Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur November 2018​​​​​​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Desember 2019
​Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Nusa Tenggara Timur pada triwulan III 2018 tercatat tumbuh sebesar 5,14% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan II 2018 yang tumbuh 5,19% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan impor luar negeri berupa permesinan/peralatan proyek kelistrikan ditengah defisit neraca ekspor-impor Provinsi NTT dari sisi domestik yang masih juga terjadi seiring tingginya ketergantungan barang dan jasa dari daerah lain. Dari sisi lapangan usaha (LU), perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh melambatnya LU pertanian, kehutanan dan perikanan serta LU perdagangan besar dan eceran.
 
Hingga triwulan III 2018, secara keseluruhan realisasi anggaran pendapatan daerah mencapai 75,45% atau lebih tinggi dibandingkan realisasi periode yang sama tahun 2017 yang sebesar 54,48%. Tingginya realisasi pendapatan terutama disebabkan meningkatnya aktivitas ekonomi sehingga mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah serta didukung peningkatan transfer Dana Perimbangan oleh pemerintah pada triwulan-III. Dari sisi belanja, realisasi anggaran belanja daerah sampai triwulan III 2018 mencapai Rp 24,56 triliun atau 55,94% dari total anggaran belanja tahun 2018. Persentase realisasi belanja triwulan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan III 2017 dan triwulan III 2016 yang sebesar 54,48% dan 51,26%. 
 
Inflasi Provinsi NTT pada triwulan III 2018 terjaga rendah dengan nilai inflasi sebesar 1,90% (yoy) lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2017 sebesar  3,46% (yoy), serta lebih rendah dibanding rata-rata inflasi dalam 3 tahun terakhir yang sebesar 4,42% (yoy) dan inflasi nasional triwulan III 2018 yang sebesar 2,88% (yoy). Nilai inflasi NTT yang masih relatif terjaga ini terutama disebabkan oleh tercukupinya pasokan kelompok bahan makanan terutama pada komoditas ikan segar seperti kembung dan tongkol yang relatif stabil serta hortikultura dan bumbu-bumbuan yang pasokannya meningkat di semester 2 2018. Berdasarkan pergerakan inflasi, bahan pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi di Provinsi NTT. Tingginya harga daging ayam ras secara nasilonal akibat naiknya harga pakan ayam turut berdampak pada inflasi di Provinsi NTT yang memiliki ketergantungan komoditas tersebut dari luar provinsi. 
 
Stabilitas keuangan Provinsi NTT secara umum masih relatif stabil. Kualitas penyaluran kredit tercatat meningkat yang terlihat dari turunnya rasio kredit bermasalah di seluruh sektor. Bank Umum di NTT juga berhasil meningkatkan pertumbuhan aset dan penghimpunan dana pihak ketiga menjdi 9,58% (yoy) dan 10,34% (yoy) dari sebelumnya 9,10% (yoy) dan 6,46% (yoy). Kredit sektor Rumah Tangga berhasil menunjukkan performa yang baik. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya laju pertumbuhan sampai dengan 18,35% (yoy) dari 16,46% (yoy) yang diikuti oleh penurunan rasio kredit bermasalah ke angka 1,33% dari sebelumnya 1,46%. Kredit UMKM tumbuh melambat sebesar 13,31% (yoy) dari sebelumnya 14,69% (yoy). Kualitas kredit UMKM tercatat membaik sebagaimana turunnya rasio kredit bermasalah menjadi 3,58% dari sebelumnya 3,97%. Sementara itu, kredit sektor korporasi tumbuh melambat sebesar 16,91%. Meski masih dalam kategori tidak aman, secara umum kualitas kredit korporasi berhasil meningkat yang terlihat dari turunnya rasio Non-Performing Loan (NPL) menjadi 6,59% dari sebelumnya 7,42%. 
 
Indikator sistem pembayaran di Provinsi NTT pada triwulan III 2018 menunjukkan peningkatan baik tunai maupun nontunai. Transaksi tunai di Provinsi NTT pada triwulan III 2018 menunjukkan kondisi net outflow sebesar Rp 379,54 miliar atau meningkat 69,73% (yoy) dibandingkan triwulan III 2017. Sementara itu, transaksi pembayaran nontunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Provinsi NTT mengalami kenaikan baik secara volume maupun nominal masing-masing sebesar 6,22% (yoy) dan 9,79% (yoy) sejalan dengan peningkatan SKNBI secara nasional. Indikator lainnya seperti peningkatan jumlah uang tidak layak edar (UTLE) yang dimusnahkan dan kegiatan layanan kas melalui kas titipan menunjukkan adanya perbaikan kualitas uang yang beredar di masyarakat Provinsi NTT. Di samping itu, transaksi penjualan dan pembelian valuta asing pada triwulan III 2018 di Provinsi NTT mencapai Rp 23,9 miliar, menurun 14,42% (yoy) dibandingkan triwulan III 2017, dengan mata uang yang paling banyak ditukarkan adalah USD.
 
Berdasarkan data Agustus 2018, kesejahteraan masyarakat Provinsi NTT yang tercermin dari kondisi ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi NTT turun sebanyak 3.800 orang menjadi 3,01% dibandingkan Agustus 2017 yang sebesar 3,27%, sehingga saat ini tercatat angka pengangguran sebanyak 74.748 orang. Peningkatan tersebut didorong terutama oleh peningkatan tenaga kerja di sektor Pertambangan dan Penggalian; Pengadaaan Listrik, Gas and Air sebanyak 22% atau 7.458 orang seiring dengan penambahan lapangan kerja baru pada proyek pembangunan tenaga listrik dan bendungan. Di sisi lain, tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan yang diindikasikan oleh Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan peningkatan menjadi 107,35 dari triwulan III 2017 yang sebesar 103,8, salah satunya pengaruh dari adanya panen produksi perkebunan mete di daerah Flores.
 
Perekonomian Provinsi NTT pada triwulan I 2019 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,90%-5,30% (yoy). Adapun secara keseluruhan tahun 2019 ekonomi diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,10%-5,50% (yoy), atau meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan tahun 2017 sebesar 5,00%-5,40% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perekonomian Provinsi NTT pada triwulan I 2019 diperkirakan didorong terutama oleh konsumsi rumah tangga dan pemerintah, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/investasi diperkirakan tumbuh relatif stabil. Sementara dari sisi lapangan usaha (LU), perekonomian didorong terutama oleh LU pertanian, kehutanan dan perikanan, sementara LU konstruksi, perdagangan besar dan eceran, administrasi pemerintahan serta jasa pendidikan diperkirakan tumbuh sedikit melambat. Terdapat beberapa faktor risiko makroekonomi yang perlu diwaspadai terutama dari sisi domestik, yakni hasil produksi pertanian, kehutanan dan perikanan yang berpotensi terganggu kondisi cuaca pada awal tahun seiring tingginya curah hujan serta penurunan kegiatan usaha pada tahun 2019 karena berkurangnya proyek pemerintah akibat adanya event Pemilihan Presiden yang berpotensi menguras waktu dan anggaran pemerintah. Di sisi lain, tekanan harga pada triwulan I 2019 diperkirakan berada pada kisaran inflasi nasional 3,5%±1,0%, yakni rentang 2,30%-2,70% (yoy). Adapun secara keseluruhan tahun 2019, inflasi diperkirakan berada pada rentang 2,30%-2,70% (yoy). Terjaganya inflasi tersebut seiring pasokan kelompok komoditas bahan makanan yang diperkirakan terkendali didorong peningkatan kapasitas produksi bahan makanan di Provinsi NTT serta pengiriman yang makin lancar dari daerah produsen.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel