Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat Agustus 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih melanjutkan perbaikan yang tercermin dari pertumbuhan yang meningkat pada triwulan II 2019 yakni sebesar 3,14% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,12% (yoy). Terjadinya penurunan penjualan konsentrat tambang serta orientasi penjualan yang difokuskan ke domestik berdampak pada terkontraksinya kinerja ekspor NTB. Di sisi lain, tingginya penjualan konsentrat ke dalam negeri berdampak pada perbaikan kinerja pada ekspor antar daerah (AD).
 
Keuangan Pemerintah
Realisasi pendapatan Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB triwulan II 2019 meningkat sebesar 5,06% (yoy). Realisasi pendapatan tersebut sebesar Rp9,94 Triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pendapatan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9,46 Triliun. Peningkatan realisasi pendapatan tersebut disebabkan peningkatan Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah yang berupa Pajak Daerah. Penyerapan belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pemerintah Provinsi NTB dan seluruh kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2019 menurun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan Inflasi
Tekanan inflasi Provinsi NTB pada triwulan II 2019 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi Provinsi NTB pada triwulan II 2019 tercatat sebesar 3,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 2,45% (yoy). Meningkatnya inflasi NTB pada triwulan II 2019 terutama disebabkan oleh peningkatan tekanan inflasi pada kelompok komoditas bahan makanan. Hal ini dipicu oleh peningkatan konsumsi masyarakat di triwulan II 2019 menjelang HBKN. Selain bahan makanan, peningkatan inflasi juga didorong oleh tekanan inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sejalan dengan pembangunan hunian tetap yang relatif progresif di triwulan II 2019.
 
Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Ketahanan sektor korporasi triwulan II-2019 relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya. Rasio Non Performing Loan (NPL) pada triwulan II 2019 1,35% sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2019 sebesar 1,30%. Kondisi dunia usaha pada triwulan ini masih termasuk kepada periode low season yang disertai dengan kecenderungan peningkatan konsumsi masyarakat terutama pada perayaan Hari Besar Keagamaan Idul Fitri 2019.
Secara umum, kinerja bank umum (konvensional dan syariah) pada triwulan II 2019 mengalami perlambatan. Total aset bank umum di Provinsi NTB pada triwulan II 2019 mencapai Rp47,52 Triliun atau tumbuh 7,09% (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,32% (yoy). Hal yang sama pada penghimpunan dana yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan menjadi 17,79% (yoy) dari sebelumnya 20,24% (yoy). Sementara penyaluran kredit tumbuh 8,83% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 8,29% (yoy)
 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Permintaan terhadap uang kartal triwulan II 2019 lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut tampak dari kondisi net outflow pada triwulan II 2019 sebesar Rp1,92 Triliun sesuai dengan pola historis pada triwulan II 2018 dan triwulan II 2017. Adanya momentum hari besar keagamaan (bulan puasa dan idul fitri) maupun libur sekolah mengakibatkan peningkatan kebutuhan uang kartal oleh masyarakat karena masyarakat cenderung mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga menjelang perayaan HBKN dan libur panjang tahun ajaran baru. Penggunaan transaksi non tunai pada triwulan II 2019 mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan RTGS dan kliring pada triwulan II 2019 sebesar Rp10,5 Triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 3,38% (yoy)
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II 2019 serta terjaganya inflasi pada level yang rendah dan stabil, mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tampak dari beberapa indikator. Hal tersebut tercermin dari nilai NTP yang meningkat pada triwulan II 2019 yakni 110,82 atau tumbuh sebesar 3,17%(yoy). Perbaikan kesejahteraan masyarakat juga sejalan dengan hasil Survei Konsumen menunjukan perbaikan pada triwulan II 2019, tercermin dari peningkatan nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yakni 124,75, lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2019 yakni sebesar 116,78. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat juga berdampak pada menurunnya angka kemiskinan Provinsi NTB pada Maret 2019 menjadi 14,56%. Sejalan dengan menurunnya jumlah kemiskinan, kualitas SDM di Provinsi NTB juga meningkat tercermin dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB tahun 2018 yang tumbuh positif yakni 1,08% (yoy).
 
Prospek Perekonomian Dae​rah
Pemulihan ekonomi NTB diperkirakan berlanjut pada triwulan IV 2019. Pada triwulan IV 2019, diperkirakan ekonomi NTB tumbuh melandai pada kisaran antara 3,0 - 3,4 (yoy). Sementara itu untuk pertumbuhan ekonomi non tambang diperkirakan pada kisaran 2,7 – 3,2% (yoy). Melandainya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2019 didorong oleh perlambatan pertumbuhan di sektor ekonomi utama, yaitu sektor pertambangan dan konstruksi. Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi NTB diprakirakan tumbuh pada rentang 3,3 - 3,7% (yoy) dan pertumbuhan non tambang pada rentang 4,1-4,5%(yoy).
Tekanan inflasi pada triwulan IV 2019 diperkirakan terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1% (yoy). Inflasi NTB di triwulan IV 2019 diperkirakan menurun dan berada pada kisaran 2,3 – 2,7% (yoy). Terjaganya inflasi pada triwulan IV 2019 terutama didukung oleh stabilnya permintaan masyarakat. Dari sisi pasokan, komoditas bahan pangan relatif terjaga. Berdasarkan data historis dalam beberapa tahun terakhir menunjukan pola musiman untuk komoditas hortikultura yang menurun memasuki bulan Juli – Oktober, dan baru akan kembali meningkat menjelang akhir tahun. Hal tersebut didorong oleh kondisi cuaca yang relatif baik sehingga mendukung periode tanam dan panen untuk kelompok komoditas tersebut. Dengan demikian, diperkirakan tekanan inflasi pada tahun 2019 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

tabel LPP Agustus 2019.png



 


 

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel