Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Papua Barat Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020

Pada triwulan I 2018, perekonomian Papua Barat tumbuh positif sebesar 5,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar 6,32% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan ini didorong oleh akselerasi lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 4,17% (yoy). Secara keseluruhan perekonomian Papua Barat di tahun 2017 sebesar 4,01% (yoy). Sementara itu, dari sisi pengeluaran, perekonomian Papua Barat ditopang oleh ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 19,60% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan IV 2017. Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, perekonomian Papua Barat pada triwulan II 2018 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Peningkatan akan didorong oleh membaiknya kinerja lapangan usaha industri pengolahan dibandingkan dengnan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan dari sisi pengeluaran, ekspansi perekonomian Papua Barat akan didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring dengan jatuhnya Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan tersebut yang juga diikuti oleh peningkatan konsumsi pemerintah seiring jadwal pembayaran tunjangan hari raya dan gaji ke-13.

Stabilitas keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan I 2018 cukup terjaga dengan indikator yang masih berada dalam batas yang normal. Kinerja perbankan Provinsi Papua Barat pada triwulan IV 2017 secara umum menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari menurunnya pertumbuhan aset, DPK, dan penyaluran kredit. Selanjutnya, intermediasi perbankan yang tercermin dari nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 83,72%, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Hal tersebut didukung dengnan rasio kredit bermasalah yang mengalami perbaikan sebagaimana tercermin dari penurunan angka NPL menjadi sebesar 3,32%. Namun, spread suku bunga DPK dengan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi mengindikasikan efisiensi biaya intermediasi masih perlu ditingkatkan. Dari sisi eksposure perbankan pada sektor korporasi, pertumbuhan kredit korporasi masih melambat tetapi disertai dengan penurunan rasio NPL pada triwulan laporan. Rasio NPL pada sektor korporasi menurun dari 3,24% di triwulan IV 2017 menjadi 2,13% pada triwulan laporan, rasio NPL tersebut masih berada dalam level yang wajar. Sementara itu, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada sektor rumah tangga triwulan laporan melambat namun masih tetap tinggi. Kualitas kredit pada sektor rumah tangga juga masih terjaga dengan baik, tercermin dari rasio NPL yang tercatat pada level 1,77%.

Pada tahun 2018, perekonomian Papua Barat diperkirakan tumbuh pada rentang 4,2% - 4,6% (yoy), mengalami peningkatan terbatas dibanding tahun 2017 disertai dengan tekanan inflasi yang meningkat namun tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi tersebut disebabkan oleh membaiknya kinerja ekspor luar negeri didorong oleh produksi LNG yang optimal seiring belum ada rencana maintenance rutin di tahun ini. Selain itu, komitmen pemda untuk melakukan percepatan pada proses pengadaan terutama pada proyek insfrastruktur yang akan mampu meningkatkan kinerja investasi. Dari sisi sektoral, pertumbuhan Papua Barat masih akan ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi. Selain didorong oleh industri LNG, industri pengolahan semen juga mampu menopang kinerja sektor industri pengolahan setelah semakin terbukanya pasar ekspor dan kapasitas produksi belum terpakai yang masih tinggi. Sementara itu, sektor konstruksi juga diperkirakan mampu mendorong perekonomian Papua Barat seiring dengan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan realisasi anggaran terutama untuk membangun infrastruktur masyarakat (sekolah, rumah sakit, dsb.). Di sisi lain, laju inflasi Papua Barat di tahun 2018 diperkirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan pada kisaran 3,4% - 3,8% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh risiko tekanan pada kelompok inti dan volatile food.Tekanan inflasi khususnya yang berasal dari kelompok volatile food berpotensi meningkat yang dipicu oleh belum optimalnya struktur pertanian, peternakan, dan perikanan sehingga Papua Barat masih sangat tergantung dengan pasokan dari luar daerah.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel