KEKR Provinsi Lampung Periode November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Pertumbuhan Ekonomi ​

Ekonomi Lampung pada triwulan III 2018 tercatat tumbuh sebesar 5,19% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan pencapaian periode sebelumnya sebesar 5,35% (yoy). Pencapaian ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 3 (tiga) tahun kebelakang sebesar 5,23% (yoy). Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Lampung di triwulan III 2018 masih berada di atas pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional yang masing-masing sebesar 5,17% (yoy), 4,72% (yoy) ​

Di sisi permintaan, lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan III 2018 ini didorong oleh perlambatan konsumsi swasta. Meski demikian, investasi dan net ekspor pada triwulan III 2018 tercatat membaik sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor, serta sektor informasi dan komunikasi. ​

Memasuki triwulan IV 2018 ekonomi Lampung diperkirakan dapat tumbuh lebih kuat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III 2018. Di sisi permintaan, konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, ditopang faktor musiman perayaan Natal dan libur sekolah serta realisasi anggaran pemerintah yang lebih tinggi di akhir tahun. Di sisi penawaran, kinerja sektor yang terkait dengan penguatan permintaan domestik diantaranya sektor perdagangan besar eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, sektor transportasi dan pergudangan, serta sektor penyedia akomodasi dan makan minum diperkirakan akan membaik. Di samping itu, kinerja sektor pertanian diperkirakan dapat tumbuh lebih baik didorong oleh masuknya siklus panen kemarau. ​

Selanjutnya, ekonomi Lampung selama tahun 2018 diperkirakan cenderung mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari tahun 2017, didukung oleh menguatnya konsumsi swasta serta solidnya kinerja investasi. Meski demikian, tendensi pertumbuhan tersebut juga dihadapkan pada downside risk tertahannya kinerja ekspor luar negeri sehubungan dengan tren penurunan produksi dan harga komoditas unggulan Lampung termasuk kopi, lada dan sawit, serta ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada penurunan volume perdagangan dunia. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi tahun 2018 akan ditopang oleh pertumbuhan di sektor industri pengolahan, perdagangan besar eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, konstruksi serta informasi dan komunikasi. Meski demikian, sektor pertanian yang terus mengalami tren perlambatan sejak awal tahun ini dapat menjadi salah satu faktor penahan pertumbuhan ekonomi 2018, mengingat sektor tersebut masih menempati pangsa terbesar dalam PDRB Lampung. ​

Keuangan Pemerintah ​

Anggaran belanja fiskal pemerintah di provinsi Lampung untuk tahun 2018 mencapai Rp31,75 triliun yang meliputi belanja APBD Provinsi Lampung sebesar Rp8,11 triliun (pangsa 25,54%), APBD kabupaten/kota di Provinsi Lampung sebesar Rp23,62 triliun (pangsa 74,39%), dan APBN sebesar Rp0,02 triliun (pangsa 0,06%). Komposisi belanja pegawai masih mendominasi, khususnya pada anggaran belanja Kabupaten/Kota, namun komitmen pemerintah daerah terhadap pengeluaran yang bersifat produktif semakin tinggi yang ditandai meningkatnya porsi anggaran belanja modal. ​

Hingga triwulan III 2018, pencapaian pendapatan daerah Provinsi Lampung tercatat sebesar Rp4,91 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp3,95 triliun). Secara persentase, realisasi pendapatan sebesar 65,40% juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2017 (51,11%) seiring meningkatnya realisasi Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak dan Dana Alokasi Khusus dari Pemerintah Pusat. Sejalan dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja Provinsi Lampung per triwulan III 2018 sebesar Rp4,69 triliun, dengan tingkat realisasi 57,81% atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2017 (44,80%) seiring dengan telah terlaksananya Pilkada serentak di pertengahan tahun 2018, sehingga Pemerintah Daerah terdorong untuk mengoptimalkan penyerapan anggaran di dua triwulan tersisa khususnya untuk belanja barang dan jasa serta belanja modal, disamping realisasi transfer ke kabupaten/kota. ​

Inflasi ​

Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan III-2018 tercatat stabil meski cenderung meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yakni dari 2,80% (yoy) pada triwulan II-2018 menjadi sebesar 2,87% (yoy) pada periode laporan. Tekanan inflasi pada triwulan III-2018 cenderung lebih didorong oleh adanya penyesuaian tarif pendidikan di berbagai jenjang sesuai dengan pola seasonalnya yang memasuki tahun ajaran baru. Namun demikian, dalam perkembangannya inflasi pada periode laporan cenderung lebih terkendali seiring dengan kembali normalnya permintaan masyarakat terhadap kelompok bahan makanan paska periode lebaran di triwulan II-2018. Lebih terkendalinya tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan tercermin dari inflasi tahunannya yang pada triwulan sebelumnya sebesar 3,57% (yoy) menurun menjadi 3,43% (yoy) pada triwulan III-2018, meski beberapa komoditas terpantau mengalami inflasi. ​

Dibandingkan dengan Nasional, inflasi IHK tahunan Provinsi Lampung tercatat masih lebih rendah meski berada di atas level inflasi Sumatera yang sebesar 2,53% (yoy). Berdasarkan kota perhitungan IHK, pencapaian inflasi tahunan pada triwulan III-2018 Kota Metro terpantau lebih rendah dibandingkan dengan Kota Bandar Lampung dan menempati urutan terendah se-Sumatera. Di sisi lain, Kota Bandar Lampung menempati urutan tertinggi ke-7 sehingga patut untuk diwaspadai khususnya menjelang peak season permintaan domestik di akhir tahun. ​

Memasuki triwulan IV 2018, risiko tekanan inflasi baik dari kelompok bahan makanan maupun kelompok transport dan komunikasi masih cukup tinggi seiring dengan masuknya periode musim tanam, tingginya curah hujan, dan periode libur akhir tahun. Oleh karena itu, langkah TPID Provinsi Lampung dalam mengendalikan harga-harga perlu terus dipacu dalam rangka menjaga pencapaian inflasi tetap rendah, stabil, dan sesuai sasaran 3,5±1%. ​

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM ​

Sejalan dengan pola musiman perlambatan perekonomian domestik, pertumbuhan konsumsi sektor rumah tangga Lampung mengalami perlambatan. Namun demikian, ketahanan sektor ini diperkirakan cukup terjaga didukung keyakinan atas penghasilan dan konsumsi durable goods yang relatif stabil, meningkatnya saving serta akses pembiayaan yang pertumbuhannya masih didukung profil risiko yang dapat diterima. Adapun ketahanan sektor korporasi diperkirakan sedikit mengalami gejala penurunan dari sisi penjualan dan kualitas kredit, meskipun masih dalam taraf risiko yang terkendali dan menunjang kenaikan kredit pada perbankan Lampung di periode laporan. ​

Sementara itu kinerja sektor perbankan Lampung pada triwulan III 2018 secara umum menunjukkan perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, yang diindikasikan meningkatnya pertumbuhan pendanaan maupun kredit yang diikuti membaiknya likuiditas dan efisiensi operasional baik pada Bank Umum, BPR, maupun Bank Syariah. Meski demikian, risiko kredit perbankan terindikasi belum menunjukkan penurunan meskipun tetap dalam batas terkendali. Pelaksanaan fungsi intermediasi khususnya dalam konteks dukungan pembiayaan kepada UMKM juga terpantau meningkat ditengah ruang ekspansi pembiayaan yang relatif terbatas khususnya pada Bank Syariah dan BPR. ​

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah ​

Sejalan dengan pola seasonalnya kondisi net inflow terjadi di wilayah Lampung pada triwulan III 2018. Hal ini sejalan dengan penurunan konsumsi masyarakat pasca hari besar keagamaan dan libur sekolah pada triwulan lalu. Pola tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan year on year transaksi non tunai RTGS dan kliring yang menunjukan nilai negatif. Selain karena penurunan tingkat konsumsi masyarakat, penurunan nilai kliring diperkirakan turut dipengaruhi berkembangnya alat pembayaran berbasis internet. ​

Ditengah akselerasi sistem pembayaran non tunai melalui bansos non tunai dan perluasan merchant non tunai, jumlah uang elektronik mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun demikian pertumbuhan ini tidak setinggi pertumbuhan triwulan II tahun 2018 seiring dengan base effect yang cudah cukup tinggi. Ke depan, tren penggunaan uang elektronik akan semakin meningkat, khususnya untuk pembayaran moda dan infrastruktur transportasi. Menyikapi tren tersebut Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait guna memperlancar penerapan sistem pembayaran elektronik tersebut diantaranya pada Jalan Tol Trans Sumatera, dan pelabuhan penyeberangan Bakaheuni. ​

Di sisi lain, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung juga senantiasa mendorong clean money policy melalui pelaksanaan kegiatan kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah guna meningkatkan soil level untuk pecahan kecil (UPK) dan pecahan besar (UPB). ​

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan ​

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada Agustus 2018 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut tercermin dari meningkatnya penduduk yang diserap pasar tenaga kerja Lampung ditengah penambahan angkatan kerja yang mencapai 159,6 ribu orang. Peningkatan angkatan kerja tersebut hampir seluruhnya terserap pasar, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka mengalami penurunan. Selain terjadi kenaikan penawaran pekerjaan terjadi perbaikan pula pada sisi produktivitas. Per periode laporan, produktivitas angkatan kerja diperkirakan naik seiring menurunnya pekerja dalam kategori Setengah Pengangguran. Disamping itu, dominasi pekerjaan sektor informal tercatat sedikit meningkat yang secara struktural konsisten dengan kualitas tenaga kerja Lampung yang mayoritas (65,68%) memiliki pendidikan tertinggi pada jenjang SMP. ​

Sementara itu, kesejahteraan pekerja yang mayoritas bekerja di kawasan pedesaan khususnya pada sektor pertanian diperkirakan sedikit mengalami penurunan. Kondisi ini ditandai oleh perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) triwulan III 2018 yang tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan II 2018, terutama disebabkan oleh penurunan NTP pada petani perkebunan rakyat seiring dengan harga komoditas perkebunan yang cenderung menurun. Meski demikian, jumlah penduduk miskin Provinsi Lampung khususnya di kawasan pedesaan tercatat mengalami penurunan. Walaupun terus menurun, persentase penduduk miskin Lampung yang mencapai 13,14% berada jauh diatas tingkat kemiskinan nasional sebesar 9,82%, efektivitas program pengentasan kemiskinan perlu terus diperkuat, termasuk dengan upaya mengurangi kerentanan penduduk miskin terhadap fluktuasi harga komoditas utama yang dikonsumsi. ​

Prospek Pertumbuhan Ekonomi ​

Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan I 2019 diperkirakan berada pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy) namun dengan potensi bias kebawah (downward risk) yang lebih tinggi sehingga dapat turun beberapa basis poin dari capaian pertumbuhan pada triwulan IV 2018. Konsumsi swasta, meski secara seasonal mengalami perlambatan seiring dengan berakhirnya perayaan Natal, libur sekolah dan tahun baru diperkirakan masih dapat tumbuh cukup solid didukung oleh peningkatan disposable income dari kenaikan pendapatan. Di samping pendapatan, penyelenggaraan Pilpres di tahun 2019 diprediksikan dapat menopang kuatnya konsumsi swasta di sepanjang tahun 2019. Adapun investasi diperkirakan masih relatif kuat didukung oleh investasi swasta yang relatif diuntungkan oleh mulai pulihnya harga komoditas dibandingkan dengan tahun 2018, meski beberapa proyek strategis yang telah usai, wait and see terkait situasi politik serta potensi transmisi lebih lanjut pada kenaikan suku bunga kredit di tahun 2019 dapat menjadi faktor penahan investasi. Sedangkan net ekspor berpotensi mengalami koreksi baik di triwulan I maupun sepanjang tahun 2019 seiring kemungkinan penurunan volume perdagangan dunia yang didorong oleh stagnasi pertumbuhan ekonomi dunia. Meski demkian, kemungkinan pulihnya harga beberapa komoditas ekspor Lampung seperti CPO, kopi dan lada dapat mendukung kinerja ekspor di Provinsi Lampung. ​

Secara sektoral, peningkatan kinerja sektor pertanian dan industri pengolahan diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan triwulan I 2019 sejalan dengan pola musiman berlangsungnya musim panen raya padi. Di samping itu, peningkatan aktivitas industri pengolahan di periode sebelum puasa dan lebaran diprediksikan dapat menopang ekonomi Lampung di awal tahun 2019. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2019 diperkirakan akan sedikit meningkat dari tahun sebelumnya. Berbagai indikator tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2019 diperkirakan dapat tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy). ​

Inflasi ​

Prospek inflasi pada triwulan I 2019 dan keseluruhan tahun 2019 diperkirakan masih tetap terjaga pada kisaran 3,5%±1% (yoy), dengan probabilitas di akhir tahun 2019 dapat mencapai nilai tengah 3,5% mengingat terdapat beberapa hal yang menjadi risiko peningkatan tekanan inflasi khususnya yang berasal dari kelompok bahan makanan serta kelompok transportasi dan komunikasi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel