Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur Mei 2017​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
10 Desember 2019
​​​

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur pada triwulan I 2017 mengalami perlambatan jika dibandingkan triwulan IV 2016, begitu pula apabila dibandingkan triwulan I 2016. Adanya peningkatan produksi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta peningkatan kegiatan perdagangan besar dan eceran belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dikarenakan oleh menurunnya pengeluaran pada sektor jasa pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib.

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT triwulan I 2017 mencapai 4,98% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan IV 2016 yang sebesar 5,19% (yoy) begitu pula dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang tumbuh 5,07% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT tercatat berada di bawah nasional yang sebesar 5,01% (yoy). Adapun total PDRB Provinsi NTT pada triwulan I 2017 mencapai Rp 21,04 triliun.

Realisasi pendapatan pemerintah di Provinsi NTT pada triwulan I-2017 tercatat Rp5,99 triliun atau 23,38% dari total rencana pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 25,67 triliun, meningkat apabila dibandingkan triwulan I 2016 yang sebesar 20,73%. Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 3,13 triliun atau 8,91% dibandingkan pagu belanja tahun 2017 sebesar Rp 35,19 triliun, sedikit meningkat dibandingkan triwulan I 2016 yang sebesar 8,70%. Namun demikian secara nominal, realisasi belanja hanya meningkat 1,39%.

Inflasi Provinsi NTT pada triwulan I 2017 masih relatif terkendali. Adanya kenaikan inflasi di bulan Januari dan Februari dapat diredam oleh deflasi yang cukup besar di bulan Maret 2017. Kenaikan inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan inflasi komoditas administered prices seiring dengan kenaikan tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya 900VA, kenaikan biaya perpanjangan STNK ataupun kenaikan tarif cukai rokok. Adapun inflasi komoditas volatile food dan inflasi inti masih relatif terjaga

Stabilitas sistem keuangan di provinsi NTT masih menunjukkan kinerja positif yang terindikasi dari adanya pertumbuhan kredit sektor rumah tangga dan UMKM pada triwulan-I 2017. Namun, adanya peningkatan rasio Non Performing Loan (NPL) pada kedua sektor tersebut perlu dijadikan perhatian walaupun masih berada di bawah ambang batas toleransi sebesar 5%. Perlambatan sistem pembayaran masih terus berlanjut semenjak melambat di triwulan III 2016. Indikator ekonomi menunjukkan adanya perlambatan yang lebih besar, terlihat dari indikator net setoran yang mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Penggunaan fasilitas Non Tunai (SKNBI) di NTT pada Triwulan I 2017 juga mengalami penurunan seiring dengan menurunnya transaksi SKNBI secara Nasional. Perkembangan sektor kesejahteraan dan ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan di awal tahun 2017.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT triwulan III 2017 diperkirakan tumbuh pada rentang 5,0-5,4% (yoy). Sementara perkembangan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT sepanjang tahun 2017 diperkirakan masih berada pada rentang proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%-5,5% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 sebesar 5,18% (yoy). Adapun inflasi pada triwulan III 2017 diperkirakan berada pada rentang 5,0-5,4% (yoy) dan pada akhir tahun 2017 berkisar 4,4-4,8% (yoy) atau lebih tinggi daripada 2016 yang sebesar 2,48% (yoy)​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel