Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Periode Februari 2018​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

​​PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI REGIONAL ​

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2017 mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 9,15% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 8,73% (yoy). Dengan demikian, pertumbuhan tahunan 2017 tercatat 7,14% (yoy), sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mampu tumbuh 9,98% (yoy). Secara sektoral, laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sangat dipengaruhi laju pertumbuhan dari lima sektor utama yakni sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Kontribusi kelima sektor utama tersebut terhadap total PDRB Sulawesi Tengah mencapai 75,88%. Sisanya sebanyak dua belas sektor lainnya hanya memiliki kontribusi 24,12%.

Beberapa faktor menjadi justifikasi penyebab akselerasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan laporan. Tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan sangat dipengaruhi pertumbuhan dari sektor Industri Pengolahan. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan smelter di wilayah Morowali dan sekitarnya dalam memproduksi stainless steel sehingga memberikan dampak cukup signifikan pada pertumbuhan ekspor Sulawesi Tengah yang pada triwulan ini mengalami akselerasi hingga 163,15% (yoy). Tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan tersebut turut mendorong sektor pertambangan hingga mampu tumbuh 21,78% (yoy) karena input/bahan baku industri pengolahan dipasok dari sektor ini. Disamping kuatnya permintaan dari industri pengolahan dalam negeri, harga nikel yang meningkat (USD12.250 /metric ton) per Desember 2017 menjadi faktor pendorong lain tingginya pertumbuhan pada sektor pertambangan. Tingginya pertumbuhan ekonomi di sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan berdampak pada pemberian andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yakni 5,04%. Sementara itu, sektor konstruksi juga mengalami akselerasi 6,45% (yoy) karena masih berlanjutnya beberapa proyek swasta dan pemerintah. Disisi lain, pertumbuhan sektor perdagangan juga mulai meningkat 6,58% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya hanya mampu tumbuh 3,88% (yoy).

Namun demikian, laju pertumbuhan salah satu sektor penopang perekonomian yakni sektor pertanian mengalami perlambatan. Perlambatan juga dikarenakan beberapa harga komoditas dari subsektor perkebunan yang memiliki share tertinggi terhadap sektor pertanian (40,86%) mengalami penurunan, sebagai contoh kelapa sawit. Harga kelapa sawit mengalami penurunan -10,92% jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selain itu, proses replanting terkait peremajaan usia tanaman khususnya kelapa sawit juga masih berlangsung sehingga menurunkan. Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian mengingat tingginya persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor ini mencapai 44,3% dari total tenaga kerja Sulawesi Tengah.

Inflasi tahunan Sulawesi Tengah pada akhir triwulan IV 2017 tercatat 4,33% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahunan pada triwulan sebelumnya 4,61% (yoy). Semakin terkendalinya inflasi pada triwulan IV 2017 tidak lepas dari tercukupinya pasokan komoditas pangan termasuk ikan segar meskipun pada Desember harga subkelompok ini naik. Relatif stabilnya curah hujan mengakibatkan tidak adanya gangguan pada pasokan komoditas pangan khususnya pada subkelompok bumbu-bumbuan. Dari sisi permintaan, terdapat indikasi tingkat permintaan masyarakat cenderung menurun pada triwulan laporan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini dapat dikonfirmasi dari indeks keyakinan konsumsi Sulawesi Tengah yang relatif menurun dari 140 pada triwulan III 2017 ke level 137 pada triwulan laporan. Keyakinan konsumen dalam berkonsumsi juga menurun.

Secara keseluruhan kondisi stabilitas keuangan daerah baik di sektor korporasi, rumah tangga maupun perbankan masih terjaga dengan baik. Meskipun demikian, terdapat beberapa sumber kerentanan yang masih perlu menjadi perhatian bagi stabilitas keuangan daerah di Sulawesi Tengah. Menurunya harga komoditas pertanian memberikan tekanan pada sektor korporasi di Sulawesi Tengah khususnya kepada sektor pertanian. Hal ini dapat memberikan dampak pada ketahanan rumah tangga karena sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi di Sulawesi Tengah. Sementara itu, indikator perbankan semakin membaik setelah pertumbuhan kredit dan DPK pada triwulan laporan mengalami akselerasi dengan rasio kredit macet yang juga semakin terkendali.

Dari aspek keuangan daerah, selama 2017 realisasi pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja daerah. Realisasi pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp3.653,09 miliar atau 98,27% dari pagu anggaran 2017 sebesar Rp3.699,08 miliar. Persentase nilai realisasi pendapatan pada triwulan IV 2017 ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata periode yang sama tiga tahun sebelumnya yang mencapai 98,15%. Disisi lain, Total realisasi belanja daerah mencapai Rp3.354,76 miliar atau 90,29% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3.715,59 miliar. Persentase realisasi belanja Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu mencapai 103,64%. Salah satu faktor penyebab menurunnya realisasi belanja pemerintah adalah perubahan numenklatur dan adanya peleburan ataupun perampingan kelembagaan dalam instasi daerah di 2017, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan administrasi dan susunan anggaran di awal tahun. Sementara itu, Realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah mencapai Rp10.291,32 miliar, atau 94,81% dari total pagu anggaran Rp10.584,58 miliar. Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya terserap 84,84 persen.

Perkembangan dari sistem pembayaran, nominal transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami penurunan di sisi inflow namun mengalami peningkatan di sisi outflow jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Nominal outflow pada triwulan laporan tercatat Rp2.020,75 miliar, lebih tinggi 189,89% dibandingkan outflow triwulan III 2017 sebesar Rp697,08 miliar. Sedangkan inflow pada triwulan laporan tercatat Rp374,38 miliar, turun 66,49% dari triwulan sebelumnya yang tercatat Rp1.117,10 miliar. Sesuai dengan tren tahun sebelumnya, nilai outflow mengalami peningkatan di triwulan IV seiring dengan meningkatnya pengeluaran masyarakat dalam rangka hari raya Natal dan Tahun Baru. Jumlah temuan uang yang diragukan keasliannya di Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2017 menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Melalui laporan perbankan dan masyarakat Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2017, ditemukan 119 lembar yang berarti meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 66 lembar. Sepanjang tahun 2017, total akumulasi uang yang diragukan keaslianya mencapai 393 lembar dengan pecahan Rp50.000,00 menjadi pecahan yang paling banyak diragukan keasliannya dengan jumlah 247 lembar.

Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum relatif menurun namun masih dalam prospek yang optimis. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 3,29% pada Agustus 2016 menjadi 3,81% pada periode Agustus 2017. Secara spasial, tingkat pengangguran tertinggi berada di Kota Palu 6,56%, diikuti dengan Kabupaten Sigi 5,29% dan Kabupaten Buol 4,4%. Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada September 2017 tercatat sebanyak 423.270 jiwa atau 14,22% dari seluruh penduduk Sulawesi Tengah. Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dari posisi Maret 2017 yang tercatat 14,14%. Disisi lain, nilai tukar petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah Desember 2017 berada pada level 96,01 poin, meningkat dibandingkan level di September lalu yang berada di level 94,43. Selain itu, ketimpangan pengeluaran penduduk Sulawesi Tengah sedikit menurun pada September 2017. Gini ratio Sulawesi Tengah berada pada level 0,345 pada September 2017, sedikit menurun jika dibandingkan Maret 2017 yang berada di level 0,355. Dengan demikian berdasarkan kriteria Oshima (1976), tingkat ketidakmeratan pengeluaran Sulawesi Tengah telah berada pada level ketimpangan rendah.

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH

Bila dianalisis menggunakan pola pertumbuhan lima tahun terakhir, pada triwulan I 2018 perekonomian Sulawesi Tengah diperkirakan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah diperkirakan akan berada dikisaran 6,5 – 6,9% (yoy), Secara kuartalan, pola pertumbuhan ekonomi pada triwulan I selalu lebih rendah dari triwulan IV. Hal ini dikarenakan dari faktor musiman khususnya dari konsumsi masyarakat dan siklus realisasi belanja pemerintah yang biasanya belum terlalu ekspansif pada triwulan pertama. Selain itu, ketidakpastian produksi perdana gas amonia pada triwulan I 2018 juga masih cukup tinggi . Namun demikian, optimalisasi kapasitas produksi stainless steel akan menjadi kunci motor penggerak ekonomi Sulawesi Tengah pada awal tahun 2018 ini.

Pada triwulan I 2018, inflasi di Sulawesi Tengah diperkirakan berada pada kisaran 2,96 – 3,36 % (yoy). Inflasi tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi triwulan IV 2017 yang tercatat 4,33% (yoy). Dari kelompok volatile foods, tekanan inflasi diperkirakan tidak setinggi triwulan sebelumnya. Beberapa harga subkelompok ikan segar diperkirakan akan kembali stabil seiring dengan hasil tangkap ikan segar yang diperkirakan meningkat. Meskipun demikian, komoditas beras perlu menjadi perhatian seiring dengan isu kenaikan harga beras secara nasional yang akan mempengaruhi ekspektasi masyarakat walaupun pasokan beras di Sulawesi Tengah sebenarnya masih aman. Dari kelompok administred price, prospek inflasi sedikit optimis setelah pemerintah telah memastikan tidak akan ada kenaikan pada tarif dasar listrik, BBM dan gas LPG 3 kg hingga akhir Tw IV 2017. Namun demikian, terdapat kenaikan bea cukai rokok yang mencapai 10,04% pada awal 2018. Hal ini menyebabkan komoditas rokok menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2018. Dari inflasi inti, sebagian besar kelompok komoditas ini stabil meskipun subkelompok biaya tempat tinggal biasanya cenderung meningkat seiring adanya penyesuaian harga awal tahun.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel