​Laporan Perekonomian Provinsi Riau Mei 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
25 Oktober 2020

Perekonomian Riau terdeselerasi dengan cukup signifikan. Pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi Riau tercatat sebesar 2,24% (yoy), melambat dibandingkan triwulan IV 2019 yang sebesar 2,91% (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional yang masing-masing tercatat melambat dari 4,61% (yoy) dan 4,97% (yoy) pada triwulan IV 2019 menjadi 3,25% (yoy) dan 2,97% (yoy) pada triwulan I 2020.

Dari sisi penggunaan, melambatnya pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan I 2020 bersumber dari penurunan konsumsi pemerintah dan perlambatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Terkontraksinya konsumsi pemerintah diakibatkan oleh dana transfer dari pemerintah pusat yang terlambat di transfer karena diprioritaskan untuk penanganan COVID-19 yang berpengaruh kepada penundaan perencanaan pengadaan proyek dan pengadaan. Sementara, perlambatan PMTB diperkirakan sejalan dengan potensi spillover penurunan PDB Tiongkok ke negara lain serta outbreak virus COVID-19 yang berpengaruh cukup signifikan di Malaysia dan Singapura, kontributor utama investasi di Provinsi Riau. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi yang melambat didorong oleh terkontraksinya sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Pertumbuhan sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang terdeselerasi secara signifikan dengan penurunan penjualan pada kelompok makanan, minuman & tembakau, serta barang budaya dan rekreasi sejalan dengan kebijakan physical distancing. Selain itu, melemahnya daya beli masyarakat seiring dengan menurunnya harga CPO dan kelapa sawit turut mendorong penurunan kegiatan jual beli. Sejalan dengan hal tersebut, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mengalami kontraksi akibat penurunan wisatawan dan occupancy rate hotel serta pembatalan kamar, event, dan paket tour yang meningkat signifikan di bulan Maret 2020.

Inflasi Riau pada triwulan I 2020 tercatat sebesar 2,01% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2019 yang sebesar 2,36% (yoy). Meredanya tekanan inflasi tersebut bersumber dari penurunan harga komoditas dari kelompok Transportasi; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran; Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga; Kesehatan; dan Pendidikan. Adapun komoditas utama yang menopang penurunan tekanan inflasi Riau pada triwulan I-2020 antara lain: tarif angkutan udara, beras, ikan serai, bensin, dan tarif listrik. Sementara itu, komoditas utama penyebab inflasi ialah kenaikan harga cabai merah, emas perhiasan, bawang putih, rokok kretek filter, kentang, dan bawang merah. Secara spasial, inflasi Riau tertinggi terjadi di Tembilahan, diikuti Dumai dan Pekanbaru.

Realisasi belanja Provinsi Riau pada triwulan I 2020 tercatat sebesar Rp0,59 triliun atau 5,71% dari pagu anggaran, terkontraksi hingga 31,85% (yoy) dibandingkan triwulan I 2019 yang tercatat sebesar Rp0,86 triliun atau 9,38% dari pagu anggaran. Sedangkan pada sisi pendapatan, hingga triwulan I 2020 realisasi pendapatan Provinsi Riau tercatat sebesar Rp1,65 triliun atau 16,21% dari pagu anggaran, menurun 15,02% (yoy) dibandingkan triwulan I 2019 yang tercatat sebesar Rp1,95 triliun atau 21,35% dari pagu anggaran. Realisasi anggaran pada triwulan I 2020 terkendala oleh terlambatnya dana transfer dari pemerintah pusat akibat dana dialokasikan untuk penanganan COVID-19. Keterlambatan ini juga berimbas kepada perencanaan pengadaan proyek dan pengadaan sehingga tidak dapat direalisasikan dengan optimal pada triwulan I 2020.

Stabilitas Sistem Keuangan daerah Riau pada triwulan I 2020 terjaga di tengah pandemi COVID-19 dan melambatnya kinerja perekonomian. Ketahanan sektor korporasi secara umum tetap terjaga, sejalan dengan marjin dan pertumbuhan kredit yang masih meningkat, serta NPL yang menurun. Akan tetapi, ketahanan sektor rumah tangga (RT) menunjukkan penurunan seiring dengan pendapaatan dan pertumbuhan kredit RT yang menurun, serta NPL yang meningkat. Indikator kinerja perbankan di Riau pada triwulan I 2020 tetap terjaga, sebagaimana tercermin dari meningkatnya pertumbuhan aset dan kredit, di tengah melambatnya DPK, meningkatnya NPL, dan menurunnya LDR. Transaksi non tunai melalui kliring dan RTGS mengalami penurunan, baik dari sisi nominal maupun dari sisi jumlah warkat transaksi. Secara nominal transaksi kliring pada triwulan I 2020 tercatat sebesar Rp3,40 triliun atau menurun 16,04% (qtq) sedangkan dari sisi jumlah warkat kliring tercatat sebanyak 95 ribu lembar atau menurun 16,02% (qtq). Di lain sisi, transaksi non tunai menggunakan BI-RTGS di Provinsi Riau menurun sebesar 4,11% (qtq) dari Rp 43,08 triliun pada triwulan IV-2019 menjadi Rp41,31 triliun pada triwulan I 2020. Sejalan dengan nominal transaksi, dari volume transaksi juga menurun dari 11,39 ribu frekuensi transaksi pada triwulan IV 2019 menjadi 8,67 ribu frekuensi transaksi pada triwulan I 2020 atau terkontraksi hingga 23,87% (qtq).

Secara keseluruhan tahun 2020, tingkat inflasi diperkirakan berada dalam target inflasi nasional 3,0 ± 1% (yoy), namun lebih tinggi dibandingkan keseluruhan tahun 2019. Meningkatnya tekanan inflasi pada 2020 diperkirakan bersumber dari komoditas-komoditas bahan pangan akibat faktor fundamental, yaitu masih tingginya ketergantungan Provinsi Riau terhadap pasokan dari luar daerah. Komoditas-komoditas dimaksud antara lain: (i) beras, dengan kebutuhan dari luar Riau sekitar 70% konsumsi Riau, (ii) telur ayam ras, dengan kebutuhan dari luar Riau sekitar 98% konsumsi Riau, (iii) daging ayam ras, dengan kebutuhan luar Riau sekitar 82% konsumsi Riau, (iv) cabai merah, dengan kebutuhan sekitar 25%, (v) bawang merah, dengan kebutuhan sekitar 92%, (vi) daging sapi, sebesar 80%, dan (vii) bawang putih, yang hampir 100% berasal dari luar Riau.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel