Kajian Ekonomi Keuangan dan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
14 Juli 2020
Perekonomian Sulsel triwulan II 2017 tumbuh 6,63% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2017 yang tercatat 7,52% (yoy). Secara lapangan usaha, melambatnya pertumbuhan disebabkan oleh kinerja pada Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dan Lapangan Usaha Industri. Di sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan disebabkan oleh menurunnya konsumsi pemerintah dan net perdagangan luar negeri. Pada triwulan III 2017, pertumbuhan ekonomi Sulsel kami perkirakan meningkat, dikarenakan belanja pemerintah yang lebih tinggi, pencairan belanja pegawai, ekspor yang meningkat didorong oleh jumlah hari kerja yang lebih banyak, produksi pertanian khususnya tabama yang mulai kembali normal pasca banjir, cuaca yg normal, serta produksi nikel sebagai komoditas ekspor utama Sulsel yang diperkirakan meningkat.

 
Laju inflasi Sulsel pada akhir triwulan II 2017 tercatat 4,49% (yoy) lebih tinggi dari triwulan I 2017 (3,42%, yoy), terutama karena meningkatnya tekanan harga pada kelompok perumahan, air, listrik dan gas; transpor, komunikasi dan jasa keuangan; dan bahan makanan. Peningkatan ini dikarenakan sebagai implikasi kebijakan pemerintah terkait dengan pengalihan subsidi listrik pada daya 900 VA pada bulan Mei 2017, yang menaikkan tarif untuk sebagian kelompok rumah tangga daya 900 VA.

Pada triwulan III 2017, tekanan inflasi diperkirakan menurun, khususnya pada kelompok volatile food. Aktivitas masyarakat yang kembali normal pasca berakhirnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) diperkirakan menjadi faktor penyebab terjaganya inflasi kelompok volatile food dan core. Namun demikian, masih tingginya tarif angkutan udara pada awal triwulan III 2017 menjadi salah satu faktor yang patut diwaspadai.
 
Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berusaha melakukan berbagai upaya Pengendalian inflasi terutama dalam kisaran sasaran inflasi 4 ±1 %. Adapun upaya pengendalian inflasi dalam rangka antisipasi tekanan inflasi ke depan antara lain implementasi rapat koordinasi TPID Sulsel-Maluku, TPID tingkat KTI dan Nasional, dimana pada rakor TPID Sulsel-Maluku mendorong kerjasama antar Provinsi melalui misi dagang dalam rangka Pengendalian inflasi.
 
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga untuk mendukung upaya pemulihan ekonomi Sulsel yang berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan dengan stabilnya tingkat rasio gagal bayar bunga dan pokok utang (non performing loan) di tengah pertumbuhan kredit yang melambat. Masih terus konsolidasinya korporasi untuk menyehatkan struktur keuangannya menjadi dasar perlambatan pertumbuhan kredit. Namun demikian, penyaluran kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terus meningkat signifikan sebagai bentuk kehadiran Bank Indonesia pada ekonomi kelas menengah ke bawah. Pembangunan ekonomi yang inklusif tersebut juga dengan tetap memperhatikan stabilitas sistem keuangan khususnya dari risiko keuangan korporasi menghadapi harga komoditas yang kembali menurun di triwulan II dibandingkan pencapaian triwulan I. Risiko harga komoditas tersebut dapat terjaga tercermin dari risiko NPL yang stabil baik dari sisi korporasi maupun rumah tangga.
 
Perkembangan sistem pembayaran cenderung mengikuti pola tahunannya. Nilai transaksi keuangan melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami penurunan. Penurunan tersebut terjadi sejalan dengan perlambatan ekonomi triwulan II 2017. Selain itu, faktor musiman adanya lebaran dan Idul Fitri memengaruhi aliran uang kartal yang mengalami penurunan net inflow, sehingga jumlah uang yang diedarkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat. Untuk meningkatkan layanan ketersediaan uang layak edar, Bank Indonesia senantiasa terus mendorong clean money policy melalui kegiatan penukaran uang melalui perbankan, kas keliling dalam kota dan luar kota, dan kas titipan.
 
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel per Februari 2017 tercatat 4,77%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,11%. Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani yang diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) hingga triwulan I 2017 masih cukup baik meskipun menurun secara tahunan dibandingkan triwulan IV 2016. Jumlah penduduk miskin di Sulsel pada September 2016 mengalami penurunan dibandingkan September 2015 baik di kota maupun di desa. Persentase penduduk miskin di Sulsel (9,24%) tergolong rendah jika dibandingkan dengan Provinsi lain di Sulawesi. Demikian pula untuk indikator ketimpangan, secara perlahan juga membaik, dimana rasio gini pada September 2016 menjadi 0,40 dibanding tahun sebelumnya (0,43%).
 
Perekonomian Sulsel diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,5% – 7,9% (yoy) dengan kecenderungan mengarah ke batas atas pada triwulan IV 2017. Dengan demikian rentang proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel selama tahun 2017 masih berada pada rentang proyeksi awal, yaitu sebesar 7,5-7,9%(yoy) walau dengan kecenderungan berada pada batas bawah. Terus berlanjutnya reformasi struktural menjadi pondasi terus membaiknya ekonomi Sulsel secara keseluruhan. Sumber pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan IV diperkirakan akan berasal dari stabilnya konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) disebabkan faktor musiman akhir tahun serta kenaikan belanja organisasi politik menjelang pilkada. Dari sisi investasi, pertumbuhan diperkirakan akan stabil dengan kontribusi terbesar masih berada pada investasi pemerintah yang disertai dengan kenaikan belanja pemerintah sesuai pola musimannya. Dari sisi kegiatan ekspor impor, membaiknya cuaca yang menopang pertumbuhan Lapangan Usaha (LU) pertanian diperkirakan akan memperbaiki ekspor non tambang. Dari sisi produksi, LU pertanian diperkirakan akan tumbuh signifikan seperti tahun sebelumnya disebabkan oleh panen dan situasi cuaca yang kondusif. Hal serupa diperkirakan akan juga terjadi pada LU Pertambangan dengan produksi nikel yang lebih tinggi walau harga mengalami penurunan. Dari sisi LU Industri pengolahan, perbaikan ekspor dan stabilnya konsumsi RT akan menjadi katalis bagi pelaku usaha dalam memacu produksi. Hal ini juga akan menggiring LU penyedia listrik dan gas mengalami peningkatan.
 
Untuk mendorong Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan kawasan, berikut ini beberapa kebijakan yang dapat disarankan kepada pemerintah Provinsi Sulsel: (a). Strategi diversifikasi ekspor yang mengarah pada negara non mitra dagang utama, (b). Konsistensi reformasi struktural melalui penguatan industri agribisnis, (c). Memperluas program peremajaan tanaman dan pemenuhan bibit berkualitas, penguatan kelembagaan komoditas spesifik, dan monitoring pemenuhan standar kualitas komoditas, (d). Mempersiapkan sekolah vokasi dan teknis kejuruan yang sesuai dengan sektor yang menjadi potensi daerah, (e). Penguatan kelembagaan petani dan peternak sehingga memiliki daya saing yang tinggi, (f). Memantau secara berkala risiko terhadap pelaku korporasi dan rumah tangga, yang didukung dengan hasil survei (SK, SKDU) dan liaison, (g). Meningkatkan pembinaan UMKM dan penyediaan database/informasi UMKM di daerah yang telah bankable, agar dapat ditindaklanjuti oleh perbankan.
Selain menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tinggi, mitigasi inflasi Sulsel dapat dilakukan melalui beberapa hal: (a). Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sulsel perlu menyusun program kerja yang lebih fokus pada pengendalian komoditas volatile food, (b). TPID di masing-masing zona di Sulsel perlu menyusun Roadmap Pengendalian Inflasi di tiap zona dengan mengacu kepada Roadmap Pengendalian Inflasi Provinsi Sulsel, (c). Penguatan kerjasama antar daerah perlu semakin ditingkatkan yang didasarkan pada data Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) di kabupaten/kota, (d). Penggunaan bibit unggul yang tahan cuaca buruk, pengaturan pola tanam serta manajemen persediaan.
Tags: Inflasi

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel