Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
10 Desember 2019

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan I 2017, namun sedikit melambat jika dibandingkan triwulan II 2016. Pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring adanya gaji ke-14 bagi PNS dalam rangka tunjangan Hari Raya Idul Fitri serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring realisasi investasi pembangunan infrastruktur/bangunan oleh pemerintah. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT triwulan II 2017 mencapai 5,01% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 4,98% (yoy) dan melambat dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang tumbuh 5,35% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT tercatat sama dengan nasional yang sebesar 5,01% (yoy). Adapun total PDRB Provinsi NTT pada triwulan I 2017 mencapai Rp 22,25 triliun.

Realisasi pendapatan pemerintah di Provinsi NTT pada triwulan II-2017 tercatat Rp11,74 triliun atau 46,06% dari total rencana pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 25,48 triliun, yang menurun sebesar 0,64% sebagai dampak penyesuaian pos pendapatan APBN. Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah mencapai 8,91% atau lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan I 2016 dan triwulan I 2015 yang sebesar 8,70% dan 7,30%.

Inflasi Provinsi NTT pada triwulan II 2017 masih cukup terkendali, tercermin dari nilai inflasi yang hanya sebesar 2,45% (yoy) jauh di bawah rata-rata nasional yang sebesar 4,37% (yoy) atau rata-rata 3 tahun terakhir yang mencapai 4,49% (av-yoy). Kondisi cuaca yang relatif terkendali mampu membuat harga bahan makanan mengalami penurunan di sepanjang triwulan II 2017 dan berkontribusi besar dalam menjaga inflasi di tengah kenaikan permintaan karena adanya berbagai libur keagamaan dan sekolah serta tambahan gaji ke-13 dan THR. Angkutan udara menjadi penyumbang utama tingginya inflasi komoditas pada triwulan II 2017 dengan kenaikan hingga 26,25% (yoy) dibanding tahun sebelumnya dikarenakan tingginya permintaan angkutan udara menjelang hari raya Idul Fitri dan libur sekolah.

Kinerja sistem keuangan di Provinsi NTT sampai dengan triwulan II 2017 relatif stabil, sejalan dengan kestabilan perekonomian daerah. Penyaluran kredit di Provinsi NTT pada triwulan II 2017 secara keseluruhan mencapai Rp 24,13 triliun atau tumbuh sebesar 11,03% (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan I 2017 maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 19,00% (yoy) dan 14,93% (yoy). Risiko kredit bermasalah di Provinsi NTT sampai triwulan II 2017 dinilai masih cukup terkendali. Rasio kredit bermasalah terhadap total penyaluran kredit pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 2,29%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan I 2017 (2,04%) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,84%.

Pada triwulan II 2017, aktivitas sistem pembayaran menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar. Hal ini terlihat dari terjadinya net-outflow atau uang yang beredar lebih banyak dari uang yang disetor di NTT sebesar Rp.1.356,41 miliar atau tumbuh 43,42% (yoy) dibanding triwulan II 2016 yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Peningkatan kegiatan pembayaran tersebut terutama disebabkan oleh adanya pembayaran gaji ke-14, 13 dan THR yang membuat perbankan menambah penyediaan dana tunai untuk mengantisipasi tingginya penarikan nasabah. Selain itu, adanya tahun ajaran baru, hari raya Idul Fitri, maupun libur sekolah juga meningkatkan konsumsi rumah tangga dan pemerintah dibanding triwulan sebelumnya ataupun pengeluaran pendidikan oleh rumah tangga.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh pada rentang 5,1-5,5% (yoy). Sementara perkembangan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT sepanjang tahun 2017 diperkirakan berada pada rentang proyeksi 4,9%-5,3% (yoy), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 sebesar 5,18% (yoy). Adapun inflasi pada triwulan IV 2017 diperkirakan berada pada rentang 3,1-3,5% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan 2016 yang sebesar 2,48% (yoy).

 
​Variabel ​Q1-16 Q2-16​ Q3-16​ Q4-16​ Q5-167 Q2-17​
Pertumbuhan Ekonomi (%,yoy)​ ​5,07 5,35​ ​5,11 5,19​ 4,90​ 5,01​
​PDRB (Rp Miliar, ADHB 2010) ​19.604 20.596​ 21.875​ ​22.097 21.026​ 22.249​
​Inflasi (%, yoy) ​5,04 5,02​ 3,07​ 2,48​ 2,95​ 2,45​
​Pertumbuhan DPK Bank Umum (%, yoy) ​11,69 10,41​ 0,29​ (0,06)​ 2,82​ 5,91​
​Pertumbuhan Kredit Bank Umum (%, yoy), Lokasi Kredit
​15,03 ​14,93 ​13,37 ​12,59 ​12,51 ​11,03
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel