​Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Februari 2020​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
​Perekonomian Papua Barat pada triwulan IV 2019 tumbuh terakselerasi seiring kinerja konsumsi pemerintah yang ekspansif dan investasi yang cukup solid. Dengan demikian, secara kumulatif perekonomian Papua Barat tahun 2019 tercatat 2,66% (yoy), tumbuh positif meskipun lebih rendah dibandingkan tahun 2018.  Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2019 terakselerasi yang dipengaruhi oleh konsumsi pemerintah dan investasi. Selanjutnya, lapangan usaha (LU) utama yaitu industri pengolahan dan pertambangan tercatat tumbuh sangat tinggi sehingga mendorong ekonomi pada triwulan ini. Secara kumulatif, perekonomian tahun 2019 tumbuh positif meskipun lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Terkontraksinya ekspor menjadi penyebab utama melambatnya perekonomian ditengah masih cukup kuatnya permintaan domestik (konsumsi dan investasi).

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan I 2020 diperkirakan tumbuh positif meskipun lebih rendah dibanding triwulan IV 2019. Tumbuh positifnya ini dipengaruhi oleh kinerja konsumsi rumah tangga yang diperkirakan mampu menopang perekonomian di triwulan I 2020. Meski tumbuh positif, namun realisasi belanja pemerintah yang belum optimal sebagaimana pola historisnya dapat menahan pertumbuhan ekonomi. Sementara, stabilnya produksi LNG serta masih berlangsungnya musim dingin di Asia Timur dapat mendorong ekspor di triwulan I 2020. Namun, terdapat downside risk ekspor yaitu turunnya permintaan LNG dunia seiring masih berlansungnya perang dagang dan merebaknya virus corona covid-19 menjadi kekhawatiran dunia dan menimbulkan persepsi negatif terhadap volume perdagangan dunia sehingga diperkirakan dapat menghambat kinerja ekspor Papua Barat. Selanjutnya, investasi tetap solid ditengah pembangunan berbagai proyek pemerintah maupun swasta di Papua Barat antara lain pembangunan train III Tangguh LNG, pengembangan bandara di beberapa kabupaten, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Sorong, dan jalan Trans Papua. 

Inflasi Papua Barat pada tahun 2019 terjaga pada level yang rendah dan stabil. Pada bulan Desember 2019, inflasi tercatat sebesar 1,93% (yoy), menurun bila dibandingkan capaian inflasi tahun 2018 yang tercatat  sebesar 5,21% (yoy). Tingkat inflasi ini juga lebih rendah dibanding inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,72% (yoy). Secara spasial, Inflasi di Kabupaten Manokwari tercatat sebesar  4,76% (yoy) sementara di Kota Sorong tercatat sebesar 1,01% (yoy). Inflasi tahunan Papua Barat pada triwulan I 2020 diperkirakan lebih tinggi dibanding triwulan IV 2019, namun masih dalam kisaran sasaran 2,8% (yoy) – 3,02% (yoy). Tekanan inflasi diperkirakan akan dipengaruhi oleh dampak kenaikan cukai rokok serta tekanan akibat peningkatan harga komoditas dunia seperti emas dan minyak.  Daya beli masyarakat juga tetap baik yang didorong oleh peningkatan UMP tahun 2020. Satu hal yang harus diperhatikan adalah adanya ancaman upside risk  inflasi sebagai efek dari perekonomian Tiongkok yang terus menurun akibat virus corona. 

Stabilitas sistem keuangan daerah Papua Barat pada triwulan IV 2019 masih terjaga. Berbagai indikator sistem keuangan masih berada pada level normal dan bahkan menunjukkan adanya penguatan. Sektor korporasi di Papua Barat tumbuh cukup solid pada tahun 2019. Kredit perbankan pada sektor korporasi berhasil tumbuh 13,48% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada periode sebelumnya yang tercatat sebesar 11,34% (yoy). Total kredit yang disalurkan oleh perbankan ke sektor korporasi pada periode laporan tercatat sebesar Rp6,16 triliun. Dari sisi rumah tangga, konsumsi rumah tangga sepanjang tahun 2019 tumbuh sebesar 2,28% (yoy). Pertumbuhan ini tercatat lebih kecil dibanding pada tahun 2018 yang mempu mencatatkan pertumbuhan 5,13% (yoy). Meski demikian, hasil Survei Konsumen (SK) KPw BI Provinsi Papua Barat menunjukkan bahwa optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi Papua Barat stabil terjaga. Aset, penghimpunan DPK, dan penyaluran kredit yang merupakan indikator-indikator utama kinerja perbankan, secara tahunan menunjukkan pertumbuhan yang cukup meyakinkan. Aset perbankan tercatat tumbuh sebesar 25,27% (yoy) sementara DPK juga berhasil tumbuh sebesar 26,31% (yoy) dan kredit berhasil tumbuh 6,37% (yoy).

Pada triwulan II 2020 perekonomian Papua Barat diperkirakan meningkat dibandingkan perkiraan triwulan I 2020. Sebagaimana historis hasil survei kegiatan dunia usaha, perekonomian pada triwulan kedua menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan awal tahun. Hasil tracking memperkirakan pertumbuhan ekonomi Papua Barat triwulan II 2020 berada pada kisaran 4,9% - 5.3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 sebesar 4,6% - 5,0% (yoy). Peningkatan ini didorong oleh solidnya konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor luar negeri.  

Inflasi Papua Barat pada triwulan II 2020 diperkirakan meningkat. Peningkatan inflasi diperkirakan terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan pada hari raya Idul Fitri dan libur lebaran. Inflasi kelompok volatile food terutama kelompok bahan makanan yang dipengaruhi oleh imported inflation diperkirakan sedikit tertekan seiring dengan merebaknya virus corona atau covid-19 dari negara Tiongkok. Inflasi kelompok harga yang diatur oleh pemerintah diperkirakan sedikit meningkat seiring kebutuhan terhadap angkutan udara sehingga maskapai menerapkan tarif batas atas pada periode tersebut. Inflasi inti atau core tetap stabil meningkat di tengah peningkatan permintaan terhadap barang/jasa pada periode tersebut
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel