Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Mei 2018​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
14 Juli 2020

Perekonomian Sulawesi Barat tercatat tumbuh positif pada triwulan I 2018. Pertumbuhannya tercatat 5,65% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 serta triwulan I 2017 dimana pertumbuhannya masing-masing tercatat 6,63% (yoy) dan 7,70% (yoy). Perlambatan ekonomi utamanya disebabkan produksi sektor pertanian yang mengalami penurunan. Penopang pertumbuhan dari sisi permintaan didasarkan oleh kinerja industri pengolahan yang mencatatkan pertumbuhan hingga 10,81% (yoy). Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah yang tidak berjalan optimal turut mempengaruhi realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018. Salah satu penopang pertumbuhan berasal dari konsumsi rumah tangga yang tercatat masih dalam level yang cukup tinggi ditengah perlambatan ekonomi triwulan I 2018.

Realisasi inflasi Sulawesi Barat pada triwulan I 2018 tercatat 2,62% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan realisasi 3,79% (yoy) pada triwulan IV 2017. Penurunan paling dalam terjadi pada kelompok administered prices dimana terjadi penurunan inflasi dari 7,62% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 5,13% (yoy) pada triwulan I 2018. Tidak ada perubahan kebijakan mengenai bahan bakar maupun tarif listrik menjadi penyebab utama penurunan kelompok inflasi ini. Inflasi kelompok volatile food mengalami penurunan dari 3,56% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 2,48% (yoy) pada triwulan I 2018. Relatif stabilnya pasokan disertai rendahnya tingkat permintaan pada triwulan I 2018 mendorong rendahnya inflasi volatile food. Sementara itu, kelompok inflasi inti memiliki realisasi inflasi terendah dengan capaian 2,07% (yoy) pada triwulan I 2018 dimana angka tersebut lebih rendah dibanding triwulan IV 2017 sebesar 2,98% (yoy). Rendahnya inflasi kelompok inti mengindikasikan terjaganya ekspektasi inflasi di Sulawesi Barat selama triwulan I 2018.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan III 2018 akan mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II 2018. Meski melambat, ekonomi Sulawesi Barat diperkirakan masih berada pada tingkat cukup tinggi dengan kisaran 5,9% - 6,3%. Dari sisi permintaan, perlambatan disebabkna pelemahan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekspor. Hal ini dipengaruhi menurunnnya aktivitas konsumsi rumah tangga pasca hari raya lebaran. Konsumsi pemerintah dan investasi diperkirakan meningkat pada triwulan III 2018 walaupun pada level yang tidak signifikan. Sedangkan dari sisi penawaran, produksi pertanian diperkirakan tidak akan sebaik triwulan I 2018 mengingat pergerakan harga CPO yang masih belum meningkat signifikan serta produksi tanaman yang diperkirakan akan bergeser pada triwulan IV 2018.

Inflasi pada triwulan III 2018 diperkirakan akan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan triwulan II 2018. Tingkat permintaan akan kembali normal pasca hari raya Idul Fitri. Jika ada kelebihan dana, masyarakat akan cenderung untuk menyimpan sebagain antisipasi kebutuhan mendesak ataupun untuk kebutuhan akhir tahun (triwulan IV). Meski terdapat hari raya keagamaan pada periode triwulan III 2018 yaitu Idul Adha, tingkat permintaan tidak akan setinggi pada periode bulan puasa dan hari raya Lebaran. Secara umum, pergerakan harga keseluruhan komponen inflasi diprakirakan tidak akan mengalami peningkatan harga yang signifikan. Melihat kondisi tersebut, pada triwulan III 2018 diperkirakan inflasi Sulawesi Barat berada dalam kisaran 2,4%-2,8% (yoy)​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel