Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020
Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Perekonomian Maluku Utara pada triwulan III 2018 tumbuh meningkat dibanding triwulan II 2018. Pertumbuhan perekonomian Maluku Utara pada triwulan III 2018 tercatat sebesar 8,17% (yoy), akselerasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,31% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi di KTI diikuti oleh Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua. Dari sisi permintaan, percepatan pertumbuhan terjadi pada sektor Ekspor Luar Negeri, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan Konsumsi Pemerintah seiring dengan meningkatnya ekspor bijih nikel dan feronikel secara optimal serta meningkatnya belanja modal pada triwulan III 2018. Sementara dari sisi penawaran, percepatan secara umum disebabkan oleh lapangan usaha Industri Pengolahan dan seiring menggeliatnya produksi bijih nikel dan feronikel di Maluku Utara dibanding triwulan sebelumnya. Lapangan usaha Pertanian juga mengalami akselerasi yang disebabkan memasuki masa panen pada triwulan III. Selain itu, penyelesaian proyek pemerintah memasuki semester II 2018  juga menyebabkan pertumbuhan di sisi lapangan usaha Kontruksi.
Memasuki triwulan IV 2018, perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan kembali mengalami akselerasi dibanding triwulan sebelumnya yang disebabkan meningkatnya konsumsi  masyarakat dan pemerintah pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan menjelang tahun baru serta libur sekolah semester II serta penyelesaian proyek pemerintah pada akhir tahun 2018. Pertumbuhan perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 8,00% - 8,20% (yoy). Ditinjau dari sisi penawaran, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran serta lapangan usaha Pertanian dan Perikanan diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan dalam rangka memenuhi peningkatan konsumsi masyarakat pada triwulan IV 2018 menjelang momen Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan menjelang tahun baru serta libur sekolah semester II 2018. Selain itu, kuatnya dorongan Pemerintah Daerah dalam memberi dukungan untuk perbaikan tata kelola dan tata niaga dalam rangka kemandirian pangan khususnya sayur mayur dan Bawang, Rica, Tomat (Barito) juga mempengaruhi peningkatan pada lapangan usaha baik Pedagangan dan Pertanian di Maluku Utara.

Keuangan Pemerintah
Hingga triwulan III 2018, realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebesar Rp1,79 triliun. Realisasi ini relatif stabil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Anggaran pendapatan Pemprov Maluku Utara dalam APBD 2018 adalah sebesar Rp2,48 triliun atau menurun 13,13% dari anggaran pendapatan APBD 2017 yang tercatat sebesar Rp2,86 triliun.
Dari sisi pengeluaran, belanja APBD hingga triwulan II 2018 terealisasi sebesar Rp1,44 triliun. Realisasi ini lebih besar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp1,24 triliun. Secara umum, nominal APBD pada triwulan III 2018 mengalami penurunan dibandingkan triwulan III 2017.

Inflasi Daerah
Inflasi pada triwulan III 2018 tercatat sebesar 3,67% (yoy) menurun dari 3,91%  (yoy) pada triwulan II 2018. Penurunan inflasi terindikasi akibat koreksi harga pasca hari raya idul fitri, khususnya pada beberapa kelompok bahan makanan seperti daging, ikan segar, dan bumbu-bumbuan, serta koreksi harga pada kelompok sandang dan kelompok kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.
Inflasi pada triwulan berjalan (triwulan IV 2018) diperkirakan mengalami peningkatan sebagai akibat mulai masuknya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) hari raya Natal dan Tahun Baru 2019, serta kenaikan BBM dan angkutan udara. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan konsumsi di masyarakat Maluku Utara. Secara keseluruhan, inflasi pada 2018 diperkirakan lebih tinggi daripada inflasi 2017.
Analisis Stabilitas Keuangan Daerah
Secara umum, Risiko kredit rumah tangga di triwulan III 2018 masih terjaga, tercermin dari NPL sektor rumah tangga sebesar 0,62% pada triwulan III 2018, relatif stabil dibanding 0,64% pada triwulan sebelumnya. NPL tersebut masih berada dibawah threshold yang ditetapkan, sehingga ketahanan sektor rumah tangga masih terjaga. Sejalan dengan Hal tersebut, pada triwulan II 2018 Pangsa konsumsi rumah tangga pada PDRB tercatat sebesar 53,36%, tetap yang terbesar meskipun menunjukkan sedikit penurunan dibanding triwulan II 2018 yang sebesar 55,54% dari total PDRB.
Sama halnya dengan rumah tangga, risiko korporasi juga menunjukkan penurunan, tercermin dari perbaikan NPL dari 4,30% pada triwulan II 2018 menjadi 3,89% pada triwulan III 2018. Penurunan risiko kredit secara umum disebabkan oleh upaya perbankan dalam menjaga dan memperbaiki kualitas kredit.

Perkembangan Sistem Pembayaran
Transaksi keuangan tunai di Maluku Utara pada triwulan III 2018 mengalami net outflow 7,42% (yoy), Sementara transaksi kliring pada triwulan III 2018 mengalami sedikit penurunan sebesar Rp 743,42 Miliar atau 2,67% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 767,53 Miliar. Hal tersebut merupakan dampak dari menurunnya transaksi pembayaran di masyarakat secara kliring pasca bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri.
Penggunaan sistem pembayaran non tunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan III 2018 sedikit terkoreksi secara nominal maupun volume. Secara nominal perputaran kliring mencapai Rp 743,42 miliar, turun 13% (yoy) atau sebesar 0,03% (qtq) jika dibandingan dengan triwulan sebelumnya.
Sementara secara volume turun 0,06% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat  naik 30% (qtq). Penurunan nilai transaksi melalui SKNBI seiring dengan menurunnya konsumsi masyarakat, konsumsi lembaga swasta nirlaba pada triwulan laporan.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku Utara pada Agustus 2018 tercatat sebesar 4,77%, lebih tinggi dibanding Februari 2018 tapi lebih rendah dibanding Agustus 2017 yang masing-masing sebesar 4,65% dan 5,33%. Kenaikan TPT tersebut diikuti oleh penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada periode yang sama. Sementara itu, Kesejahteraan masyarakat di area pedesaan terpantau menunjukkan sedikit penurunan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun lebih tinggi jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III 2018, rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara tercatat sebesar 99,09, meningkat dibanding triwulan II 2018 yang tercatat sebesar 98,87.
Disisi lain, Provinsi Maluku Utara masih tercatat sebagai provinsi dengan indeks kebahagian tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia yakni sebesar 75,68, selanjutnya diikuti Maluku sebesar 73,77, dan Sulawesi Utara sebesar 73,69.

Prospek Perekonomian
Perekonomian Maluku Utara pada triwulan I 2019 diproyeksikan masih tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan triwulan IV 2018 dan berada pada kisaran 7,71% – 8,11% (yoy). Dari sisi permintaan, percepatan pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh akselerasi pada sektor konsumsi rumah tangga yang disebabkan adanya kenaikan gaji ASN dan UMP di awal tahun 2019. Selain itu, sektor konsumsi lain diperkirakan akan mengalami akselerasi dalam rangka pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang berpotensi meningkatkan konsumsi pemerintah dan lembaga non profit rumah tangga terutama pada triwulan I dan triwulan II 2019. Selain itu, PMTB diperkirakan juga akan mengalami sedikit percepatan yang dipengaruhi oleh beberapa proyek pemerintah dan swasta, antara lain: Investasi pembenahan terminal cargo bandara, pembenahan pelabuhan, dan investasi pembangunan beberapa unit smelter serta eksplorasi beberapa perusahaan tambang berpotensi mendorong pertumbuhan investasi yang lebih tinggi dibanding tahun 2018. Di lain sisi, perlambatan pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi oleh ekspor Luar Negeri Maluku Utara sebagai dampak dari base effect.
Tekanan inflasi Maluku Utara pada triwulan I 2019 diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibanding inflasi triwulan berjalan. Penurunan inflasi di triwulan mendatang, secara umum diperkirakan disebabkan oleh sebagian besar wilayah Maluku Utara telah melewati puncak konsumsi kedua yakni HBKN Natal dan Tahun Baru 2018 pada triwulan berjalan. Normalisasi harga pada triwulan I 2019 pasca HBKN Natal dan Tahun Baru diperkirakan tejadi pada kelompok bahan makanan, sandang, dan biaya angkutan seperti tiket pesawat dan angkutan laut. Selain itu, sumbangan inflasi pada triwulan I 2019 diperkirakan akan dipengaruhi oleh komoditas tukang bukan mandor sebagai akibat kenaikan upah minimum diawal tahun 2019. Selain itu, komoditas rokok diperkirakan masih memberikan kontribusi inflasi Maluku Utara karena masih banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi rokok dan kecenderungan tarif cukai rokok yang meningkat pada awal tahun.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel