Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur Februari 2018​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Desember 2019

​Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2017 sedikit melambat apabila dibandingkan tahun 2016. Ekonomi tumbuh sebesar 5,16% (yoy) sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 5,17% (yoy). Indikator konsumsi yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, lembaga non profit rumah tangga dan pemerintah seluruhnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan, begitu pula Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) / investasi. Namun demikian, peningkatan PMTB/investasi dan konsumsi yang sejalan dengan peningkatan impor barang modal maupun konsumsi, baik dari dalam negeri dan luar negeri, menyebabkan PDRB Provinsi NTT tergerus dan perekonomian tidak mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Realisasi pendapatan pemerintah pada akhir tahun mencapai Rp 27,16 triliun atau 102,38% dari total target tahunan sebesar Rp 26,52 triliun. Realisasi pendapatan APBN Pemerintah Pusat di Provinsi NTT menjadi yang tertinggi yakni sebesar 874,71% atau Rp 2,60 triliun, terutama diperoleh dari Pajak Penghasilan (PPh). Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 33,55 triliun atau 89,31% dari total pagu belanja tahunan sebesar Rp 37,57, lebih tinggi dibanding capaian akhir tahun 2016 sebesar 87,11%.

Kinerja inflasi juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Walaupun sempat dibayangi kekhawatiran adanya potensi kenaikan inflasi karena kenaikan tarif listrik, biaya perpanjangan STNK di awal tahun, kenaikan harga pulsa ataupun kenaikan biaya pendidikan tinggi, namun pada akhir tahun 2017 inflasi dapat mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan nilai sebesar 2,00% (yoy). Capaian inflasi tersebut menjadi yang terendah dalam 17 tahun terakhir Provinsi NTT, terutama disebabkan oleh turunnya harga sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan seiring dengan adanya peningkatan produksi.

Selama tahun 2017 dan pada periode triwulan laporan, stabilitas sistem keuangan daerah tetap terjaga stabil seiring tidak adanya gejolak signifikan yang terjadi. Rumah tangga masih memegang kontribusi penting dalam menopang stabilitas keuangan daerah yang diukur dari besarnya penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Di akhir tahun 2017, tercatat peningkatan penyaluran kredit di sektor rumah tangga, UMKM dan korporasi yang diikuti dengan perbaikan kualitas kredit.

Secara tahunan, aktivitas sistem pembayaran tunai mengalami peningkatan. Jumlah uang yang beredar di masyarakat atau net outflow pada tahun 2017 mencapai Rp 2,13 triliun atau meningkat 51,54% (yoy) dibandingkan tahun 2016 yang sebesar Rp 1,41 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada tahun 2017 mengalami penurunan secara nominal sebesar 12,41% (yoy) menjadi Rp 11,09 triliun. Kondisi tersebut sejalan dengan penurunan nominal kliring nasional yang mencapai 23,22% (yoy). Namun, dari sisi volume, jumlah warkat kliring pada tahun 2017 justru mengalami kenaikan 1,53% (yoy) dibandingkan tahun 2016, menunjukkan bahwa rata-rata transfer dana per warkat mengalami penurunan.

Lebih lanjut, indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan pada triwulan IV 2017 juga mengalami peningkatan, tercermin dari adanya penurunan persentase penduduk miskin, kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP), serta penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Namun demikian, dengan posisi kemiskinan dan kebahagiaan yang masih pada peringkat 3 terendah secara nasional, langkah struktural dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kebahagiaan masyarakat perlu lebih digalakkan lagi. Persentase penduduk miskin NTT pada bulan September 2017 sebesar 21,38 % atau di atas nasional yang sebesar 10,12%. NTP pada triwulan laporan sebesar meningkat 1,7% dari triwulan sebelumnya menjadi 104,8, yang menunjukkan peningkatan daya beli dan daya tukar (term of trade) petani di pedesaan. Jumlah pengangguran per bulan Agustus 2017 sebesar 3,27% dari total angkatan kerja. Di samping itu, Indeks Kebahagiaan Provinsi NTT tahun 2017 menunjukkan peningkatan, dari tahun 2014 sebesar 66.22 menjadi 68,98, terutama disebabkan tingginya nilai indeks makna hidup terutama terkait dalam membangun hubungan positif dengan orang lain.

Ke depan, perekonomian pada triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,20%-5,60% (yoy), sementara secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh 4,98%-5,38% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2017 sebesar 5,16% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perekonomian masih akan ditopang konsumsi rumah tangga dan peningkatan investasi, sementara dari sisi sektoral akan didorong oleh sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran, informasi dan komunikasi serta administrasi pemerintahan, selain tetap ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Faktor risiko yang perlu diwaspadai terutama dari sisi domestik di antaranya hasil produksi pertanian dan perikanan yang masih sangat bergantung kondisi cuaca, kelanjutan pembangunan infrastruktur yang tidak sesuai target karena terpengaruh adanya Pilkada serta adanya pemotongan belanja pemerintah. Tekanan harga pada triwulan II 2018 dan keseluruhan 2018 diperkirakan masih pada kisaran inflasi nasional 3,5%±1,0%, masing-masing pada kisaran 3,20%-3,60% (yoy) dan 4,00-4,40% (yoy) dengan adanya potensi pembalikan arah harga pada tahun 2018 pasca inflasi yang rendah pada tahun 2017.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel