Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Papua Barat Februari 2018​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020
​Pertumbuhan ekonomi Papua Barat mengalami peningkatan dari 3,08% (yoy) pada triwulan III 2017 menjadi 6,32% (yoy) pada triwulan IV 2017. Peningkatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh perbaikan di seluruh sektor utama Papua Barat, yaitu: sektor industri pengolahan, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor konstruksi. Di samping itu, meningkatnya kinerja ekspor barang dan jasa, konsumsi rumah tangga, dan investasi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan IV 2017. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 4,01% (yoy) di tahun 2017. 
 
Perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison mengindikasikan perekonomian Papua Barat pada triwulan I 2018 tetap tumbuh positif meskipun lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih rendah diperkirakan karena kinerja seluruh sektor utama cenderung kurang optimal pada awal tahun. Sedangkan dari sisi permintaan, perlambatan diperkirakan terjadi pada ekspor barang dan jasa, investasi (PMTB), dan konsumsi pemerintah. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 diperkirakan berada pada kisaran 3,9% - 4,3% (yoy). Secara keseluruhan tahun 2018, perekonomian Papua Barat juga diproyeksikan tumbuh meningkat di kisaran 3,8% - 4,2% (yoy).
 
Inflasi Papua Barat tercatat menurun pada triwulan IV 2017, ditengah meningkatnya pertumbuhan ekonomi Papua Barat. Laju inflasi tahunan pada triwulan laporan tercatat 1,44% (yoy), lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan III 2017 yang mencapai 1,71% (yoy). Penurunan laju inflasi ini terutama disumbang oleh menurunnya tekanan inflasi kelompok volatile food akibat beberapa harga komoditas utama seperti daging ayam ras, ikan cakalang, bawang merah, bawang putih, beras, dan cabe rawit yang mengalami deflasi. Selain itu, inflasi kelompok inti juga mengalami sedikit penurunan inflasi yang dipengaruhi oleh harga dari gula pasir, dan semen. Sementara itu, inflasi administered prices menjadi penyumbang terbesar inflasi seiring meningkatnya permintaan pada kelompok angkutan udara selama libur akhir tahun dan hari raya natal 2017.
 
Inflasi tahunan Papua Barat pada triwulan I 2018 diperkirakan pada kisaran 1,10% - 1,50% (yoy), tidak jauh berbeda dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,44% (yoy). Tekanan inflasi akan dipengaruhi oleh kelompok volatile food khususnya ikan segar. Tingginya curah hujan dan gelombang laut pada triwulan I 2018 dapat menyebabkan pasokan ikan segar terganggu. Sementara, tekanan inflasi pada kelompok administered prices diperkirakan akan sedikit berkurang mengingat tidak adanya periode hari raya pada akhir triwulan I 2018. Selain itu, inflasi inti juga diperkirakan masih stabil dan tidak akan bergejolak.
 
Stabilitas keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan IV 2017 cukup terjaga. Kinerja perbankan Provinsi Papua Barat pada triwulan IV 2017 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari meningkatnya pertumbuhan aset, DPK, dan penyaluran kredit. Selanjutnya, Nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan IV 2017 relatif stabil di angka 79,22%. Rasio kredit bermasalah di Papua Barat juga mengalami perbaikan sebagaimana tercermin dari penurunan angka NPL menjadi sebesar 4,95%. Namun, spread suku bunga DPK dengan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi mengindikasikan efisiensi biaya intermediasi masih perlu ditingkatkan.

Resiko kredit yang disalurkan kepada sektor korporasi Provinsi Papua Barat sedikit meningkat pada triwulan IV 2017 namun masih dalam batas aman. Hal ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sektor korporasi yang mengalami peningkatan dari 3,21% di triwulan III 2017 menjadi 3,24% pada triwulan laporan. Sementara, resiko kredit pada kredit rumah tangga masih terjaga dengan baik, NPL kredit sektor rumah tangga berada di bawah batas ketentuan Bank Indonesia (5%) yang tercatat sebesar 1,38% pada triwulan laporan.
 
Transaksi pembayaran nilai besar melalui BI-RTGS pada Triwulan IV 2017 tercatat meningkat baik secara nilai transaksi maupun dari sisi volume jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (qtq).  Sementara transaksi non tunai melalui SKNBI juga mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pengelolaan uang Rupiah di Papua Barat menunjukkan peningkatan net outflow seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan akhir tahun. Selama bulan Januari hingga Desember 2017, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat telah melakukan kegiatan kas keliling dalam dan luar kota sebanyak 95 (sembilan puluh lima) kali dengan rincian 79 kali kas keliling dalam kota dan 16 kali kas keliling luar kota.
 
Pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada tahun 2018 diperkirakan mengalami peningkatan terbatas dibandingkan tahun 2017 diiringi dengan inflasi yang meningkat namun tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada tahun 2018 diperkirakan berada pada rentang 3,8% - 4,2% (yoy).
 
Laju inflasi Papua Barat di tahun 2018 diperkirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan pada kisaran batas bawah 3,4% - 3,8% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh risiko tekanan pada kelompok kelompok inti dan volatile food.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel