Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Papua Februari 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Perkembangan Makroekonomi Daerah
 
Kinerja perekonomian Papua pada triwulan IV 2018 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Papua pada triwulan IV 2018 terkontraksi sebesar -17,80% (yoy), menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,35% (yoy). Kontraksi ekonomi Papua pada triwulan IV 2018 disebabkan oleh mulai menurunnya produksi tambang terbesar di Papua yang telah memasuki fase akhir pertambangan terbuka serta sejalan dengan proses transisi dari pertambangan terbuka ke tambang bawah tanah. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Papua secara tahunan pada tahun 2018 mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi sebesar 7,33% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2017 yang tumbuh sebesar 4,64% (yoy).
 
Keuangan Pemerintah
 
Realisasi APBN di lingkup Provinsi Papua pada triwulan IV 2018 mengalami peningkatan baik pada pos pendapatan maupun pos belanja dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Pada triwulan IV 2018 sumber pendapatan terbesar berasal dari Pajak Dalam Negeri sedangkan realisasi belanja terbesar berasal dari Belanja Barang. Di samping itu, realisasi APBD Papua pada triwulan IV 2018 mengalami peningkatan pada pos pendapatan sedangkan pada pos belanja mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Penurunan komponen secara signifikan terjadi pada Belanja Bagi Hasil Pajak daerah kepada kabupaten/kota.
 
Perkembangan Inflasi Daerah
 
Tekanan inflasi Papua secara tahunan pada triwulan IV 2018 lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selain itu, inflasi pada tahun 2018 meningkat signifikan dibanding dengan tahun 2017. Pada triwulan IV 2018, inflasi Papua mencapai 6,36% (yoy) meningkat dibandingkan dengan triwulan III 2018 sebesar 5,31% (yoy). Dilihat dari kelompoknya, kenaikan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing sebesar 10,95% (yoy) dan 10,11% (yoy). 
 
Secara spasial, kedua kota inflasi di Papua mengalami inflasi yang searah dan menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. inflasi Kota Jayapura pada triwulan IV 2018 sebesar 6,70% (yoy) meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,63% (yoy) dan inflasi Kab. Merauke pada triwulan IV 2018 sebesar 5,42% (yoy) meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 4,43% (yoy).
 
Stabilitas Keuangan Daerah
 
Secara garis besar Kinerja keuangan sektor korporasi dan rumah tangga yang menjadi penopang stabilitas keuangan daerah secara umum di Papua terjaga dengan baik. Aspek likuiditas dan rentabilitas pada triwulan IV 2018 berada dalam kondisi yang positif, meskipun lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Begitu pula dengan pengelolaan keuangan rumah tangga yang stabil jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. 
 
Kinerja sektor korporasi di Papua pada triwulan IV 2018 masih tumbuh positif, beberapa indikator yang mencerminkan pertumbuan tersebut adalah Dana Pihak Ketiga (DPK) korporasi mengalami peningkatan yang signifikan, terus menurunnya Non-performing Loan (NPL), meskipun pertumbuhan kredit terus mengalami kontraksi sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di Papua. 
 
Sementara kinerja sektor Rumah Tangga pada triwulan IV 2018 masih tumbuh positif, tercermin dari kondisi dan risiko keuangan di sektor Rumah Tangga yang relatif terjaga. Perlambatan pertumbuhan DPK sesuai dengan siklus tahunan masyarakat dalam menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
 
Perkembangan transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Papua pada triwulan IV 2018 meningkat secara nominal maupun volume dibandingkan triwulan sebelumnya. Transaksi melalui Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada periode laporan juga tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. 
 
Sementara itu, Aliran uang kartal melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua menunjukan posisi net outflow pada triwulan IV 2018 sebesar Rp4,66 triliun. Pada triwulan ini posisi net outflow dan meningkatnya transaksi SKNBI dan RTGS disebabkan oleh masuknya periode perayaan Natal dan tahun baru yang mendorong konsumsi masyarakat.
 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
 
Secara umum perkembangan kondisi kesejahteraan masyarakat Papua cenderung membaik dan jumlah penduduk miskin di Papua menurun dari 27,76% menjadi 27,43%. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami penurunan mencapai 5,91 dibandingkan degan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 6,24. Sementara itu, Nilai Tukar Petani Papua mengimplikasikan terjadinya defisit sampai awal triwulan I 2019 dengan indeks sebesar 90,37. Nilai tersebut mengindikasikan kenaikan indeks pendapatan petani belum dapat mengimbangi kenaikan indeks biaya yang harus dibayar.
 
Prospek Ekonomi Daerah
 
Perekonomian Papua pada triwulan II 2019 diperkirakan mengalami kontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan I 2019 yang utamanya disebabkan oleh terbatasnya kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Terbatasnya kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebagai dampak dari cadangan bijih tembaga di tambang terbuka Grasberg yang diperkirakan akan habis pada triwulan II 2019 serta belum optimalnya operasional di tambang bawah tanah.
 
Tekanan inflasi Papua pada triwulan II 2019 diperkirakan lebih tinggi dari triwulan I 2019. Dengan adanya bulan Ramadhan dan perayaan HBKN Idul Fitri serta waktu yang bersamaan dengan libur dan tahun ajaran baru sekolah menjadi faktor utama pemicu kenaikan harga. Untuk keseluruhan tahun 2019, inflasi Papua diperkirakan mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2018.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel