Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020
​Aktivitas ekonomi Sulsel mengalami ekspansi pada triwulan II 2019 didorong kuatnya permintaan domestik. Perekonomian tumbuh 7,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan I 2019 (6,5%; yoy). Pertumbuhan didorong oleh konsumsi domestik dan investasi. Konsumsi masyarakat yang meningkat saat HBKN Idul Fitri, penyelenggaraan pesta demokrasi serta kenaikan tunjangan ASN menjadi faktor utama. Investasi juga bertumbuh lebih tinggi menyusul suasana kondusif pesta demokrasi, sementara kinerja sektor  eksternal mengalami kontraksi sejalan rendahnya ekspor nikel yang pangsanya mencapai sekitar 50%. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang terutama lapangan usaha perdagangan, industri pengolahan, pertanian dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,6%, 1,5% dan 1,2%. Adapun informasi dan komunikasi merupakan lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,2% (yoy) dengan andil terhadap pertumbuhan sebesar 0,9% sedikit lebih rendah dari andil lapangan usah konstruksi sebesar 1,0%.
 
Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2019 diperkirakan tetap kuat. Meski melambat, namun perekonomian Sulsel diperkirakan tetap terjaga pada kisaran 6,8% - 7,2%. Terjaganya perekonomian Sulsel didorong meningkatnya investasi sejalan dengan peningkatan kinerja lapangan usaha konstruksi mengejar penyelesaian target akhir tahun proyek pembangunan fisik. Selain itu, penguatan ekonomi juga karena membaiknya kinerja lapangan usaha pertambangan sehingga memperbaiki kinerja ekspor luar negeri menyusul optimalisasi produksi nikel paska periode maintenance.
 
Tekanan inflasi relatif mereda didukung penurunan tarif angkutan udara. Inflasi Sulsel selama triwulan II 2019 tercatat sebesar  2,98% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 3,08% dikontribusi disinflasi di kelompok transportasi, perumahan, kesehatan, serta pendidikan. Sementara itu, tekanan inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan, sandang, serta makanan jadi seiring dengan kenaikan permintaan selama periode Ramadhan dan Lebaran.
 
Pada triwulan III 2019, tekanan inflasi diperkirakan akan lebih rendah dengan beberapa risiko yang harus dimitigasi. Inflasi pada triwulan III 2019 diperkirakan terjaga semakin membaik dalam rentang sasaran Bank Indonesia (3,5±1%, yoy). Hal ini antara lain sejalan normalisasi permintaan pasca HBKN Idul Fitri. Namun, puncak musim kemarau periode Agustus sampai September diperkirakan menyebabkan mundurnya jadwal panen dan dapat berdampak tekanan pada beberapa komoditas di kelompok bahan pangan.
 
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga khususnya di tengah upaya korporasi melakukan konsolidasi keuangannya. Fase konsolidasi korporasi diindikasi penurunan risiko kredit (NPL) dan moderasi pertumbuhan kredit, serta peningkatan DPK korporasi.   Di sisi lain, rumah tangga melakukan konsumsi yang ekspansif dengan pembiayaan dari perbankan sebagaimana ditunjukkan pada peningkatan kredit multiguna di tengah pertumbuhan KPR dan KKB yang melambat. Meski demikian, kualitas kredit tetap terjaga sejalan survei konsumen yang mengindikasikan rumah tangga tetap memprioritaskan pembayaran bunga dan cicilan kredit dengan porsi yang lebih besar.
 
Penguatan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 terefleksi pada nilai transaksi keuangan melalui RTGS yang mengalami peningkatan. Upaya peningkatan penggunaan transaksi non tunai di provinsi Sulsel telah dilakukan melalui implementasi program elektronifikasi jalan tol, transaksi keuangan Pemerintah Daerah, bantuan sosial dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sementara itu,  jumlah uang yang diedarkan (UYD) untuk memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat, tercatat net inflow sebesar Rp0,7 triliun, meskipun jauh lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai Rp4 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama wilayah Sulampua (Sulsel masih tercakup) mengalami outflow sebesar Rp0,9 triliun. Hal tersebut diduga sejalan dengan peran Sulsel sebagai hub perdagangan kawasan timur Indonesia. Adapun transaksi jual-beli valuta asing yang diawasi Bank Indonesia menunjukkan permintaan valas oleh masyarakat lebih besar dari pasokan yang berasal dari masyarakat. Hal tersebut diduga terkait adanya peningkatan masyarakat  yang melakukakn wisata ke luar negeri. 
 
Tahun 2019 ditandai dengan perbaikan tingkat kemiskinan dan kesenjangan di Sulsel, meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat. Kondisi kemiskinan membaik seiring penurunan jumlah penduduk miskin, terutama di wilayah pedesaan. Sejalan dengan perbaikan tingkat kemiskinan, tingkat kesenjangan menjadi lebih baik diindikasikan dengan penurunan gini ratio menjadi 0,389 pada Maret 2019, dari rasio tahun 2018 sebesar 0,397. Sementara itu, TPT pada semester pertama mencapai 5,42%, meningkat dari tahun 2018 sebanyak 5,39%. Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan II 2019 mengalami penurunan sejalan penurunan harga komoditas utama seperti beras, meskipun tingkat kesejahteraan petani tetap terjaga.  Terjaganya tingkat kesejahteraan petani tersebut terindikasi pada Nilai Tukar Petani (NTP) pada yang tetap berada di atas titik impas.
 
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2019 relatif meningkat dibandingkan triwulan III meskipun diperkirakan masih berada pada kisaran 6,8 – 7,2% (yoy).  Sumber pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun diperkirakan berasal dari permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga. Hal tersebut sejalan dengan adanya liburan dan HBKN natal dan tahun baru. Konsumsi rumah tangga yang lebih ekspansif di akhir tahun diperkirakan mengompensasi investasi dan konsumsi pemerintah yang lebih moderat. Sementara itu, kinerja sektor eksternal di akhir tahun juga diprediksi cukup memiliki daya dorong yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Sulsel. Sejalan dengan sisi peermintaan, topangan pertumbuhan di sisi penawaran diperkirakan datang dari lapangan usaha perdagangan, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2019 diperkirakan masih berada pada rentang 7,0 – 7,4% (yoy).
 
Sejalan dengan perkembangan sektor riil, inflasi akhir tahun diperkirakan tetap terkendali di kisaran sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 3,5±1% (yoy). Inflasi akhir tahun tersebut terjaga sejalan dengan inflasi tahun berjalan (year to date) yang masih rendah, yaitu 1,92% (ytd). Meskipun tekanan inflasi akhir tahun tetap perlu diwaspadai, terutama yang berasal dari komoditas bahan pangan (volatile food). Penguatan sinergi dan koordinasi TPID diperkirakan dapat memitigasi tekanan inflasi akhir tahun tersebut.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel