Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020

Ekonomi Maluku Utara pada triwulan II 2017 melambat dibandingkan triwulan I 2017. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 6,96% (yoy) lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,54% (yoy). Dari sisi permintaan, deselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 disebabkan oleh masih melambatnya konsumsi yang berasal dari dana pemerintah, serta minimnya kegiatan investasi di Maluku Utara. Dari sisi penawaran, melambatnya kinerja tiga sektor utama, yakni sektor pertanian, sektor konstruksi, dan sektor administrasi pemerintahan menjadi penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2017.

Memasuki triwulan III 2017, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara diperkirakan melambat menjadi 6,3% – 6,7% (yoy). Dari sisi penawaran, kinerja sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan diperkirakan tidak akan tumbuh setinggi periode-periode sebelumnya. Adapun perekonomian Maluku Utara pada tahun 2017 diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,6% - 7,0% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas.

Sementara, dari aspek perkembangan keuangan daerah, tercatat jumlah total realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada triwulan II 2017 sebesar Rp605,15 miliar atau sebesar 21,13%, lebih tinggi dibanding triwulan II 2016 yang terealisasi sebesar 18,73%. Realisasi ini didorong tingginya realisasi di semua komponen pendapatan kecuali pendapatan transfer.Sementara itu, total realisasi belanja daerah pada triwulan II 2017 mencapai Rp1.154,68 miliar atau tumbuh sebesar 1,77% (yoy), lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh mencapai 30,34% (yoy). Kendati demikian, nominal belanja triwulan II 2017 lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2017.

Inflasi Maluku Utara yang diwakili oleh inflasi Kota Ternate pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 3,92% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada triwulan I 2017 sebesar 2,41% (yoy). Inflasi di Maluku Utara masih lebih rendah jika dibandingkan dengan laju inflasi nasional pada triwulan yang sama yaitu sebesar 4,37% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan berjalan diperkirakan stabil dibandingkan triwulan II-2017. Risiko kenaikan inflasi muncul dari rencana kenaikan cukai rokok serta potensi meningkatnya konsumsi masyarakat pada bulan September 2017 seiring banyaknya kegiatan syukuran pasca kepulangan jamaah haji. Potensi kenaikan inflasi lainnya datang dari kondisi harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan sehingga dapat berpotensi dengan adanya penyesuaian harga BBM di dalam negeri. Dengan demikian, inflasi hingga akhir triwulan III 2017 diperkirakan meningkat dan pada kisaran 3,6% (yoy) – 4,0% (yoy).

Secara umum, ketahanan sektor rumah tangga masih terjaga. Risiko kredit dari sektor rumah tangga tercatat pada level yang rendah. Kinerja NPL pada sektor tersebut tercatat sebesar 1,21%. Seiring tingginya pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sepanjang semester I tahun 2017, stabilitas keuangan sektor korporasi secara umum masih terjaga. Namun demikian, terdapat potensi peningkatan risiko kredit yang terindikasi dari meningkatnya NPL kredit ke sektor korporasi. NPL sektor korporasi tercatat mengalami peningkatan dari 4,35% menjadi 4,75%.

Dari sisi sistem pembayaran tunai, aliran uang kartal pada triwulan II 2017 di Maluku Utara menunjukkan net-outflow (uang yang keluar lebih besar daripada jumlah uang yang masuk ke khasanah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara). Pada triwulan II 2017, aliran uang masuk (inflow) tercatat sebesar Rp256,63 miliar, sementara aliran uang keluar (outflow) sebesar Rp1.049,77 miliar sehingga menghasilkan net-outflow sebesar Rp793,15 miliar. Sementara itu, fasilitas kliring pada periode triwulan II 2017 tercatat mengalami pertumbuhan 21,72% (yoy).

Penggunaan tenaga kerja di Provinsi Maluku Utara terindikasi mengalami peningkatan. Hal ini ditandai dengan saldo bersih tertimbang (SBT) perkiraan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang mencatatkan nilai positif 10,27%. Penambahan tenaga kerja diperkirakan akan berasal dari sektor pertambangan dan sektor pertanian.

Jumlah penduduk miskin di Maluku Utara per Maret 2017 tercatat mengalami peningkatan dari 6,33% pada Maret 2016 menjadi 6,35% pada Maret 2017. Meningkatnya kemiskinan tersebut terutama dipicu oleh kondisi inflasi Provinsi Maluku Utara yang meningkat sepanjang semester pertama tahun 2017. Sementara itu, kesejahteraan masyarakat di area pedesaan terpantau stabil. Pada akhir triwulan II 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara tercatat sebesar 101,01. meskipun mengalami stagnansi NTP, namun kesejahteraan petani di Maluku Utara sampai dengan periode laporan masih terjaga.

Perekonomian Maluku Utara pada triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh meningkat dari triwulan berjalan dan berada pada kisaran 6,4% - 6,8% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penggerak utama ekonomi Provinsi Maluku Utara pada triwulan mendatang, diikuti oleh realisasi investasi daerah yang juga akan semakin meningkat seiring dengan percepatan pembangunan Kawasan Industri Buli yang kini tengah berlangsung. Selanjutnya, perbaikan produksi pada sektor pertambangan diperkirakan akan berdampak pada meningkatnya ekspor baik antar daerah maupun luar negeri. Dengan memperhatikan perkembangan terkini dan faktor-faktor risiko, diperkirakan perekonomian Maluku Utara pada tahun 2017 akan tumbuh pada kisaran 6,6% - 7,0% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada tahun 2016.

Tekanan inflasi kota Ternate pada triwulan IV 2017 diperkirakan akan mengalami peningkatan dibanding inflasi triwulan berjalan. Berdasarkan disagregasinya saat ini kenaikan inflasi untuk kelompok harga yang ditentukan pemerintah (administered prices) dan kelompok makanan harga bergejolak (volatile food) cenderung mengalami kenaikan. Sementara inflasi inti (core) masih terkendali di level yang rendah. Kenaikan inflasi administered prices dan volatile food diperkirakan masih akan terasa dampaknya hingga triwulan IV 2017 mendatang. Dengan memperhatikan risiko-risiko tersebut, inflasi pada 2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,2% - 4,6%. (yoy). ​

Tags: Moneter; Inflasi; Kebijakan Moneter; Stabilitas Sistem Keuangan (SSK); Sistem Pembayaran di Indonesia; Sektor Riil

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel