Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
Perekonomian Papua Barat pada triwulan II 2020 melambat dibandingkan triwulan I 2020 terutama disebabkan oleh dampak COVID-19. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 yang melambat disebabkan oleh kontraksi pada seluruh sektor pengeluaran, kecuali ekspor Luar Negeri (LN). Dari sisi Lapangan Usaha (LU), LU utama yaitu Industri Pengolahan dan Pertambangan tumbuh di level yang rendah. Sementara, LU Konstruksi terkontraksi.

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan III 2020 diperkirakan tumbuh positif dan meningkat dibanding triwulan II 2020. Perekonomian diperkirakan meningkat seiring mulai dibukanya seluruh aktivitas perekonomian di berbagai daerah. Meski demikian, pertumbuhan pada triwulan III 2020 masih berada dalam level yang rendah yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19

Inflasi Papua Barat pada triwulan II 2020 terjaga pada level yang rendah dan stabil. Secara tahunan, Papua Barat mengalami inflasi 1,52% (yoy). Angka ini lebih rendah dibanding inflasi pada triwulan I 2020 sebesar 2,37% (yoy). Inflasi ini juga berada di bawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 1,96% (yoy). 

Stabilitas Sistem Keuangan Daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2020 tetap terjaga ditengah melambatnya aktivitas dunia usaha sebagai dampak pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020.

Pada triwulan IV 2020 perekonomian Papua Barat diperkirakan tumbuh positif dan meningkat dibanding perkiraan triwulan III 2020. Peningkatan tersebut sesuai dengan data historis PDRB Papua Barat dan historis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Data SKDU secara triwulanan atau quarter-to-quarter (qtq) menggambarkan bahwa perekonomian akan tetap tumbuh positif pada triwulan IV.  Ekonomi pada triwulan IV 2020 diperkirakan akan didorong oleh pulihnya sebagian besar sektor ekonomi.

Inflasi Papua Barat pada triwulan IV 2020 diperkirakan meningkat dibanding perkiraan inflasi pada triwulan III 2020. Tekanan inflasi pada triwulan IV 2020 diperkirakan diakibatkan oleh meningkatnya permintaan akibat momen peringatan hari besar keagamaan nasional Natal dan Tahun Baru. Peningkatan permintaan diperkirakan terjadi pada kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) dan kelompok harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices) terutama tarif angkutan udara. Meningkatnya permintaan ini sesuai dengan pola historisnya, namun pada 2020 ini diperkirakan tekanan inflasi tidak setinggi tahun lalu akibat pandemi COVID-19.

 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel