​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020
Perekonomian Sulsel kuartal keempat 2018 tumbuh 6,47% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,18% (yoy).  Komponen konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penahan perlambatan perekonomian Sulsel di triwulan IV 2018. Secara lapangan usaha yang terkait permintaan masyarakat saat HBKN seperti industri pengolahan, informasi dan komunikasi, serta masih kuatnya perdagangan besar dan eceran menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2018. Sementara itu, peningkatan akibat aktivitas masyarakat yang meningkat pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) natal dan tahun baru, serta libur sekolah.
 
Laju inflasi pada tahun 2018 tercatat 3,50% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi di triwulan III 2018 yang tercatat 3,09% (yoy). Namun demikian, inflasi pada akhir tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang tercatat 4,44% (yoy). Tekanan inflasi pada tahun 2018 didorong oleh kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang terutama disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan seiring dengan meningkatnya permintaan jelang libur natal dan tahun baru yang dibarengi libur anak sekolah.
 
Kondisi kesejahteraan di Sulsel membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel per Agustus 2018 tercatat 5,34%, lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2017 sebesar 5,61%. Jumlah maupun persentase penduduk miskin di Sulsel hingga September 2018 juga membaik dibandingkan dengan periode September 2017, baik penduduk miskin di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ketimpangan Sulsel juga membaik pada September 2018, dengan gini ratio sebesar 0,388 dibandingkan September 2017 sebesar 0,429. Tingkat kesejahteraan petani juga membaik, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tetap berada diatas batas optimis (100).
 
Dengan perkembangan tersebut, perekonomian Sulsel pada triwulan I 2019 diperkirakan tumbuh pada rentang 7,1 – 7,5% (yoy). Dengan perkiraan pertumbuhan tersebut, maka pertumbuhan keseluruhan tahun 2019 akan berada pada rentang 7,2 – 7,6% (yoy) atau tidak ada koreksi proyeksi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 diperkirakan bersumber dari akselerasi konsumsi pemerintah dan investasi. Sementara itu, pertumbuhan hingga akhir tahun 2019 didukung akselerasi konsumsi rumah tangga dan investasi, serta deselerasi harga komoditas yang menguntungkan bagi perdagangan luar negeri, dengan direspon sisi lapangan usaha dengan peningkatan Lapangan Usaha Pertanian, Industri, dan Perdagangan. 
 
Inflasi pada tahun 2019 diperkirakan berada pada rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu 3,5+1% (yoy). Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari bahan makanan sejalan dengan cuaca ekstrim yang berpotensi menganggu produksi. Adapun pada kelompok harga yang diatur pemerintah pada tahun 2019 diperkirakan lebih terkendali sejalan dengan upaya pemerintah meredam isu kenaikan harga tiket angkutan udara.
 
Ke depan, untuk mendorong Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan kawasan, beberapa kebijakan atau rekomendasi yang dapat dilakukan: (1) Strategi diversifikasi ekspor yang mengarah pada negara non mitra dagang utama. Hal ini diperlukan untuk memitigasi risiko perbaikan ekonomi global yang tidak seperti perkiraan semula. Strategi tersebut dapat diarahkan pada ekspor ke negera yang selama ini bukan pangsa utama Sulsel seperti Timur Tengah dan Amerika Latin. Peluang ekspor ke Timur Tengah dapat dioptimalkan melalui strategi mitra dagang “halal food.” Indonesia yang merupakan mayoritas muslim memiliki pengetahuan mumpuni mengenai manajemen produk halal yang dapat dijadikan kekuatan dari branding produk ekspor Indonesia; (2) Konsistensi reformasi struktural melalui penguatan industri agribisnis. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel menjadi lebih bernilai tambah serta terus menekan angka kemiskinan maka pemerintah perlu mengubah struktur ekonomi dari agrikultur (berbasis pertanian) menjadi industri. Untuk tetap mempertahankan potensi ekonomi yang berbasis agraris, pemerintah dapat fokus mengembangkan industri berbasis agrikultur atau disebut agribisnis. Peningkatan nilai tambah hedaknya diarahkan pada komoditas unggulan Sulsel seperti kakao, beras, kopi, hingga ikan dan udang; (3) Memperluas program peremajaan tanaman dan pemenuhan bibit berkualitas, penguatan kelembagaan komoditas spesifik, dan monitoring pemenuhan standar kualitas komoditas; (4) Mempersiapkan sekolah vokasi dan teknis kejuruan yang sesuai dengan sektor yang menjadi potensi daerah; (5) Penguatan kelembagaan petani dan peternak sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Problematika kelembagaan petani merupakan masalah pokok yang harus dimitigasi melalui pembentukan badan usaha seperti koperasi. Dengan kelembagaan petani, maka isu permodalan dan daya saing akan teratasi; (6) Memantau secara berkala risiko terhadap pelaku korporasi dan rumah tangga, yang didukung dengan hasil survei (SK, SKDU) dan liaison; (7) Meningkatkan pembinaan UMKM dan penyediaan database/informasi UMKM di daerah yang telah bankable, agar dapat ditindaklanjuti oleh perbankan.
 
Selain menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tinggi, mitigasi inflasi Sulsel dapat dilakukan melalui beberapa hal: (1) TPID di masing-masing zona di Sulsel perlu menyusun Roadmap Pengendalian Inflasi di tiap zona dengan mengacu kepada Roadmap Pengendalian Inflasi Provinsi Sulsel. Roadmap di tiap zona ini sangat penting agar program pengendalian inflasi di tiap zona lebih terpadu dengan pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPID Provinsi; (2) Penguatan kerjasama antar daerah perlu semakin ditingkatkan yang didasarkan pada data Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) di kabupaten/kota. Ke depan, data di SIGAP diharapkan dapat memberikan informasi tentang data surplus-defisit komoditas antar daerah; (3) Penggunaan bibit unggul yang tahan cuaca buruk, pengaturan pola tanam serta manajemen persediaan (termasuk penggunaan cold storage).
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel