Kajian Ekonomi Keuangan dan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020

Perekonomian Sulsel triwulan III 2017 tumbuh 6,25% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2017 yang tercatat 6,63% (yoy). Secara lapangan usaha, melambatnya pertumbuhan disebabkan oleh kinerja Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian ; Konstruksi; Perdagangan Besar dan Eceran; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi; serta Jasa Perusahaan. Di sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan disebabkan oleh menurunnya kinerja konsumsi rumah tangga dan peningkatan impor.

Pada triwulan laporan, kinerja perbankan secara umum dalam kondisi baik, sejalan dengan itu transaksi yang tercatat pada sistem pembayaran juga menunjukkan perbaikan.

Pada triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi Sulsel diperkirakan meningkat, dikarenakan konsumsi pemerintah yang membaik serta membaiknya perdagangan luar negeri dan antar daerah. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan diperkirakan dari usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; Pengadaan Listrik dan Gas; Konstruksi; Perdagangan Besar dan Eceran; Transportasi dan Pergudangan; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi; Real Estate; serta Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial.

Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan III 2017 menurun 4,17% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang mencapai 4,49% (yoy), sebagai implikasi pasokan bahan makanan yang tersedia dan daya beli yang terjaga. Pada triwulan IV 2017 tekanan inflasi diperkirakan masih dalam tren menurun, karena aktivitas masyarakat dan kondisi pasokan yang terjaga saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan tahun baru.

Sejalan dengan itu, untuk kondisi stabilitas keuangan daerah dan sistem pembayaran juga tetap terjaga dan dapat mendukung aktivitas ekonomi. Dengan kondisi tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel dan inflasi 2017 diprakirakan tetap dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia.

Untuk mendorong Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan kawasan, beberapa kebijakan atau rekomendasi yang dapat dilakukan: (a). Menjaga proses pembangunan dan penyelesaian infrastruktur tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga dapat digunakan secara operasional, (b) Strategi diversifikasi ekspor yang mengarah pada negara non mitra dagang utama, misalnya Timur Tengah dan Amerika Latin, (c) Konsistensi reformasi struktural melalui penguatan industri agribisnis, (d) Mendorong munculnya sumber pertumbuhan baru melalui hilirisasi komoditi unggulan (berbasis sumber daya alam), serta sumber pertumbuhan baru dari jasa kesehatan, pendidikan, dan pariwisata, (e) Mendorong penelitian, pengembangan, dan kemitraan di sektor hulu untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditi unggulan, (f) Mendorong soft infrastructur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melalui pelatihan dan pendidikan, serta (g) Mendorong adanya paket kebijakan untuk mengeliminir hambatan investasi.

Selain menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tinggi, mitigasi inflasi Sulsel dapat dilakukan melalui beberapa hal: (a) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sulsel perlu menyusun program kerja yang lebih fokus pada pengendalian komoditas volatile food, (b) TPID di masing-masing zona di Sulsel perlu menyusun Roadmap Pengendalian Inflasi di tiap zona dengan mengacu kepada Roadmap Pengendalian Inflasi Provinsi Sulsel, (c) Penguatan kerjasama antar daerah perlu semakin ditingkatkan yang didasarkan pada data Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) di kabupaten/kota, (d) Penggunaan bibit unggul yang tahan cuaca buruk, pengaturan pola tanam serta manajemen persediaan; (e) Menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil sesuai dengan target inflasi nasional.

Tags: Inflasi

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel