​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Desember 2019
1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional
 
Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan I 2019 mencapai 5,09% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 5,32% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan nasional yang hanya tumbuh 5,07% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT terutama disebabkan oleh perlambatan konsumsi pemerintah seiring belum terealisasinya belanja pemerintah di awal tahun. Dari segi lapangan usaha, kontraksi di sektor pertanian menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT seiring cuaca buruk di awal tahun yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan II 2019 diperkirakan meningkat terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring momen bulan Ramadhan dan libur panjang Hari Raya Idul Fitri serta peningkatan realisasi belanja pemerintah seiring momen Pemilu.
 
2. Keuangan Pemerintah Daerah
 
Realisasi pendapatan pemerintah di Provinsi NTT pada triwulan I 2019 tercatat sebesar Rp 5,76 triliun atau 19,95% dari total rencana pendapatan tahun 2019 sebesar Rp 28,87 triliun. Pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan triwulan I 2018 yang mencapai Rp 5,38 triliun atau 20,16% dari total rencana pendapatan tahun 2018. Sementara itu, realisasi belanja pemerintah di Provinsi NTT mencapai Rp 3,94 triliun atau 8,63% dibandingkan pagu belanja tahun 2019 sebesar Rp 45,71 triliun. Pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi belanja triwulan I 2018 sebesar Rp 4,7 triliun atau 10,87% dari total pagu belanja tahun 2018.
 
3. Perkembangan Inflasi
 
Inflasi Provinsi NTT pada triwulan I 2019 masih relatif terkendali yakni sebesar 2,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 3,07% (yoy), serta di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,48% (yoy). Berdasarkan kelompok komoditas, inflasi pada triwulan I 2019 terutama didorong oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan seiring kenaikan tarif angkutan udara di tengah penurunan harga komoditas kelompok bahan makanan. Secara bulanan, inflasi Provinsi NTT menunjukkan kondisi yang relatif terjaga di mana pada bulan Januari 2019 mengalami inflasi 0,23% (mtm) dan deflasi pada dua bulan berikutnya (Februari dan Maret), masing-masing -0,51% (mtm) dan -0,31% (mtm). Kedua kota pembentuk inflasi di Provinsi NTT yakni Kota Kupang dan Maumere menunjukkan inflasi yang terkendali masing-masing sebesar 2,33% (yoy) dan 0,69% (yoy). Pada triwulan II 2019, inflasi di Provinsi NTT diperkirakan mengalami peningkatan seiring bulan Ramadhan dan liburan dalam rangka Hari Raya Idul Fitri.
 
4. Stabilitas Keuangan Daerah
 
Stabilitas sistem keuangan Provinsi NTT selama triwulan I 2019 tetap terjaga di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah sesuai pola siklus tahunan dan sedikit meningkatnya rasio kredit bermasalah. Kondisi tersebut tercermin dari tingkat intermediasi perbankan yang menurun seiring masih terbatasnya investasi pemerintah dan swasta. Pertumbuhan kredit rumah tangga melambat menjadi 6,95% (yoy) dari triwulan sebelumnya 13,36% (yoy) dengan sedikit peningkatan rasio kredit bermasalah menjadi 1,36%. Kredit korporasi mengalami kontraksi sebesar -5,28% (yoy) sebagaimana tren triwulan sebelumnya di tengah rasio kredit bermasalah yang masih tinggi yakni 6,99%. Di sisi lain, akselerasi pertumbuhan kredit UMKM sebesar 22,02% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya 19,15% (yoy) diikuti dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah menjadi 3,42% dari sebelumnya 2,76%. Sementara itu, aset perbankan pada triwulan I 2019 tumbuh melambat sebesar 6,84% (yoy) dibandingkan triwulan IV 2018 yang mencapai 11,67% (yoy).
 
5. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
 
Pada triwulan I 2019, transaksi pembayaran tunai di Provinsi NTT menunjukkan kondisi net inflow sebesar Rp 2,25 triliun meningkat 2,83% (yoy) dibandingkan triwulan I 2018. Sistem pembayaran nontunai juga mengalami peningkatan dibandingkan triwulan I 2018 yang tercermin dari peningkatan Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS), uang elektronik, dan penambahan agen Layanan Keuangan Digital (LKD). Sementara itu, transaksi penukaran valuta asing melalui Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA BB) di Provinsi NTT juga mengalami peningkatan pada triwulan I 2019 seiring dengan peningkatan jumlah wisman di Provinsi NTT.
 
6. Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
 
Perkembangan sektor ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat Provinsi NTT pada triwulan I 2019 relatif stabil. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi NTT mencapai 3,10%, sedikit mengalami peningkatan dibandingkan bulan Februari 2018 sebesar 2,98%. Meskipun demikian, pencapaian tersebut berada di bawah nasional yang mencapai 5,01% dan berada di peringkat 5 terendah dari 34 provinsi di Indonesia. Nilai Tukar Petani (NTP) yang menunjukkan daya beli petani sedikit mengalami koreksi menjadi 105,6 dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 107,2. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTT pada tahun 2018 meningkat menjadi 64,39 dibandingkan tahun 2017 yang hanya mencapai 63,73. Dengan demikian, status pembangunan manusia di Provinsi NTT adalah "sedang", melanjutkan pencapaian sejak tahun 2011.
 
7. Prospek Perekonomian Daerah
 
Perekonomian Provinsi NTT pada triwulan III 2019 diperkirakan tumbuh 4,80-5,20% (yoy). Secara keseluruhan tahun 2019, ekonomi Provinsi NTT diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,00-5,40% (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun 2018 sebesar 5,13% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perekonomian Provinsi NTT pada triwulan III 2019 diperkirakan didorong oleh peningkatan investasi. Sementara itu, dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh sektor perdagangan besar dan eceran, informasi dan komunikasi, serta administrasi pemerintahan. Faktor risiko utama yang perlu diwaspadai adalah kondisi cuaca yang sangat mempengaruhi hasil pertanian serta potensi perlambatan realisasi pembangunan infrastruktur sebagai dampak adanya Pemilu. Di sisi lain, inflasi Provinsi NTT pada triwulan III 2019 diperkirakan pada kisaran 2,90-3,50% (yoy). Kenaikan harga kelompok bahan makanan dan tahun ajaran baru menjadi pendorong inflasi pada triwulan III 2019. Secara keseluruhan tahun 2019, inflasi Provinsi NTT diperkirakan masih pada kisaran inflasi nasional yakni 2,40-2,80% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 3,07% (yoy).
 
Tabel Indikator.png



 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel