Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2017 adalah 6,63% (yoy), jika dibandingkan dengan triwulan III 2017 yaitu 7,12% (yoy) ternyata masih lebih rendah pertumbuhan ekonominya. Tahun 2017 secara keseluruhan menujukkan perekonomian Sulawesi Barat tumbuh lebih baik dibanding 2016. Ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2017 tumbuh 6,67% (yoy) atau lebih tinggi dibanding realisasi tahun 2016 sebesar 6,01% (yoy). ​

Pelemahan konsumsi rumah tangga triwulan III telah meningkat cukup signifikan menjadi 7,04% (yoy) pada triwulan IV 2017. Sejumlah perlambatan dari sisi permintaan berasal konsumsi pemerintah dan ekspor. Sedangkan dari sisi penawaran, kinerja administrasi juga mengalami perlambatan yang diikuti pada lapangan usaha industri pengolahan. ​

Perekonomian pada tahun 2017 secara agregat didorong perbaikan produksi kelapa sawit, serta peningkatan konsumsi yang mengalami kontraksi pada triwulan III meningkatkan kinerja perekonomian. Dari sisi penawaran, sektor pertanian dan perkebunan menjadi sumber pertumbuhan dimana perode ini telah memasuki panen raya. ​

Inflasi triwulan IV dengan kata lain 2017 tercatat 3,79% (yoy) yang menurun dibandingkan triwulan III sebesar 4,53% (yoy), namun realisasi inflasi tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 sebesar 2,23% (yoy). Jika ditinjau lebih lanjut, kelompok core tercatat 2,98% (yoy), volatile food sebesar 3,56%, dan administered price sebesar 7,62% (yoy). ​

Perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2018 diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun 2017. Pada tahun 2018, perekonomian Sulawesi Barat diperkirakan akan tumbuh dalam rentang sedikit lebih rendah dibandingkan 2017 yaitu 6,4% - 6,8% (yoy). Pembangunan infrastruktur masih menjadi andalan untuk menggenjot perekonomian. Pengoperasian PLTU Belan-belang diharapkan mampu menjadi magnet bagi para investor untuk menanamkan modal di Sulawesi Barat. Peningkatan pendapatan melalui kenaikan UMP dan ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak di tahun 2018 diharapkan dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga. ​

Pencapaian inflasi 2018 diperkirakan sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 3,5%±1%. Kenaikan biaya perpanjangan STNK, hilangnya subisidi listrik cukup, kenaikan bea cukai rokok juga memberi andil terhadap peningkatan inflasi di 2017. Dengan adanya roadmap pengendalian inflasi, Sulawesi Barat dapat memiliki arah yang lebih jelas dalam mengendalikan harga. Selain itu, adanya pencetakan lahan baru, pembentukan klaster-klaster komoditas yang telah berjalan selama 2017 diharapkan mampu menekan harga komoditas yang selama ini selalu menyumbang inflasi di Sulawesi Barat.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel