Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Periode Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
PERKEMBANGAN  MAKRO EKONOMI  REGIONAL
Secara tahunan, Ekonomi Sulteng pada 2018 tumbuh 6,30% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan 2017 yang tercatat 7,10% (yoy). Realisasi pertumbuhan tersebut sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia Sulteng yakni di kisaran 6,1 – 6,5% (yoy). Sementara itu, secara triwulanan, pada triwulan IV 2018, ekonomi tumbuh 5,37% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 7,05% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh faktor gempa, tsunami dan likuifaksi yang menjadi faktor utama penghambat pertumbuhan ekonomi khususnya pada sektor perdagangan, akomodasi dan pertanian. Disisi lain, sektor yang menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi adalah industri pengolahan dan pertambangan yang ditopang oleh produk gas amonia dan hilirisasi lanjutan stainless steel yakni hot rolled coiled (HRC) & cold rolled coiled (CRC). 
Pencapaian realisasi belanja APBD pada 2018 tercatat 90,76% dari pagu anggaran Rp 3.996,47 miliar, atau lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir 97,70%. Hal ini dapat dipahami mengingat terdapat berbagai kendala yang menghambat proses realisasi pada periode pasca bencana. Sementara itu, realisasi pendapatan APBD mencapai lebih dari 100% yang salah satunya disebabkan adanya bantuan keuangan dari pemerintah daerah lain untuk penanganan bencana. Realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah mencapai 94,14% dari pagu anggaran Rp 11.183 miliar. Tingginya angka realisasi ini terutama didorong oleh adanya dispensasi dari Kemenkeu pusat dalam bentuk kelonggaran persyaratan  administrasi pada daerah yang terdampak bencana. Sementara itu, realisasi penyaluran Anggaran Dana Desa terserap hingga 100%, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan yang sifatnya bottom-up.
Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2018 tercatat 6,46% (yoy), lebih tinggi dari triwulan III 2018  2,52% (yoy). Peningkatan inflasi disebabkan oleh faktor force majeur (bencana gempa, tsunami, & likuifaksi) yang menyebabkan menurunya produksi, terhambatnya distribusi dan meningkatnya permintaan pada beberapa jenis kebutuhan pokok masyarakat. Tracking inflasi pada triwulan I 2019 diperkirakan akan sedikit menurun dibandingkan triwulan IV 2018. Produksi pertanian diperkirakan akan meningkat dan hambatan distribusi barang-barang sedikit mereda akibat perbaikan infrastruktur perhubungan seperti Pelabuhan. Selain itu, tarif angkutan udara diperkirakan akan sedikit mengalami penyesuain, seiring masuknya periode low season.
Stabilitas keuangan daerah masih terjaga dengan baik meskipun terdapat sedikit peningkatan resiko. Beberapa sumber kerentanan korporasi seperti kondisi negara mitra dagang dan perkembangan harga komoditas global mengalami penurunan pada triwulan laporan. Hal ini tentunya perlu dicermati lebih lanjut karena tentunya akan berdampak negatif terhadap kinerja industri pengolahan yang melakukan ekspor. Disamping itu, terjadinya bencana gempa, tsunami dan likuifaksi juga menjadi eksternalitas negatif yang mengakibatkan optimisme rumah tangga mengalami penurunan. Sementara itu, perkembangan indikator perbankan seperti pertumbuhan aset dan kredit mengalami perlambatan. Namun demikian, perkembangan rasio kredit bermasalah masih terkendali dalam level yang rendah yakni 1,95%.
Jumlah uang yang diedarkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah tercatat net outflow sebesar Rp1.807 miliar (inflow : Rp407 miliar dan outflow : Rp2.214 miliar). Hal ini sejalan dengan masih kuatnya transaksi secara tunai seiring dengan tingginya realisasi APBD dan APBN yang dialokasikan di Sulawesi Tengah. Selain itu, pada triwulan laporan juga terdapat perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru yang menyebabkan konsumsi masyarakat meningkat dan kebutuhan uang kartal untuk transaksi pembayaran juga meningkat. Meskipun demikian, pertumbuhan net outflow pada triwulan IV 2018 tercatat hanya 9,76 (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya 13,06% (yoy). Hal ini tentunya disebabkan oleh faktor bencana alam yang menyebabkan permintaan uang kartal relatif menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum relatif menurun namun masih dalam prospek yang optimis. tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun dari 3,81% pada Agustus 2017 menjadi 3,43% padaperiode Agustus 2018. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan seiring dengan membaiknya kinerja sektor pertanian pada periode laporan (September 2018). Rasio Gini Sulawesi Tengah pada September 2018 sebesar 0.317, menurun jika dibandingkan posisi September 2017 yakni 0.345. Sementara itu, nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Tengah masih berada di bawah NTP Nasional. Untuk itu perlu upaya lebih dalam meningkatkan pemberdayaan petani, baik melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi, serta meningkatkan daya tawar petani melalui perbaikan elembagaan.
PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH
 
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2019 diprakirakan membaik namun secara keseluruhan tahun 2019 diprakirakan akan lebih rendah dibanding 2018. Dengan mempertimbangkan indikator ekonomi domestik, kondisi ekonomi serta perkembangan konstelasi global, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2019 diprakirakan mengalami perbaikan dalam kisaran 6,3-6,7% (yoy). Sedangkan untuk keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah diprakirakan sedikit melambat dalam kisaran 6,0-6,4% (yoy). Membaiknya perekonomian pada triwulan II 2019 didorong oleh beberapa faktor antara lain perbaikan sektor konsumsi rumah tangga yang sempat melambat pascabencana, tingkat investasi yang semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai berjalan secara masif dan pengembangan pabrik pengolahan baru. Dari sisi ekternal, tingkat ekspor diprakirakan masih berada pada level yang tinggi meskipun akan mengalami perlambatan. Tingkat impor diprakirakan masih akan tumbuh tinggi seiring masih kuatnya impor barang modal pendukung serta impor bahan baku industri stainless steel. Meskipun impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas, net ekspor diperkirakan masih akan menghasilkan surplus.
Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2019 diperkirakan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasipada triwulan II 2019 diperkirakan berada pada kisaran 4,6 - 5,0% (yoy). Tingkat inflasi yang melebihi target ini lebih disebabkan oleh faktor base effect, jika dillihat perkembangan inflasi secara year to date tingkat inflasi pada triuwlan II 2019 hanya sebesar 1,61%. Angka tersebut masih cukup jauh dari target inflasi Nasional sebesar 3,5±1% (yoy). Hingga triwulan II 2019, tingkat inflasi diprakirakan lebih terkendali seiring perbaikan perekonomian di Sulawesi Tengah. Selain itu, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tengah juga akan meningkatkan koordinasi melalui level teknis dan kebijakan/high level meeting untuk menjaga ketersediaan stok pangan guna meminimalisir gejolak harga. Dari sisi kelompok bahan makanan, aturan dan tata cara serta pengawasan yang tepat seharusnya mampu mengatur produksi dan distribusi bahan makanan. Selain itu, upaya peningkatan produktivitas dan pengaturan waktu tanam harus segera dijalankan, agar kontinuitas pasokan tetap terjaga di sepanjang tahun. Dari sisi infasi inti, diperkirakan tekanan masih akan terjadi namun dengan level yang lebih moderat. Sedangkan dari sisi administered price, diperkirakan tidak mengalami perubahan kebijakan yang menyebabkan peningkatan harga
 
 
.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel