Profil - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
27 Januari 2020
Profil Provinsi Papua
Pilih Provinsi    
​Jika berbicara mengenai Papua, seringkali yang terbayang dalam benak kita adalah keunikan ukiran kayu Suku Asmat atau keaslian budaya Suku Dani di Pegunungan Tengah Papua yang telah sangat dikenal. Disamping itu, ada pula keunikan dan keaslian budaya yang melekat pada masyarakatnya.  Papua dengan luas wilayah  421.981 Km2, atau lebih dari 20% luas daratan Indonesia atau 3,5 kali pulau Jawa, memiliki panjang pantai ± 2000 mil laut dan luas perairan sekitar 228.000 Km2. Wilayah Papua membujur dari Barat ke Timur antara Kota Sorong –Jayapura sepanjang ± 1.200 Km,  dan membujur dari utara ke selatan antara Kota Jayapura – Merauke sepanjang ± 736 Km.

orangPapua.jpgPapua merupakan daerah yang dipenuhi bukit dan gunung-gunung yang kaya dengan hutan hujan tropis ( tropical rain forest ) yang sulit dijelajahi dan sebagain besar masih merupakan hutan perawan. Salah satu puncak pegunungannya dikenal dengan nama Puncak Jaya ( Cartenz Pyramid ) yang merupakan puncak tertinggi di Indonesia yang diselimuti oleh salju abadi, dengan dikelilingi oleh kawasan konservasi Lorentz seluas 21.500 Km2 serta merupakan areal konservasi alam tertua di Indonesia. Dikawasan ini terdapat berbagai ragam kekayaan hayati dalam berbagai ekosistem, mulai dari rawa bakau sampai puncak salju.

Perang Dunia II yang terjadi di sepanjang wilayah Papua atau Perang Pasifik (Pasific War) meninggalkan fenomena tersendiri di Papua. Pada kesempatan tertentu para veteran perang yang berkebangsaan Jepang, Amerika mengadakan perjalanan memorial ke Biak, Manokwari, Sorong, Sarmi dan Jayapura. Namun sayang, reruntuhan peninggalan perang tersebut banyak yang telah menjadi besi tua dan hilang karena diperdagangkan. Salah satu peninggalan yang tersisa diantaranya adalah bekas lapangan udara di Biak yang dahulu dikenal dengan nama Mokmer serta tugu peringatan di Sentani yang dibangun oleh Jenderal Douglas McArthur.

Sejarah dan Budaya

Penduduk  Papua, saat ini berjumlah 2,2 juta  orang,  dimana proporsi  penduduk asli berjumlah kurang lebih  1,3  juta jiwa. Mereka merupakan penduduk yang masih dapat dikatakan masih sangat tradisional, kecuali pada beberapa daerah pantai yang relatif lebih maju kebudayaannya sebagai hasil interaksi dengan dunia luar.  Hingga beberapa puluh tahun yang lalu,  sebagian besar penduduk yang hidup terutama di pedalaman masih laiknya  berada di zaman batu. Masih banyak penduduk asli di pegunungan yang hanya mengenakan penutup kemaluan bagi lelaki (Koteka) dan wanitanya hanya mengenakan rok dari rumput. Perang antar suku tidak banyak terjadi lagi tetapi bukannya hilang samasekali, sedangkan pertanian tradisional masih dilakukan.

jayawijaya.jpgDi  Papua terdapat 251 bahasa atau merupakan 40% jumlah  bahasa yang dikenal di Indonesia yang jumlahnya ± 600. Bahasa di Papua jika digabungkan dengan 770 bahasa di Papua New Guinea merupakan seperlima dari bahasa yang dikenal di dunia. Sebanyak 140 bahasa di Papua hanya digunakan oleh kurang dari 1000 orang. Sepertiga dari penduduk asli Papua menggunakan salah satu dari bahasa Dani (400.000) atau bahasa Ekagi (130.000) dan hanya kedua bahasa ini dan bahasa Asmat (80.000) yang banyak dikenal.

koteka.jpg
Manusia sudah datang di New Guinea lama sebelum mereka sampai di Amerika atau bagian daratan Eropa. Bukti-bukti tidak langsung menujukkan bahwa pada sekitar 30.000 – 40.000 tahun yang lalu, nenek moyang orang pribumi Papua datang dalam kelompok kecil bersamaan waktu dengan masa pembentukan es, sehingga permukaan laut menurun. Pulau yang menyambut kedatangan para pendahulu ini sama sekali berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang. Diperkirakan kala itu bentangan es menyelimuti daerah yang luas dan salju terdapat pada ketinggian hanya 350 m di atas permukaan laut. Suhu udara 7 derajad Celcius lebih rendah dari suhu pada saat sekarang. Dalam beberapa tahap zaman es, laut Arafuru yang dangkal merupakan daratan yang berperan sebagai jembatan, sehingga penduduk asli Papua dapat bercampur dengan penduduk asli Australia. Bukti dari kejadian ini dapat disaksikan dari kesamaan gaya serta motif kerajinan batu yang dapat ditemui di sepanjang pantai barat daya Papua (pantai Kaimana) dan di Arnhem Land di Australia Utara. Dari bukti-bukti genetika dapat diketahui bahwa perpisahan kedua penduduk asli ini terjadi pada sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Orang Austronesia merupakan kelompok besar terakhir yang datang ke Papua yang telah mengenal teknologi yang tinggi, yaitu jenis senjata dan peralatan  yang lebih baik, cara bertani dan serta telah memelihara binatang peliharaan. Pada saat orang-orang Austronesia datang, penduduk asli Papua sudah hidup dalam kelompok-kelompok tani yang menetap, dalam masyarakat yang sudah cukup kompak untuk mempertahankan jatidiri, bahasa dan budaya mereka. Sekitar tahun4000 SM, orang Papua diduga telah menanam keladi dan umbi-umbian serta memelihara babi. Terdapat satu jenis umbi-umbian yang dinamakan Ipomea, berasal dari dunia baru, namun dengan cara bagaimana dapat sampai ke pedalamam Papua, adalah suatu misteri.

Perdagangan antara New Guinea dengan Indonesia tengah dan barat, mungkin sudah berlangsung sejak sebelum datangnya agama Kristen. Pedagang dari nusantara bagian barat membawa baju dan barang-barang logam untuk dipertukarkan dengan bulu burung Cenderawasih, budak belian dan kulit batang masoi, yang di Jawa digunakan untuk ramuan jamu. Orang berambut keriting yang tertera pada ukiran dinding candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-18, mungkin adalah orang Papua. Buku syair Serat Negarakertagama dari kerajaan Majapahit pada abad ke-14 juga menceritakan tentang Papua.

Pada awal abad ke-16, orang Portugis pertama yang menginjakkan kakinya di tanah Papua adalah Jorge de Meneses yaitu seorang Gubernur yang ditempatkan di Maluku. Dia adalah  orang Eropa pertama yang memberi gambaran tentang New Guinea yang dia namakan “Ilhas dos Papuas”. Selain itu, salah satu yang terkenal karena penelitiannya di New Guinea adalah Alfred Russel Wallace (1858) yang melakukan penelitian selama lima bulan di daerah teluk Dorei. Karena penelitian  biologinya menghasilkan teori tentang sejarah spesiasi yang mirip dengan teori Charles Darwin.

Pada awal abad 20 pemerintah Belanda mulai melakukan penelitian yang serius  terhadap New Guinea,  diantara penelitian yang paling penting adalah pengiriman tentara secara besar-besaran kepedalaman New Guinnea pada tahun 1907 dan 1915. Penemuan besar yang terakhir terjadi pada tahun 1938, yaitu ketika sebuah ekspedisi yang dipimpin seorang penjelajah Amerika bernama Richard Archbold, mendarat dengan pesawat terbang di danau Habbema dan menemukan lembah Baliem. Lembah Baliem Besar merupakan lembah subur, terhampar di daratan aluvial dengan ukuran 50 kali 15 kilometer, di huni oleh 50.000 suku Dani yang belum pernah berhubungan dengan dunia luar sebelum kedatangan Archbold. Pada dewasa ini lembah Baliem adalah tujuan wisata utama di  Papua.

Misionaris adalah salah satu penjelajah perintis di Papua, pada tanggal 5 Februari 1855 dua orang pendeta Jerman yang dipekerjakan oleh Gereja Protestan Belanda, datang ke Papua dan pertama kalinya menginjakkan kaki di pulau Mansinam Manokwari, yaitu pendeta Ottow dan Geisler. Dari merekalah penyebaran agama Kristen mulai dilaksanakan di Papua. Dan untuk mengenang masuknya Injil ke tanah Papua maka oleh Pemerintah Daerah tanggal 5 Februari telah ditetapkan sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua dan dinyatakan sebagi hari libur resmi untuk  Papua.

pulau.jpgPada tahun 1942, Jepang melancarkan serangan terhadap Pearl Harbour, terus ke selatan sampai di New Guinea (Papua) tanpa perlawanan yang berarti dari tentara Belanda sehingga Hollandia (Jayapura) dapat dikuasai tentara Jepang. Pada musim semi 1944, Amerika Serikat memasuki perang dengan mengerahkan tentara dan material dalam upaya perlawanan balik dibawah pimpinan Jenderal Douglas McArthur. Dengan kekuatan 1.200 pesawat terbang, 217 kapal laut dan 50.000 tentara, akhirnya McArthur dapat mendarat di Hollandia dan menguasai kota dengan korban 159 tentara sekutu. Setelah Hollandia jatuh ketangan sekutu, Biak kemudian menjadi sasaran berikutnya untuk dapat menguasai pantai utara New Guinea. Pertempuran Biak merupakan salah satu pertempuran yang paling ganas selama perang dimana tentara  Amerika menggunakan dinamit dan bahan bakar diesel untuk mengusir tentara Jepang dalam gua. Hanya 220 orang tentara Jepang selamat. Sampai sekarang masih banyak keluarga veteran mengunjungi Biak untuk menghormati anggota keluarga yang menjadi korban perang. Sekutu kemudian memperluas lapangan terbang Biak untuk pendaratan pesawat pembom besar yang mampu membalikkan gelombang perang Pasifik.
Show Left Panel