​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi NTT Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Desember 2019

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan II 2018 meningkat dibandingkan triwulan I 2018, menjadi 5,20% (yoy) dari triwulan sebelumnya 5,09% (yoy), meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan nasional (5,27% yoy). Peningkatan terutama disumbang oleh meningkatnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/investasi. Selain itu, turunnya pertumbuhan impor antar provinsi turut menjadi faktor pendukung pertumbuhan. Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi faktor penahan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan III-2018 diperkirakan meningkat terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring tibanya tahun ajaran baru sekolah serta PMTB/investasi seiring percepatan realisasi investasi pembangunan fisik pemerintah dan swasta.

Berdasarkan data per 30 Juni 2018, realisasi pendapatan pemerintah di Provinsi NTT secara keseluruhan pada triwulan II-2018 tercatat sebesar Rp 13,18 triliun atau 49,44% dari total rencana pendapatan tahun 2018. Persentase capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang sebesar 48,82%. Berbeda dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 13,46 triliun atau 30,74% dari pagu belanja tahun 2018 sebesar Rp 43,78 triliun, sedikit mengalami penurunan dibandingkan triwulan II 2017 yang sebesar 31,40%.

Secara tahunan, Inflasi Provinsi NTT triwulanan II 2018 mencapai 2,89% (yoy), meningkat dibanding inflasi triwulan I 2018 yang sebesar 2,24% (yoy) meskipun masih lebih rendah dibanding inflasi tahunan nasional sebesar 3,12% (yoy). Menyempitnya gap inflasi dengan nasional lebih disebabkan oleh relatif lebih tingginya inflasi NTT pada bulan April dan Mei 2018 ketika di saat yang sama, inflasi nasional justru mengalami trend perlambatan sejak triwulan I 2018. Tingginya inflasi bahan makanan dan makanan jadi, minuman dan tembakau menjadi penyebab utama inflasi tahunan di NTT. Dari total 10 komoditas utama penyumbang inflasi utama di NTT dalam satu tahun terakhir, terdapat 4 komoditas bahan makanan (ikan tembang, beras, ikan kembung, dan daging ayam ras), serta rokok kretek filter yang persisten menjadi penyumbang inflasi utama. Pada bulan Juli 2018 terjadi deflasi sebesar -0,13% (mtm). Deflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga tarif angkutan udara yang diikuti dengan permintaan yang masih relatif stabil pasca hari libur sekolah dan hari raya Idul Fitri di bulan Juni 2018. Adapun inflasi pada triwulan III 2018 diperkirakan mengalami perlambatan utamanya disebabkan dengan menurunnya kebutuhan terhadap komoditas bahan makanan dan mulai membaiknya cuaca.

Stabilitas keuangan Provinsi NTT secara umum masih relatif stabil. Pangsa penyaluran kredit untuk tiap sektor masih relatif sama yaitu 38,24% untuk Rumah Tanga, 32,42% untuk UMKM dan 7,52% untuk Korporasi. Pertumbuhan kredit Rumah Tangga tumbuh 16,46% (yoy) dari 14,76% (yoy) yang diikuti oleh sedikit kenaikan rasio kredit bermasalah ke angka 1,46% dari sebelumnya 1,40%. Kredit UMKM mencatatkan peningkatan laju pertumbuhan sampai dengan 14,69% (yoy), lebih besar daripada periode sebelumnya yaitu 11,87% (yoy), meskipun tercatat sedikit kenaikan rasio kredit bermasalah ke angka 3,97% dari sebelumnya 3,81%. Di sisi lain, kredit korporasi menunjukan performa yang baik yang terlihat dari melonjaknya pertumbuhan kredit yang mencapai 54,55% (yoy) dari triwulan sebelumnya hanya 2,86% (yoy). Meski masih dalam kategori tidak aman, korporasi berhasil memperbaiki kualitas kreditnya melalui penurunan rasio kredit bermasalah dari 7,98% pada triwulan I 2018 menjadi 7,42%.

Pada triwulan II 2018, indikator sistem pembayaran di Provinsi NTT mengalami peningkatan. Jumlah inflow dan outflow uang kartal di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT masing-masing mengalami peningkatan 60,05% (yoy) dan 19,24% (yoy) dibandingkan triwulan II 2017. Terjadi peningkatan temuan uang palsu selama triwulan II 2018 sebanyak 165 lembar. Transaksi kliring di Provinsi NTT mengalami kenaikan baik secara volume maupun nominal masing-masing sebesar 6,92% (yoy) dan 11,61% (yoy) dibandingkan triwulan II 2017. Total transaksi penjualan dan pembelian valuta asing di penyelenggara KUPVA BB berizin pada triwulan II 2018 di Provinsi NTT mencapai Rp 22,07 milyar. Jumlah tersebut meningkat 0,11% (yoy) dibandingkan triwulan II 2017 yang mencapai Rp 22,04 miliar.

Perkembangan sektor kesejahteraan dan ketenagakerjaan pada Semester I 2018 menunjukkan adanya perbaikan. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan yang terlihat dari persentase penduduk miskin yang turun menjadi 21,35% dibandingkan Maret 2017 sebesar 21,85%. Kualitas kemiskinan semakin membaik yang ditandai dengan penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada periode yang sama. Nilai tukar petani mengalami kenaikan menjadi 105,26 dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 104,48. NTP menunjukkan kemampuan/daya beli petani di pedesaan. Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Februari 2018 tercatat turun menjadi 2,98% dibandingkan Februari 2017 yang sebesar 3,21%.

Perekonomian Provinsi NTT pada triwulan IV 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,10%-5,50% (yoy). Adapun secara keseluruhan tahun 2018 ekonomi diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,00%-5,40% (yoy), atau sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun 2017 sebesar 5,16% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perekonomian Provinsi NTT pada triwulan IV 2018 diperkirakan didorong terutama oleh konsumsi pemerintah, sedangkan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/investasi relatif stabil dengan kecenderungan sedikit melambat. Sementara dari sisi lapangan usaha, perekonomian didorong oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, sementara lapangan usaha konstruksi, perdagangan besar dan eceran, administrasi pemerintahan serta jasa pendidikan diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan melambat. Tekanan harga pada akhir tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran inflasi nasional 3,5%±1,0%, yakni rentang 3,30%-3,70% (yoy) seiring adanya tekanan harga komoditas bahan makanan pada tahun 2018 pasca inflasi yang rendah pada tahun 2017 serta masih adanya potensi tekanan kenaikan harga minyak dunia.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel