Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur Mei 2018​​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Desember 2019

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan I 2018 melambat dibandingkan triwulan IV 2017. Perekonomian tumbuh 5,19% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 sebesar 5,29% (yoy) namun masih lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh 5,06% (yoy). Perlambatan terutama disumbang oleh pengeluaran konsumsi pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/investasi. Namun demikian, perlambatan ekonomi cukup tertahan oleh konsumsi rumah tangga yang semakin kuat didukung daya beli masyarakat yang meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan net impor antar daerah Provinsi NTT masih relatif stabil. ​

Berdasarkan data per 31 Maret 2018, realisasi pendapatan pemerintah di Provinsi NTT secara keseluruhan pada triwulan I-2018 tercatat sebesar Rp 5,37 triliun atau 20,16% dari total rencana pendapatan tahun 2018. Capaian tersebut secara nominal dan persentase mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan triwulan I 2017 yang sebesar Rp5,99 triliun atau 23,38%. Berbeda dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 4,7 triliun atau 10,87% dibandingkan pagu belanja tahun 2018 sebesar Rp 43,3 triliun, meningkat dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 8,91%. ​

Inflasi Provinsi NTT pada triwulan I 2018 masih relatif terkendali. Adanya kenaikan inflasi di bulan Januari, dapat diredam oleh deflasi yang cukup besar di bulan Februari dan Maret 2018. Kenaikan inflasi terutama lebih disebabkan oleh kenaikan inflasi komoditas volatile food seiring dengan adanya kelangkaan beras nasional dan tingginya harga daging ayam ras di awal tahun 2018. Adapun inflasi komoditas administered price dan inflasi inti masih relatif terjaga. ​

Secara umum stabilitas keuangan daerah di Provinsi NTT masih relatif stabil tercermin dari tidak adanya gejolak signifikan di sistem keuangan. Penyaluran kredit masih terpusat di sektor rumah tangga (43,54%) diikuti oleh sektor UMKM (35,34%) dan korporasi (8,10%). Selain itu, sektor rumah tangga juga masih memegang kontribusi penting dalam penghimpunan dana di Provinsi NTT. Kedua hal tersebut menjadikan sektor rumah tangga sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas keuangan daerah. Di awal 2018, tercatat adanya penurunan kualitas kredit untuk seluruh sektor dan perlambatan penyaluran kredit untuk sektor rumah tangga dan korporasi. ​

Pada triwulan I 2018, indikator sistem pembayaran di Provinsi NTT menunjukkan peningkatan. Jumlah uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) dan keluar dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat (outflow) masing-masing mengalami peningkatan 29,75% (yoy) dan 50,12% (yoy) dibandingkan triwulan I 2017. Di samping itu, transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Provinsi NTT sebagai salah satu instrumen pembayaran non tunai mengalami kenaikan baik secara volume maupun nominal masing-masing sebesar 8,58% (yoy) dan 10,58% (yoy). Indikator lainnya seperti peningkatan jumlah uang tidak layak edar (UTLE) yang dimusnahkan, peningkatan distribusi uang layak edar (ULE) ke kas titipan, dan peningkatan penyerapan UTLE dari kas titipan ke Bank Indonesia pada triwulan I 2018 menunjukkan adanya perbaikan kualitas uang yang beredar di masyarakat Provinsi NTT. ​

Perkembangan sektor ketenagakerjaan dan kesejahteraan menunjukkan peningkatan pada awal tahun 2018. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Februari 2018 tercatat turun menjadi 2,98% atau sebanyak 76,3 ribu jiwa dibandingkan Februari 2017 yang sebesar 3,21% atau 80,25 ribu jiwa. Penurunan TPT tersebut didorong terutama oleh peningkatan tenaga kerja di sektor Administrasi Pemerintahan sebanyak 13.934 orang seiring dengan penambahan lapangan kerja baru sebagai pendamping Program Sosial Pemerintah. Selain itu, kesejahteraan masyarakat pedesaan yang diindikasikan melalui Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan I 2017. ​

Perekonomian Provinsi NTT pada triwulan III 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,10%-5,50% (yoy), sedikit melambat dibandingkan perkiraan pertumbuhan triwulan II 2018. Adapun secara keseluruhan tahun 2018 ekonomi diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,01%-5,41% (yoy), atau sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun 2017 sebesar 5,16% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan pada triwulan III 2018 diperkirakan disumbang oleh konsumsi rumah tangga yang melambat seiring usainya masa libur panjang Hari Raya Idul Fitri dan rangkaian momen Pilkada. Konsumsi pemerintah diperkirakan turut melambat dipengaruhi oleh telah tingginya pengeluaran pemerintah pada triwulan II 2018 untuk pencairan tunjangan hari raya. Peningkatan investasi diperkirakan menjadi penahan perlambatan ekonomi seiring percepatan investasi terutama dalam bentuk fisik bangunan baik oleh pemerintah maupun swasta. Sementara dari sisi sektoral, perekonomian didorong oleh sektor perdagangan besar dan eceran, informasi dan komunikasi, administrasi pemerintahan dan jasa pendidikan. Tekanan harga pada triwulan III 2018 dan keseluruhan 2018 diperkirakan masih pada kisaran target nasional 3,5%±1,0%, masing-masing 2,82%-3,22% (yoy) dan 3,58-3,98% (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2017 seiring potensi pembalikan arah harga pada tahun ini pasca inflasi rendah pada tahun 2017 serta tekanan kenaikan harga minyak dunia.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel