​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Barat Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Ekonomi Provinsi NTB pada triwulan IV 2018 mengalami kontraksi sebesar 1,43% (yoy), disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor luar negeri. Namun demikian kontraksi tersebut tidak sedalam kontraksi di triwulan sebelumnya sebesar 14,12% (yoy). Di luar sektor tambang, ekonomi Provinsi NTB pada triwulan IV 2018 mulai tumbuh positif sebesar 1,80% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 0,54%(yoy). Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas perekonomian yang mulai pulih paska bencana gempa bumi yang terjadi di triwulan III 2018. Beberapa sektor ekonomi yang terdampak bencana gempa seperti perdagangan dan konstruksi mulai tumbuh menguat di triwulan IV 2018, sehingga mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi NTB Non-Tambang. Namun demikian, laju pertumbuhan ekonomi non-tambang di triwulan IV 2018 terhambat oleh pertumbuhan sektor pertanian dan transportasi yang masih terkontraksi.

Kedepan, pemulihan ekonomi Provinsi NTB diperkirakan kembali berlanjut. Sumber pemulihan ekonomi NTB diperkirakan berasal dari proyek pembangunan yang mulai kembali berjalan paska tertunda saat bencana gempa bumi terjadi. Selain itu, akselerasi di sektor konstruksi akan didorong oleh langkah rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan yang terdampak bencana gempa. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB terus mengamati berbagai indikator makroekonomi global, nasional dan regional, sejumlah potensi risiko, dan dampak gempa yang melanda Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi Provinsi NTB. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah terkait dengan pengendalian inflasi dan pemulihan ekonomi pasca gempa bumi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel