Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020

Perekonomian Papua Barat pada triwulan II 2019 tumbuh negatif seiring kinerja sektor utama yang belum optimal. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 tercatat terkontraksi -0,50% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan I 2019 sebesar -0,26% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 yang negatif disebabkan oleh kinerja sektor lapangan usaha (LU) utama yaitu LU industri pengolahan dan LU pertambangan penggalian yang terkontraksi. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan yang negatif juga tercermin dari masih rendahnya konsumsi pemerintah dan ekspor luar negeri.

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan III 2019 diperkirakan meningkat dibanding triwulan II 2019. Peningkatan ini juga semakin terlihat setelah pertumbuhan triwulan II 2019 mencatat angka negatif. Dari sisi pengeluaran, konsumsi RT diperkirakan masih cukup tinggi seiring daya beli yang masih terjaga akibat peningkatan UMP 2019, serta pemberian gaji ke-13 bagi ASN. Daya beli yang cukup baik ini akan mendorong masyarakat untuk melakukan konsumsi. Selanjutnya, konsumsi LNPRT diperkirakan tumbuh namun tidak setinggi pertumbuhan triwulan II 2019. Investasi (PMTB) juga diperkirakan akan tumbuh solid dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2019. Kinerja ekspor luar negeri (LN) diperkirakan kembali normal seiring dengan pengaruh produksi LNG yang mulai stabil. Ekspor LNG Papua Barat itu sendiri memiliki pangsa yang dominan sekitar 95% dari seluruh komoditas ekspor Papua Barat. Selanjutnya, impor juga diperkirakan melambat seiring impor barang modal untuk kebutuhan pembangunan beberapa proyek yang sudah terealisasi di semester pertama tahun ini. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), LU utama yaitu industri pengolahan dan pertambangan penggalian diperkirakan akan tumbuh membaik setelah pada dua triwulan awal mengalami kontraksi. Pertumbuhan ini seiring dengan normalisasi produksi LNG Tangguh pasca maintenance pada triwulan II 2019.

Inflasi tahunan Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 sebesar 1,81% (yoy) menurun jika dibandingkan dengan triwulan I 2019. Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan laju inflasi berasal dari kelompok bahan makanan. Sementara, inflasi pada kelompok transportasi,komunikasi, & jasa keuangan terutama sub kelompok transportasi tercatat tinggi. Kelompok bahan makanan mencatat deflasi yang disumbang oleh terkoreksinya komoditas daging ayam ras, dan ikan segar (ikan teri, ikan cakalang/sisik, ikan kawalina, ikan kembung, ikan mumar). Secara umum, harga daging ayam ras mengalami koreksi harga secara nasional seiring pasokan yang berlimpah terutama pasokan bibit ayam (Day Old Chicks/DOC). Disamping itu, pasokan ikan segar ditengarai relatif lebih baik dibanding tahun lalu sehingga harga ikan segar tidak semahal harga pada tahun lalu. Sementara itu, ditengah penurunan inflasi bahan makanan, inflasi kelompok transportasi tercatat tinggi yang didorong oleh tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara yang mengalami peningkatan sejak November tahun 2018 hingga akhir triwulan II 2019 ini belum mengalami penurunan harga secara signifikan. Tekanan pada angkutan udara juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat akan transportasi udara seiring dengan peringatan Hari Raya Idul Fitri dan Libur Lebaran yang terjadi selama triwulan II 2019.

Stabilitas sistem keuangan daerah Papua Barat pada triwulan II 2019 masih terjaga. Berbagai indikator sistem keuangan masih berada pada kisaran angka normal. Berbagai indikator sistem keuangan masih berada pada level normal dan bahkan menunjukkan adanya penguatan. Dari sisi kinerja perbankan, Provinsi Papua pada triwulan II 2019 menunjukkan perkembangan yang positif. Indikator utama perbankan seperti pertumbuhan aset, penghimpunan DPK serta penyaluran kredit secara tahunan menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Aset perbankan tercatat tumbuh 15,56% (yoy), sementara DPK tumbuh meyakinkan sebesar 16,15 % (yoy) diiringi pertumbuhan kredit yang berhasil mencapai 14,18% (yoy). Perkembangan kondisi perbankan yang cukup positif menunjukkan bahwa optimimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat masih terus terjaga. Namun kinerja positif dari perbankan harus diimbangi dengan mitigasi risiko serta penilaian kredit yang lebih saksama. Meningkatnya rasio Non Performing Loan (NPL) dari 3,63% di triwulan I 2019 menjadi menjadi 4,73% di periode laporan, merupakan sinyal bagi perbankan untuk tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam setiap penilaian kredit. Selain itu turunnya LDR dari 85,25% pada periode triwulan I 2019 menjadi 79,17% di periode laporan menunjukkan berkurangnya fungsi intermediasi perbankan.

Secara triwulanan, ekonomi Papua Barat pada triwulan IV 2019 diperkirakan lebih tinggi dibanding perkiraan ekonomi triwulan III 2019. Beberapa faktor mempengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi di triwulan IV 2019. Selain pengaruh dari solidnya produksi LNG paska maintenance di triwulan II 2019, terdapat momen peringatan hari raya Natal dan tahun baru yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan dari sisi konsumsi. Dari sisi pemerintah, pemerintah daerah pun akan mendorong akselerasi belanja daerah sehingga berdampak pada sektor usaha lain di Papua Barat. Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh base effect rendahnya pertumbuhan di triwulan IV 2019 yang berada pada level 0,18% (yoy). Secara kumulatif, ekonomi Papua Barat tahun 2019 diperkirakan tetap tumbuh walaupun lebih rendah dibanding tahun 2018. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Papua Barat diperkirakan berada pada kisaran 3,5% - 3,9% (yoy), melambat dibanding pertumbuhan pada tahun 2018 sebesar 6,24% (yoy). Ekonomi Papua Barat sangat didominasi dari sektor migas terutama LNG. Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya kinerja LNG di tahun 2019 yang bersumber dari produksi yang kurang optimal seiring maintenance kilang train I di triwulan I dan triwulan II 2019. Perlambatan ekonomi dunia termasuk negara mitra dagang utama Papua Barat yaitu Tiongkok dan Jepang menjadi downside risk pertumbuhan ekonomi. Perlambatan ekonomi dunia dapat berdampak pada turunnya volume perdagangan dunia serta harga komoditas

Sementara itu, Tekanan inflasi Papua Barat pada triwulan IV 2019 diperkirakan meningkat dibandingkan perkiraan inflasi triwulan III 2019. Peningkatan ini seiring momen perayaan Natal dan Tahun baru. Sementara, Laju inflasi Papua Barat di tahun 2019 diperkirakan melandai dibanding tahun 2018. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan pada kisaran 3,3% - 3,7% (yoy). Penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh terkoreksinya harga kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar. Selain itu, inflasi kelompok bahan makanan diperkirakan melandai disebabkan oleh terjaganya pasokan berbagai komoditas pada kelompok tersebut seiring upaya peningkatan produksi dan jalur distribusi yang terus berjalan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel