​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Ekonomi Sulawesi Barat terpantau melambat pada triwulan I 2019. Realisasi pertumbuhan ekonomi tercatat 5,21% (yoy) melambat dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 5,32% (yoy). Kinerja sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha yaitu pertanian dan perdagangan terpantau melambat. Normalisasi permintaan rumah tangga dan seasonal effect pola belanja Pemerintah menjadi faktor penyebab perlambatan ekonomi dari sisi pengeluaran. Meskipun demikian, ekonomi Sulawesi Barat masih berada di atas nasional dengan realisasi 5,07% (yoy).

Akselerasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat berlanjut pada triwulan III 2019. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar 7,1% – 7,5% (yoy). Produksi komoditas perkebunan akan mengalami peningkatan seiring momentum investasi yang dilakukan korporasi. Industri pengolahan akan memacu produk olahan CPO dalam rangka pemenuhan permintaan baik domestik maupun LN. Percepatan pembangunan infrastruktur baik dari pihak swasta maupun Pemerintah turut mempengaruhi akselerasi LU konstruksi. Meskipun demikian, normalisasi permintaan masyarakat paska periode puasa dan lebaran mempengaruhi perlambatan LU perdagangan.

Inflasi Sulawesi Barat menurun pada triwulan pertama di tahun 2019. Melanjutkan tren sejak triwulan III 2018, inflasi tahunan Sulawesi Barat tercatat 0,96% (yoy) pada triwulan I 2019 atau lebih rendah dibandingkan realisasi 1,80% (yoy) pada triwulan IV 2018. Pencapaian pada triwulan I 2019 lebih rendah jika dilihat historis inflasi Sulawesi Barat dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang sebesar 3,25% (yoy). Selain itu, realisasi pada periode tersebut juga lebih rendah dibandingkan pencapaian inflasi kawasan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) yang sebesar 3,21% (yoy) dan nasional yang sebesar 2,48% (yoy). Secara spasial, seluruh provinsi di Pulau Sulawesi mengalami penurunan inflasi pada triwulan I 2019 dimana inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Tengah dengan pencapaian 5,59% (yoy).

Tekanan inflasi triwulan III 2019 diperkirakan meningkat. Keterbatasan pasokan komoditas penyumbang utama inflasi yaitu ikan segar akan menjadi isu utama pada triwulan III 2019. Aktivitas nelayan juga akan sedikit terhenti karena perayaan hari keagamaan yaitu idul Adha yang jatuh pada triwulan III 2019. Namun, mempertimbangkan fluktuasi harga yang masih cukup terkendali, inflasi triwulan III 2019 berada dalam rentang 1,2 – 1,6% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 1,955 (yoy). Sumber tekanan inflasi diperkirakan berasal dari kelompok bahan makanan, makanan jadi, sandang, dan transportasi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel