Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 2018 ​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Perekonomian Sulsel kuartal kedua 2018 tumbuh 7,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,27% (yoy). Semua komponen pada sisi pengeluaran tetap baik, antara lain ekspektasi konsumen yang tetap kuat, terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur, persediaan yang meningkat, dan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri. Secara lapangan usaha, kegiatan Pertanian meningkat sejalan berlangsungnya panen. Lapangan usaha yang terkait permintaan masyarakat saat HBKN, seperti Perdagangan dan Transportasi. Sementara periode pembayaran sekolah berimplikasi positif terhadap meningkatnya Jasa Pendidikan. Pada triwulan laporan, kegiatan intermediasi perbankan secara umum dalam kondisi baik, didukung dengan transaksi non-tunai maupun tunai yang mampu mendukung aktivitas transaksi korporasi maupun rumah tangga. 
 
Laju inflasi pada triwulan II 2018 tercatat sebesar 4,13% (yoy) atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya disebabkan oleh tarikan permintaan selama periode Ramadhan dan lebaran. Tarikan permintaan tersebut tercermin dari kenaikan kelompok sandang serta bahan makanan. Adapun kenaikan pada kelompok bahan makanan, selain dipicu oleh tarikan permintaan yang lebih tinggi, juga disebabkan oleh faktor bukan musim panen pada komoditas pangan strategis. Namun demikian inflasi selama triwulan II 2018 merupakan inflasi terendah bila dibandingkan rata-rata historis periode Ramadhan dan Lebaran dalam 3 tahun terakhir. Lebih rendahnya inflasi tersebut merupakan buah hasil kerjasama yang optimal antara Bank Indonesia dan dinas terkait dalam forum TPID. Pernyataan ini dibuktikan oleh penghargaan yang diraih TPID Kota Makassar dari pemerintah pusat pada kategori TPID terbaik se-Sulawesi yang langsung diberikan oleh Presiden Republik Indonesia. 
 
Sementara itu, Pada triwulan II 2018, pertumbuhan kredit mampu terakselerasi, sementara pertumbuhan DPK cenderung melambat. Akelerasi pertumbuhan kredit didorong signifikan oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Ke depan, risiko harga internasiomal komoditas unggulan Sulsel serta persaingan industri yang semakin ketat menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Bank Indonesia terus memantau risiko dan memastikan stabilitas keuangan dalam kondisi yang aman, dengan memperdalam rasio kredit terhadap PDRB namun tetap memperhatikan perluasan akses terhadap UMKM. 
 
Kondisi kesejahteraan di Sulsel membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel per Februari 2018 tercatat 5,39%, lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2017 sebesar 5,61%. Jumlah maupun persentase penduduk miskin di Sulsel hingga Maret 2018 juga membaik dibandingkan dengan periode September 2017, baik penduduk miskin di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ketimpangan Sulsel juga membaik pada Maret 2018, dengan gini ratio sebesar 0,397 dibandingkan September 2017 sebesar 0,429. Tingkat kesejahteraan petani juga membaik, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) hingga triwulan II 2018  yang meningkat 2,42% (yoy) dan berada diatas batas optimis (100), disebabkan oleh peningkatan produksi saat panen raya.
 
Dengan perkembangan tersebut, perekonomian Sulsel pada triwulan IV 2018 diperkirakan tumbuh pada rentang 7,1 – 7,5% (yoy). Dengan perkiraan pertumbuhan tersebut, maka pertumbuhan keseluruhan tahun 2018 akan berada pada rentang 7,0 – 7,4% (yoy) atau tidak ada koreksi proyeksi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2018 diperkirakan bersumber dari akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga, sementara komponen lainnya cenderung melambat. Sementara itu, pertumbuhan hingga akhir tahun didukung permintaan konsumsi rumah tangga, dengan direspon sisi lapangan usaha dengan peningkatan  Lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, serta Konstruksi. Sejalan dengan itu, kondisi stabilitas inflasi, stabilitas keuangan daerah, dan sistem pembayaran tahun 2018 tetap terjaga. 

 
Di sisi inf​lasi, tekanan harga bahan makanan dan imported inflation diperkirakan akan menjadi tantangan pada akhir tahun 2018. Namun demikian, inflasi keseluruhan tahun 2018 diperkirakan masih akan berada pada rentang sasarannya, sebesar 3,5%+1% (yoy). 
 
Ke depan, untuk mendorong Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan kawasan, beberapa kebijakan atau rekomendasi yang dapat dilakukan: (a) Menjaga proses pembangunan dan penyelesaian infrastruktur tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga dapat digunakan secara operasional sesuai target; (b) Mendorong adanya paket kebijakan untuk menarik investasi industri berorientasi ekspor; (c) Strategi diversifikasi ekspor yang mengarah pada negara non mitra dagang utama; (d) Mendorong munculnya sumber pertumbuhan baru melalui hilirisasi komoditi unggulan berbasis sumber daya alam, agro industri, dan pariwisata untuk mengurangi defisit neraca perdagangan; (e) Pemerintah mendorong penelitian, pengembangan, dan kemitraan di sektor hulu untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditi unggulan; (f) Pemerintah Daerah mendorong soft infrastructur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melalui pelatihan dan pendidikan; (g) Mengingat sektor hulu perkebunan dan perikanan cenderung kepada budidaya rakyat (bukan inti), maka perlu dilakukan pendampingan kepada pelaku perkebunan dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas dalam rangka mengimbangi permintaan pasar lokal maupun global; (h) Memanfaatkan potensi dana desa yang tersebar di 21 kabupaten, sesuai dengan potensi daerah, dengan lebih meningkatkan pendampingan ke aparat desa; (i) Mendorong ekonomi syariah dan ekonomi digital di Sulawesi Selatan, antara lain pengembangan finance (keuangan), food (makanan), fashion (pakaian), funtrepreneur (wirausaha), dan fundutainment (pendidikan/pesantren).
 
Selain menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tinggi, mitigasi inflasi Sulsel dapat dilakukan melalui beberapa hal: (a) Meningkatkan produktivitas komoditas pangan yang memiliki persistensi inflasi tinggi seperti beras dan daging sapi. Selain itu, komoditas telur ayam ras dan cabe merah yang masih ada potensi kenaikan harga di akhir tahun 2018, agar dipastikan ketersediaannya dan kelancaran distribusinya. Apabila harga meningkat diluar batas kewajaran, perlu dilaksanakan sidak ataupun operasi pasar ke pasar tradisional dan pasar modern; (b) Memperluas gerakan tanam cabai, tomat, kangkung, bawang merah dan komoditas utama penyumbang inflasi lainnya memanfaatkan pekarangan atau jalan lingkungan (lorong); (c) Mengoptimalkan pasar induk beras di Makassar yang diinisiasi oleh Bulog sebagai acuan harga beras sehingga gejolak harga di daerah lain tidak menarik harga beras di Sulsel lebih tinggi; (d) Membangun sentra komoditas perikanan khususnya ikan bandeng, ikan layang dan ikan teri melalui pemanfaatan tempat pelelangan ikan untuk difungsikan sebagai pusat penjualan; (e) Penyediaan atau pemanfaatan cold storage sebagai tempat penyimpanan komoditas perikanan.

 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel