​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada periode kedua di tahun 2017 yaitu 4,78% (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 7,42% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan kontraksi dari konsumsi pemerintah. Sejalan dengan sisi permintaan, dari sisi penawaran kinerja lapangan usaha administrasi pemerintahan juga mengalami kontraksi. Selain sektor pemerintahan, perlambatan ekonomi terjadi pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan serta industri pengolahan. ​

Tekanan inflasi pada triwulan II 2017 relatif terkendali. Laju inflasi pada triwulan II 2017 sebesar 4,19% (yoy), hanya meningkat tipis dibandingkan 4,10% (yoy) pada triwulan I 2017. Hanya komponen administered pricess yang mengalami kenaikan dengan inflasi sebesar 9,00% (yoy). Sementara komponen lainnya justru mengalami perbaikan dimana core dan volatile food mengalami inflasi yang relatif rendah sebesar 3,85% (yoy) dan 1,82% (yoy). Jika dilihat pada triwulan yang sama di tahun 2016, pencapaian inflasi Sulawesi Barat di kuartal laporan menurun dari pencapaian sebelumnya yaitu sebesar 4,29% (yoy). ​

Pada tahun 2017, perekonomian Sulawesi Barat diperkirakan akan tumbuh dalam rentang lebih tinggi dibandingkan 2016 yaitu 7,1% - 7,5% (yoy). Pembangunan PLTU Belang-Belang yang telah memasuki tahap penyelesaian menjadi salah satu katalis perekonomian Sulawesi Barat di tahun 2017 dan ke depannya. Dengan adanya PLTU tersebut, pasokan listrik dapat melebihi tingkat permintaan yang ada sehingga dapat menopang korporasi jika ingin beroperasi di Sulawesi Barat. Selain itu, dampak El Nino yang telah usai akan memperbaiki kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan dan industri pengolahan dalam hal perbaikan produksi kelapa sawit yang mengalami penurunan pada tahun 2016. Kondisi tersebut ditambah tingkat permintaan global akan CPO cenderung meningkat baik dari Tiongkok maupun dari negara Asia dan Eropa. ​

Meski diperkirakan inflasi tahun 2017 lebih tinggi dibandingkan 2016, pencapaiannya masih sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 4%±1%. Peningkatan inflasi di tahun 2017 lebih disebabkan tekanan dari administered price. Kenaikan biaya perpanjangan STNK sempat memberikan shock sementara di awal tahun 2017. Kemudian, hilangnya subisidi listrik cukup memberikan tekanan yang berarti hingga akhir semester I 2017. Selain itu, kenaikan bea cukai rokok juga memberi andil terhadap peningkatan inflasi di 2017. Melihat tekanan yang begitu besar dari administered price, maka dapat dikatakan wajar jika inflasi 2017 lebih tinggi. Apalagi inflasi core relatif stabil dan tidak berbeda jauh dibandingkan tahun 2016 dengan perkiraan masih di bawah angka 4% (yoy).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel