Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Papua Barat November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020
​ 
Perekonomian Papua Barat tumbuh dari 2,01% (yoy) pada triwulan II 2017 menjadi 3,48% (yoy) pada triwulan III 2017. Dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi pemerintah dan investasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara dari sisi penawaran, tingginya pertumbuhan perekonomian Papua Barat pada triwulan III 2017 terutama disebabkan oleh meningkatnya kinerja sektor konstruksi. Memasuki triwulan IV 2017, perekonomian Papua Barat diperkirakan cenderung meningkat didukung oleh perbaikan di lapangan usaha utama yang ditopang dengan membaiknya kinerja sektor konstruksi dan sektor industri pengolahan. Sedangkan, sisi permintaan diperkirakan menguat khususnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.
Inflasi Papua Barat tercatat menurun pada triwulan III 2017, yaitu sebesar 1,71% (yoy), lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang mencapai 3,93% (yoy). Penurunan laju inflasi ini terutama disumbang oleh menurunnya tekanan inflasi kelompok volatile food seiring dengan normalisasi permintaan pasca hari raya Idul Fitri. Di sisi lain, inflasi kelompok inti mengalami sedikit peningkatan inflasi baik dari sisi inflasi trade dan non trade. Inflasi tahunan pada triwulan IV 2017 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2017 didorong oleh meningkatnya tekanan pada kelompok volatile food sejalan dengan naiknya permintaan selama periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2018.
Stabilitas keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan III 2017 masih terjaga. Kinerja perbankan menunjukkan pertumbuhan yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya terutama pada penyaluran kredit, DPK, dan aset perbankan. Sementara itu, risiko kredit yang disalurkan kepada sektor korporasi sedikit meningkat tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sektor korporasi mengalami peningkatan dari 6,71% di triwulan II 2017 menjadi 6,81% pada triwulan laporan. Selain itu, risiko kredit pada kredit rumah tangga masih terjaga dengan baik ditunjukkan dengan NPL kredit sektor rumah tangga yang tercatat pada level 1,62% pada triwulan laporan, sedikit meningkat dibanding triwulan II 2017 yang berada pada level 1,44%.
Pada tahun 2018, perekonomian Papua Barat diperkirakan tumbuh pada rentang 3,30%- 3,70% (yoy), lebih tinggi dibanding tahun 2017 disertai dengan tekanan inflasi yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh meningkatnya kinerja investasi dan ekspor luar negeri. Dari sisi sektoral, ekspansi disebabkan oleh meningkatnya sektor pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan karena harga minyak dunia yang semakin membaik dan meningkatnya permintaan negara mitra dagang importir LNG yang merupakan komoditas utama Papua Barat. Di sisi lain, perkembangan inflasi Papua Barat pada tahun 2018 diperkirakan akan dominan dipengaruhi oleh peningkatan harga kelompok core namun cenderung tetap rendah seiring dengan stabilnya nilai tukar rupiah dan tren penurunan inflasi global. Inflasi pada tahun 2018 diperkirakan masih tetap berada dalam batas target inflasi nasional.​
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel