidak lepas dari tercukupinya pasokan komoditas pangan secara umum. Relatif stabilnya curah hujan di sepanjang triwulan I berdampak positif pada pasokan komoditas pangan khususnya untuk subkelompok bumbu-bumbuan dan ikan segar. Selain itu, dari sisi permintaan juga terdapat indikasi penurunan konsumsi masyarakat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari IKK di atas.

Secara keseluruhan kondisi stabilitas keuangan daerah baik di sektor korporasi, rumah tangga maupun perbankan terjaga dengan baik. Meskipun demikian, terdapat beberapa sumber kerentanan yang perlu mendapatkan perhatian terutama di sisi ekspor agar stabilitas keuangan daerah di Sulawesi Tengah tetap terjaga baik. Secara umum indikator kinerja perbankan terlihat semakin membaik setelah pertumbuhan kredit dan DPK pada triwulan laporan mengalami akselerasi, dengan rasio kredit bermasalah tetap terjaga baik.

Dari aspek keuangan daerah, capaian realisasi belanja pada triwulan I 2018 belum berjalan optimal. Sebenarnya pemerintah provinsi Sulawesi Tengah berhasil merealisasikan pendapatan daerah lumayan tinggi sebesar Rp845,81 miliar atau 22,01% dari pagu anggaran 2018 sebesar Rp3.827,98 miliar. Namun hanya mampu merealisasikan belanja daerah sebesar Rp375,50 miliar atau 9,82% dari yang dianggarkan sebesar Rp3.823,2 miliar. Salah satu faktor penyebab rendahnya realisasi belanja adalah keterlambatan realisasi uang persediaan (UP) dan proses lelang beberapa proyek pemerintah yang berjalan lambat. Disisi lain, realisasi belanja APBN yang dialokasikan di Sulawesi Tengah juga masih rendah yakni sebesar Rp1.173,66 miliar atau 11,16% dari total pagu anggaran Rp10.571,60 miliar. Namun secara persentase pencapaian ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya terserap 7,44%.

Sepanjang triwulan I 2018 perkembangan uang kartal yang diedarkan ke masyarakat dan tercatat di Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah mengalami net inflow. Sesuai polanya selama ini, jumlah aliran uang yang tercatat masuk (inflow) lebih besar bila dibandingkan dengan yang keluar (outflow), sehingga pada triwulan I terdapat net inflow sebesar Rp842,25 miliar. Hal ini mengindikasikan kebutuhan uang kartal untuk transaksi pembayaran mengalami penurunan, yang diantaranya dikarenakan realisasi belanja Pemerintah pada triwulan ini juga belum berjalan maksimal, karena berbagai proyek barang dan jasa masih dalam tahap pengadaan. Jumlah uang yang masuk pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp1.303,19 miliar, atau meningkat 248,09% bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp374,38 miliar, sementara jumlah uang yang keluar tercatat sebesar Rp460,94 miliar, atau turun -77,19% bila dibandingkan dengan triwulan IV 2017 sebesar Rp2.020,75 miliar. Sedangkan jumlah temuan uang yang diragukan keasliannya dan tercatat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2018 sebanyak 92 lembar, yang berarti mengalami penurunan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebanyak 119 lembar. Uang yang diragukan keasliannya tersebut terdiri dari uang pecahan Rp100.000,00 sebanyak 48 lembar dan uang pecahan Rp50.000,00 sebanyak 40 lembar.

Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah pada triwulan I 2018 secara umum menurun. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2018 mencapai 3,19%, sedikit lebih tinggi dari rata-rata Februari dalam 3 tahun terakhir 3,14%. Namun jika dibandingkan dengan 2,97% di Februari 2017 terlihat mengalami peningkatan. Meningkatnya tingkat pengangguran ini dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kemiskinan, karena berdasarkan data yang tersedia terakhir, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada September 2017 tercatat sebanyak 423.270 jiwa atau 14,22% dari seluruh penduduk Sulawesi Tengah. Hal ini berarti ada kecenderungan sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan posisi Maret 2017 yang tercatat 14,14%. Di sisi lain, nilai tukar petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah pada Maret 2018 berada pada level 97 poin, lebih baik bila dibandingkan dengan Desember 2017 yang berada di level 96,01. Kenaikan NTP didorong oleh perbaikan harga komoditas yang dihasilkan oleh petani pada triwulan ini, terutama harga produk dari subsektor perkebunan dan tabama. Sementara itu, tingkat ketimpangan pendapatan yang dicerminkan dari sisi pengeluaran penduduk Sulawesi Tengah terlihat semakin membaik. Pada September 2017, angka Gini ratio berada pada level 0,345, lebih baik dari Maret 2017 yang masih berada di level 0,355. Berdasarkan perkembangan data terakhir tersebut, menurut kriteria Oshima, dapat disimpulkan bahwa tingkat ketidakmeratan pengeluaran di Sulawesi Tengah telah berada pada level rendah atau semakin membaik.

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH
Prospek perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan III 2018 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan II 2018. Pada triwulan III 2018 perekonomian diperkirakan tumbuh masing-masing berada pada kisaran 7,4% - 7,8% (yoy). Optimisme ini tidak terlepas dari semakin meningkatnya kinerja perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Morowali (nickel pig iron / NPI) dan masih stabilnya kinerja indstri LNG di Banggai, sehingga dari sisi eksternal ekspor kedepan diperkirakan akan memberikan kontribusi yang semakin tinggi. Selain itu, pada triwulan III 2018 diperkirakan pemerintah akan mampu merealisasikan belanja yang cukup besar, sehingga akan memberikan multiplier efek yang tidak sedikit terhadap peningkatan konsumsi masyarakat. Kontribusi sektor pertanian diperkirakan juga cukup tinggi di triwulan III 2018. Disamping itu, diperkirakan pada triwulan III 2018 juga akan terdapat peningkatan kapasitas produksi di sektor industri manufaktur, seiring dengan berakhirnya tahap komisioning sejumlah perusahaan baru, yang berarti produksi akan semakin meningkat, sehingga ekspor diperkirakan juga meningkat. Secara tahunan perekonomian diproyeksikan tumbuh di kisaran 7,30 – 7,70% (yoy).

Sementara itu, inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2018 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi pada triwulan III diperkirakan berada pada kisaran 3,2 - 3,6% (yoy). Dari volatile foods, dispasritas harga ikan yang cukup signifikan dengan provinsi lain masih berpotensi menjadi penyebab kurangnya pasokan meskipun hasil tangkap ikan di Sulawesi Tengah tinggi. Hal ini disebabkan tingginya hasil tangkapan nelayan yang dikirim ke provinsi lain. Selain itu, pada triwulan III 2018, beberapa komoditas bumbu-bumbuan juga tengah memasuki periode tanam. Dari administered prices, diperkirakan masih akan terdapat penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi, seiring dengan kecenderungan kenaikan harga minyak dunia. Namun demikian, inflasi pada komoditas inti diperkirakan akan stabil seiring penyesuaian setelah momen perayaan lebaran.

Untuk mengeliminir atau meminimalisir dampak negatif dari beberapa faktor tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Tim Satgas Pangan dari Kepolisian Daerah perlu mengantisipasi dengan mengambil langkah-langkah konkrit, terutama dalam upaya menjamin kecukupan pasokan barang dan jasa, yang diantaranya dilakukan melalui sidak ke pasar-pasar guna memastikan efektifitas penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), sidak ke pedagang besar/grosir agar tidak terdapat penimbunan, menggelar pasar murah, melakukan operasi pasar terutama beras, serta bekerjasama dengan Kementerian dan pihak maskapai guna mengendalikan harga tiket pesawat udara. Disamping itu juga perlu dilakukan himbauan kepada masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak panic buying. Melalui berbagai upaya yang dilakukan tersebut, diharapkan secara tahunan inflasi Sulawesi Tengah akan dapat dikendalikan pada kisaran yang ditetapkan yakni 3,5 +/- 1%.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel