Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

Perekonomian Sulsel kuartal pertama 2018 tumbuh 7,41% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,06% (yoy). Semua komponen pada sisi pengeluaran menunjukkan perbaikan, antara lain ekspektasi konsumen yang tetap kuat, mulai berlangsungnya tahapan pilkada, terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri. Secara lapangan usaha, penyelenggaraan pilkada di 13 daerah memberi andil untuk beberapa industri menengah kecil, sementara untuk lapangan usaha utama cenderung mengikuti pola awal tahun. Pada triwulan laporan, kegiatan intermediasi perbankan secara umum dalam kondisi baik, didukung dengan transaksi non-tunai maupun tunai yang mampu mendukung aktivitas transaksi korporasi maupun rumah tangga. ​

Inflasi Sulsel pada kuartal I 2018 tercatat 3,70% (yoy), tekanan inflasi tersebut lebih rendah dari akhir 2017 (4,44%, yoy), terutama karena penurunan harga yang terjadi pada kelompok administered price dan inti. Tekanan administered price yang lebih rendah sejalan dengan meredanya pengaruh based effect kenaikan tarif dasar listrik pada tahun sebelumnya. Tekanan inflasi terbesar dari kelompok volatile food khususnya pada komoditas ikan bandeng, beras, dan ikan cakalang, disebabkan oleh kenaikan harga karena curah hujan tingkat sedang-tinggi dan gelombang laut yang tinggi, menyebabkan nelayan tidak melaut dan berdampak pada pasokan. Sementara itu, inflasi pada komoditas beras terjadi karena musim tanam pada awal tahun yang menyebabkan turunnya pasokan. ​

Pada triwulan II 2018, tekanan inflasi di Sulsel diperkirakan meningkat dibandingkan tekanan inflasi pada bulan sebelumnya. Hal tersebut disebabkan dimulainya Ramadhan sehingga ekspektasi kenaikan harga di masyarakat akan turut mendorong kenaikan harga. Namun, inflasi 2018 akan tetap diarahkan berada dalam kisaran sasaran inflasi tahun 2018 yaitu 3,5%±1%. Upaya pengendalian inflasi dalam antisipasi ke depan antara lain rapat koordinasi dengan TPID Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengidentifikasi dan mempersiapkan langkah-langkah dalam mengadapi kenaikan atau permintaan bahan kebutuhan pokok. ​

Di sisi lain, risiko non performing loan menghadapi risiko dari sisi korporasi, karena kuatnya persaingan usaha dan masih terus berlangsungnya konsolidasi korporasi. Sementara dari sisi ketahanan sektor rumah tangga, cenderung masih ditopang oleh tetap kuatnya daya beli. Demikian pula untuk penyaluran kredit UMKM masih meningkat, dengan porsi penyaluran kredit kepada UMKM telah melebihi 30% dari total kredit. ​

Kondisi ketenagakerjaan masih menghadapi tantangan, tercermin dari persentase tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel mencapai 5,39% per Februari 2018, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di Februari 2017 sebesar 4,77%. Jumlah penduduk miskin di Sulsel hingga September 2017 meningkat apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, baik penduduk miskin di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Persentase penduduk miskin di Sulsel (9,5%) tergolong masih rendah jika dibandingkan dengan Provinsi lain di Sulawesi. Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani yang diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) hingga triwulan I 2018 masih cukup baik atau berada diatas batas optimis (100). ​

Dengan perkembangan tersebut dan potensi ekonomi ke depan yang semakin membaik, keseluruhan 2018 masih akan tumbuh dalam kisaran 7,0 – 7,4%. Hal ini didukung dengan pembayaran gaji ke-13 dan 14 bagi pegawai negeri sipil, daya dorong serapan belanja APBD maupun APBN di Sulsel yang lebih tinggi, serta potensi peningkatan signifikan pengiriman hasil pertanian maupun produk industri. Sejalan dengan itu, kondisi stabilitas inflasi, stabilitas keuangan daerah, dan sistem pembayaran tahun 2018 tetap terjaga dan dapat mendukung aktivitas ekonomi. ​

Oleh karena itu, ke depan tetap diperlukan : (a) Menjaga proses pembangunan dan penyelesaian infrastruktur tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga dapat digunakan secara operasional sesuai target, (b) Menjaga minat investasi langsung ke Sulsel dengan memperkuat basis data daerah potensial, (c) Strategi diversifikasi ekspor yang mengarah pada negara non mitra dagang utama, misalnya Timur Tengah dan Amerika Latin, (d) Mendorong munculnya sumber pertumbuhan baru melalui hilirisasi komoditi unggulan (berbasis sumber daya alam), serta sumber pertumbuhan baru dari jasa kesehatan, pendidikan, dan pariwisata, (e) Mendorong penelitian, pengembangan, dan kemitraan di sektor hulu untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditi unggulan, (f) Mendorong soft infrastructur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melalui pelatihan dan pendidikan, (g) Mengingat sektor hulu perkebunan dan perikanan cenderung kepada budidaya rakyat (bukan inti), maka perlu dilakukan pendampingan kepada pelaku perkebunan dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas dalam rangka mengimbangi permintaan pasar lokal maupun global, serta (h) Memanfaatkan potensi dana desa yang tersebar di 21 kabupaten, sesuai dengan potensi daerah, dengan lebih meningkatkan pendampingan ke aparat desa. ​

Selain menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tinggi, mitigasi inflasi Sulsel dapat dilakukan melalui beberapa hal: (a) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sulsel lebih fokus pada pengendalian komoditas volatile food, (b) Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar lembaga, dalam rangka respons saat terjadi kenaikan harga secara lebih cepat dan akurat, (c) Pemanfaatan data/informasi pada Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) maupun data cuaca untuk perencanaan produksi pangan yang lebih baik, (d) Mendorong peran tokoh masyarakat dalam rangka pengendalian inflasi saat hari besar keagamaan.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel