Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat November 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
​Perekonomian Papua Barat pada triwulan III 2019 tumbuh meningkat seiring kinerja sektor utama yang mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 tercatat 2,96% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan II 2019 sebesar -0,50% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 membaik dipengaruhi oleh kinerja sektor lapangan usaha (LU) utama yaitu LU industri pengolahan dan LU pertambangan penggalian yang lebih baik dibanding triwulan sebelumnya. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ini didorong oleh investasi yang cukup solid ditengah masih rendahnya konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri, dan tingginya impor luar negeri

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan IV 2019 diperkirakan meningkat dibanding triwulan III 2019. Peningkatan ini diperkirakan berasal dari keseluruhan indikator. Dari sisi pengeluaran, konsumsi RT diperkirakan cukup tinggi seiring daya beli yang masih terjaga dengan inflasi berada pada level rendah. Selain itu, terdapat momen perayaan Natal dan Tahun Baru yang ditengarai akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat di Papua Barat. Konsumsi pemerintah diperkirakan akan terakselerasi mengingat realisasi belanja pemerintah saat ini masih di level 41%. Dengan demikian, pemerintah akan fokus untuk membelanjakan dananya pada triwulan akhir di tahun 2019. Kinerja ekspor diperkirakan cenderung lebih baik guna mengejar target ekspor sampai dengan akhir tahun 2019. Hal ini juga didukung dengan kinerja lifting LNG yang optimal seiring tidak adanya maintenance pada triwulan dimaksud. Ekspor LNG Papua Barat memiliki porsi sekitar 95% dari total ekspor Papua Barat. Sementara itu, impor diperkirakan masih cukup solid namun tidak setinggi triwulan sebelumnya yang ditengarai telah terealisasinya sebagian besar impor alat kerja pada triwulan sebelumnya. Selanjutnya, investasi (PMTB) yang menjadi penopang perekonomian pada triwulan ini diperkirakan masih cukup kuat seiring beberapa proyek pembangunan yang saat ini sedang dalam proses pembangunan baik swasta maupun negeri seperti proyek Train III Tangguh LNG, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, pengembangan bandara, serta jalan Trans Papua.

Secara kumulatif, ekonomi Papua Barat tahun 2019 diperkirakan tetap tumbuh positif walaupun lebih rendah dibanding tahun 2018. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Papua Barat diperkirakan berada pada kisaran 2,4% - 2,8% (yoy), melambat dibanding pertumbuhan tahun 2018 sebesar 6,24% (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya kinerja LNG di tahun 2019 yang bersumber dari produksi yang kurang optimal seiring proses maintenance kilang minyak train I di triwulan I dan triwulan II 2019. Sebagaimana diketahui, ekonomi Papua Barat sangat didominasi sektor migas terutama LNG. Terjadinya perlambatan ekonomi dunia termasuk negara mitra dagang utama Papua Barat, yaitu Tiongkok dan Jepang, turut menjadi downside risk terhadap permintaan LNG.

Inflasi Papua Barat tercatat terjaga pada triwulan III 2019. Pada periode ini inflasi tercatat sebesar 2,69% (yoy), menurun bila dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat  sebesar 2,75% (yoy). Berdasarkan kelompoknya, penurunan inflasi tahunan terutama disebabkan oleh kelompok bahan makanan. Sementara, inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau menjadi pendorong inflasi pada periode ini. Pada periode ini, tekanan inflasi cukup rendah terjadi pada inflasi bahan makanan. Rendahnya inflasi ini disebabkan oleh terkoreksinya beberapa harga bahan pangan seperti daging ayam ras, beras, ikan teri dan ikan kawalina seiring terjaganya pasokan karena peningkatan produksi yang terjadi di daerah hasil, serta didukung oleh kondisi cuaca yang cukup baik. Selanjutnya, penurunan kelompok ini juga diikuti oleh penurunan inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat menurun dari 6,11% (yoy) menjadi 3,74% (yoy). Penurunan ini disumbang oleh tarif angkutan udara, seiring dengan kebijakan pemerintah yang melakukan penyesuaian TBA, pemberian diskon untuk maskapai LCC, serta masuknya maskapai penerbangan baru di Papua Barat sehingga menyebabkan tarif angkutan udara secara agregat mengalami penurunan. Sementara itu, meskipun menurun namun inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau masih tergolong cukup tinggi di level 5,89%(yoy). Peningkatan ini terutama didorong oleh harga roti manis dan harga rokok. Untuk rokok, Keputusan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok dengan rerata tertimbang sebesar 23% dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35% pada 2020 diduga mendorong peningkatan tekanan inflasi pada komoditas tersebut.
  
Inflasi tahunan Papua Barat pada triwulan IV 2019 diperkirakan pada kisaran 2,9% s.d. 3,3% (yoy), di atas inflasi pada triwulan III 2019 yang sebesar 2,69% (yoy). Dari sisi permintaan, permintaan diperkirakan meningkat seiring adanya momen hari besar keagamaan nasional Natal dan Tahun Baru 2020. Selain itu, realisasi belanja pemerintah daerah yang diakselerasi pada akhir tahun berjalan menyebabkan pengeluaran belanja pemerintah daerah meningkat sehingga turut meningkatkan permintaan akan barang dan jasa. Khususnya dengan angkutan udara, permintaan diperkirakan juga akan meningkat selama triwulan IV 2019 sesuai dengan pola historisnya. Namun, inflasi angkutan udara tahun ini diperkirakan tidak setinggi inflasi angkutan udara tahun lalu. Hal ini karena tarif angkutan udara sudah berada pada level tinggi sejak Oktober 2018, sehingga selisih harga saat ini bila dibandingkan periode tahun lalu tidak terlalu berbeda jauh. Dalam mengatasi tingginya tarif angkutan udara ini, pemerintah melalui kementerian perhubungan telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meredam harga, diantaranya yaitu penurunan Tarif Batas Atas (TBA) tiket pesawar sebesar 12%-16% dan pemberian tarif diskon untuk penerbangan menggunakan maskapai Low Cost Carrier (LCC) setiap hari selasa, kamis, sabtu pukul 10.00-14.00 waktu setempat. Di samping itu, masuknya penerbangan baru di Papua Barat menyebabkan harga angkutan udara secara agregat mengalami penurunan.

Stabilitas sistem keuangan daerah Papua Barat pada triwulan III 2019 masih terjaga. Berbagai indikator sistem keuangan masih berada pada level normal dan bahkan menunjukkan adanya penguatan. Dari sisi kinerja perbankan, Provinsi Papua pada triwulan III 2019 menunjukkan perkembangan yang positif. Indikator utama perbankan seperti pertumbuhan aset, penghimpunan DPK serta penyaluran kredit secara tahunan menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Aset perbankan tercatat tumbuh 12,29% (yoy), sementara DPK tumbuh sebesar 7,67 % (yoy) diiringi pertumbuhan kredit yang berhasil mencapai 11,43% (yoy). Perkembangan kondisi perbankan yang cukup positif menunjukkan bahwa optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat masih terus terjaga. Namun kinerja positif dari perbankan harus diimbangi dengan mitigasi risiko serta penilaian kredit yang lebih saksama. Rasio Non Performing Loan (NPL) sedikit menurun dari 4,73% di triwulan II 2019 menjadi menjadi 4,71% di periode laporan, merupakan sinyal bagi perbankan untuk tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam setiap penilaian kredit. Selain itu meningkatnya LDR dari 79,17% pada periode triwulan II 2019 menjadi 85,88% di periode laporan menunjukkan meningkatnya fungsi intermediasi perbankan.

Pada triwulan I 2020 perekonomian Papua Barat diperkirakan tetap tumbuh positif meskipun tidak setinggi perkiraan pertumbuhan pada triwulan IV 2019. Sebagaimana historis hasil survei kegiatan dunia usaha, perekonomian pada triwulan awal tahun biasanya tidak lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi di akhir tahun. Hasil tracking memperkirakan pertumbuhan ekonomi Papua Barat triwulan I 2020 berada pada kisaran 4,6% - 5.2% (yoy), lebih redah dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2019 sebesar 7,4% - 7,8% (yoy).  Meskipun rendah, namun pertumbuhan ini tetap positif yang didorong oleh terjaganya konsumsi rumah tangga, investasi, serta ekspor yang tetap solid. Secara kumulatif, Perekonomian Papua Barat tahun 2020 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonomi papua barat tahun 2019. Di Tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Papua Barat diperkirakan berada pada kisaran 4,9% - 5,3% (yoy), lebih tinggi dibanding perkiraan pertumbuhan di tahun 2019 sebesar 2,4% - 2,8% (yoy). Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan kinerja dari keseluruhan sektor utama baik dari sisi pengeluran maupun lapangan usaha.  

Inflasi Papua Barat pada triwulan I 2020 diperkirakan meningkat terbatas namun masih terjaga pada kisaran inflasi Nasional. Peningkatan inflasi pada triwulan I lebih disebabkan oleh tekanan pada kelompok inflasi yang diatur oleh pemerintah, sementara dari kelompok inflasi volatile food dan inti diperkirakan terjaga. Laju inflasi Papua Barat di tahun 2020 diperkirakan meningkat terbatas dibanding tahun 2019. Inflasi tahunan Papua Barat 2020 diproyeksikan pada kisaran 3,3% - 3,7% (yoy). Meskipun demikian, nilai inflasi ini masih berada pada sasaran target inflasi nasional sebesar 3,0±1%. Peningkatan inflasi didorong oleh tekanan pada kelompok inflasi yang diatur oleh pemerintah, sementara inflasi volatile food diperkirakan meningkat terbatas, dan inflasi inti diperkirakan stabil. Apabila dilihat berdasarkan kelompok, kelompok makanan jadi,minuman, rokok, dan tembakau serta kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar ditengarai menjadi andil penyebab utama inflasi di tahun depan. Sementara, inflasi kelompok bahan makanan serta kelompok transpor dan komunikasi diperkirakan meningkat terbatas.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel