​Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Papua Barat Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020
Pada triwulan II 2018, ekonomi Papua Barat tumbuh sebesar 12,83% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2018 yang tercatat sebesar 5,87% (yoy). Akselerasi ekonomi ini disebabkan oleh kinerja yang solid pada lapangan usaha (LU) utama Papua Barat, yaitu: LU industri pengolahan serta LU pertambangan dan penggalian. Dari sisi pengeluaran, pada triwulan II 2018 ekonomi Papua Barat didorong oleh meningkatnya seluruh komponen pengeluaran terutama ekspor luar negeri. Ekspor luar negeri tumbuh cukup solid yang didorong oleh meningkatnya produksi komoditas ekspor utama Papua Barat yang dapat terserap oleh pasar. Dari sisi lapangan usaha (LU), perekonomian Papua Barat tumbuh cukup tinggi didorong oleh solidnya kinerja LU utama Papua Barat, yaitu: industri pengolahan serta pertambangan dan pengolahan. Kedua LU ini menyumbang andil cukup besar pada PDRB Papua Barat. Sementara itu, dua LU dengan pangsa besar lainnya yaitu LU konstruksi dan LU pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh melambat. Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, perekonomian Papua Barat pada triwulan III 2018 diprakirakan tumbuh melambat dibanding triwulan II 2018. Perlambatan disebabkan oleh kinerja LU industri pengolahan dan LU pertambangan dan penggalian yang diprakirakan terdeselerasi seiring dengan produksi komoditas LNG yang tumbuh melambat. Namun, ekonomi Papua Barat masih tetap tumbuh positif ditopang oleh kinerja LU konstruksi yang diprakirakan terakselerasi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya pengerjaan proyek infrastruktur pemerintah dimana pada dua triwulan sebelumnya masih belum optimal. Dari sisi pengeluaran, ekonomi Papua Barat akan ditopang oleh ekspor luar negeri dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang diprakirakan tumbuh lebih tinggi seiring dengan tren meningkatnya permintaan komoditas ekspor dari negara mitra dagang dan percepatan realisasi belanja modal pemerintah. Ekonomi Papua Barat pada triwulan III 2018 diprakirakan tumbuh pada kisaran 6,7 - 7,1% (yoy).

Inflasi Papua Barat tercatat meningkat pada triwulan II 2018. Laju inflasi tahunan pada triwulan laporan tercatat 3,42% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan dengan triwulan I 2018 yang tercatat 1,55% (yoy). Peningkatan laju inflasi tahunan terutama berasal dari kelompok bahan makanan antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, kangkung, cabai, telur ayam ras. Peningkatan juga didorong oleh inflasi pada komoditas angkutan udara. Selain itu, inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau juga cukup tinggi. Inflasi tahunan Papua Barat pada triwulan III 2018 diperkirakan pada kisaran 4,10% - 4,50% (yoy), mengalami peningkatan dari triwulan II 2018 yang sebesar 3,42% (yoy).

Stabilitas keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2018 cukup terjaga meskipun kinerja perbankan Provinsi Papua Barat agak terhambat. Pertumbuhan aset, DPK, dan penyaluran kredit menunjukkan penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Intermediasi perbankan yang tercermin dari nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar  80,53%, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 83,72%. Berikutnya, rasio kredit bermasalah di Papua Barat mengalami perbaikan sebagaimana tercermin dari penurunan angka NPL menjadi sebesar 3,22%. Namun, spread suku bunga DPK dengan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi mengindikasikan efisiensi biaya intermediasi masih perlu ditingkatkan. Risiko kredit yang disalurkan kepada sektor korporasi Provinsi Papua Barat yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) masih berada dalam level yang wajar dan berada di bawah ketentuan Bank Indonesia (5%). Pada triwulan laporan, rasio NPL sektor korporasi tercatat sebesar 2,13%, dan sektor rumah tangga tercatat sebesar 3,28%.

Secara akumulasi, perekonomian Papua Barat pada tahun 2018 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2017. Ekonomi Papua Barat diprakirakan berada pada kisaran 7,5% - 7,9% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Papua Barat yang lebih tinggi akan didorong oleh meningkatnya kinerja ekspor barang dan jasa. Ekspor barang dan jasa diprakirakan akan terakselerasi seiring dengan meningkatnya produksi LNG. Peningkatan produksi disebabkan oleh tidak adanya proses maintenance di fasilitas kilang Train 2 sebagaimana terjadi pada tahun lalu. Selain itu, produksi LNG yang meningkat akan tetap terserap oleh pasar meskipun perekonomian negara mitra dagang diproyeksi melambat mengingat keperluan penggunaannya untuk kebutuhan industri. Dari sisi lapangan usaha (LU), akselerasi ekonomi Papua Barat akan didorong oleh kinerja LU pertambangan dan penggalian dan LU industri pengolahan. Kedua LU ini merupakan value chain dari komoditas LNG. Pertumbuhan kedua LU utama Papua Barat ini diprakirakan cukup solid seiring dengan lifting yang lebih tinggi dan pengolahan LNG yang lebih optimal dibanding masa maintenance kilang LNG Train 2 pada tahun 2017. Selain diwakili oleh industri LNG, industri pengolahan semen juga mampu memberi andil pada kinerja LU industri pengolahan setelah terbukanya pasar tujuan ekspor baru ke Republik Chili, Timor Leste, dan Filipina. Masih tingginya potensi ekspor komoditas semen juga terlihat dari produksi semen yang masih belum optimal atau masih di bawah kapasitas produksinya. 

Laju inflasi Papua Barat di tahun 2018 diprakirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan pada kisaran 3,7% - 4,1% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh risiko tekanan pada kelompok bahan makanan dan kelompok sandang, kesehatan, dan pendidikan; rekreasi; dan olahraga. Di sisi lain, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan diprakirakan mengalami penurunan tekanan inflasi.Tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan berpotensi naik dipicu oleh masih tingginya ketergantungan Papua Barat pada daerah lain untuk memenuhi pasokan komoditas bahan makanan terutama daging ayam ras dan telur ayam ras. Selain itu, struktur pertanian dan perikanan yang belum kuat juga membuat pasokan komoditas bumbu-bumbuan dan ikan segar cenderung tidak stabil sehingga berisiko mendorong kenaikan harga. Potensi risiko yang juga perlu diwaspadai adalah risiko miss-match permintaan dan pasokan pada event-event besar (seperti lebaran, liburan sekolah, Natal) sehingga terjadi peningkatan permintaan bahan pangan. Dalam hal ini, peran TPID harus dapat ditingkatkan dalam upaya menjaga tekanan inflasi bahan makanan diharapkan dapat meredam adanya risiko penurunan pasokan. Tekanan inflasi pada kelompok sandang, kesehatan, dan pendidikan; rekreasi; dan olahraga diprakirakan akan meningkat seiring dengan tekanan permintaan konsumsi yang meningkat. Beberapa komoditas yang tergabung dalam kelompok tersebut sempat menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di tahun berjalan. Hal ini disebabkan karena cuaca buruk yang menghambat pasokan yang berasal dari luar daerah.
 










sdsdsd
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel