KEKR Provinsi Lampung Periode November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Juli 2020

Pertumbuhan Ekonomi

Di tengah fase konsolidasi perekonomian nasional yang masih berjalan, ekonomi Lampung mampu mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi pada triwulan III 2017 yakni 5,21% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional yang masing-masing 4,43% (yoy) dan 5,06% (yoy).

Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung terutama didorong oleh pertumbuhan investasi yang mampu tumbuh di atas rata-rata historisnya selama 5 (lima) tahun terakhir, serta membaiknya realisasi belanja pemerintah daerah. Namun demikian, konsumsi rumah tangga mulai mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan tercatat paling rendah selama 3 (tiga) tahun terakhir. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor Industri Pengolahan, sektor Konstruksi dan sektor Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor.

Memasuki triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi, dengan motor pertumbuhan bersumber dari konsumsi rumah tangga menjelang libur akhir tahun dan investasi yang didukung rendahnya laju inflasi serta akselerasi proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor Lampung diperkirakan akan mengalami pertumbuhan seiring perbaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak kelapa sawit. Sementara itu, secara sektoral, meningkatnya kinerja sektor perdagangan besar dan eceran, membaiknya sektor pertanian, serta masih tingginya kinerja sektor konstruksi, diperkirakan menjadi pendorong ekonomi Lampung pada triwulan IV 2017 yang diproyeksikan dapat tumbuh pada kisaran 5,2%-5,3% (yoy). Selain itu pertumbuhan sektor perdagangan, sektor transportasi serta sektor penyedia akomodasi dan makan minum diprediksikan meningkat, sejalan dengan peningkatan volume arus perjalanan dan konsumsi masyarakat pada hari raya Natal dan tahun baru serta libur sekolah. Untuk keseluruhan tahun 2017, perekonomian Lampung diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 dengan kisaran 5,1%-5,2% (yoy), terutama ditopang oleh kinerja ekspor dan investasi seiring membaiknya harga komoditas unggulan Lampung dan perekonomian negara tujuan ekspor, serta membaiknya iklim investasi.

Keuangan Pemerintah

Anggaran belanja fiskal pemerintah di Provinsi Lampung untuk tahun 2017 mencapai Rp30,72 triliun yang meliputi belanja APBD Provinsi Lampung sebesar Rp7,91 triliun (pangsa 25,76%), APBD Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung sebesar Rp22,52 triliun (pangsa 73,29%), dan APBN sebesar Rp0,3 triliun (pangsa 0,94%).

Komposisi belanja pegawai masih mendominasi pada tahun 2017, khususnya pada anggaran belanja Kabupaten/kota. Meskipun demikian, komitmen pemerintah daerah terhadap pengeluaran yang bersifat produktif semakin tinggi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pangsa anggaran belanja modal.

Sampai dengan triwulan III 2017, realisasi anggaran belanja Pemerintah Provinsi relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun terjadi pencairan gaji ke-13 PNS. Hal ini sejalan dengan rendahnya realisasi belanja modal dan belanja bagi hasil sehingga berdampak pada belum optimalnya belanja Pemerintah Kabupaten/Kota. Sementara itu, ketergantungan fiskal Provinsi Lampung terhadap Pemerintah Pusat tercatat semakin tinggi dan berimplikasi pada terbatasnya diskresi Pemerintah Daerah dalam melakukan inovasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.

Inflasi

Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan III 2017 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni dari 4,91% (yoy) pada triwulan II 2017 menjadi sebesar 3,85% (yoy). Penahan laju inflasi terbesar pada triwulan III 2017 berasal dari kelompok volatile food sebagai fokus pengawasan dari Tim Kerja Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selain itu, kelompok administered price juga terus mengalami koreksi pasca Hari Besar Keagamaan (HBKN) Idul Fitri 2017. Meskipun demikian, di saat yang sama terdapat peningkatan harga pada kelompok inti (core) akibat kenaikan biaya pendidikan di Kota Bandar Lampung di seluruh tingkatan.

Berdasarkan kota perhitungan IHK, inflasi IHK kota Metro tercatat lebih rendah dibandingkan kota Bandar Lampung, dan rata-rata inflasi kota-kota perhitungan IHK di Sumatera. Adapun secara nasional, inflasi IHK Provinsi Lampung tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi IHK Nasional yang mencapai 3,72% (yoy). Tantangan pengendalian inflasi Provinsi Lampung kedepan masih cukup besar diantaranya bersumber dari inflasi kelompok volatile foods dan kelompok administered prices.

Memasuki triwulan IV 2017, diperkirakan terjadi peningkatan tekanan inflasi yang didorong oleh meningkatnya harga komoditas volatile food seiring dengan puncak musim hujan yang dapat berpotensi menghambat kelancaran produksi dan distribusi pangan yang pada akhirnya akan memengaruhi jumlah pasokan. Selain itu, menjelang liburan akhir tahun, tekanan inflasi diperkirakan juga bersumber dari kelompok administered prices, yakni peningkatan tarif angkutan udara. Untuk keseluruhan tahun 2017, inflasi Lampung diperkirakan masih tetap terjaga pada kisaran target 4%±1% (yoy) dengan kecenderungan mendekati batas bawah sasaran, sejalan langkah progresif pemerintah untuk mengendalikan harga komoditas volatile.

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM

Ditengah proses pemulihan kondisi perekonomian domestik yang berjalan tidak secepat perkiraan, kinerja sektor korporasi sebagai salah satu penopang stabilitas keuangan Provinsi Lampung masih cukup terjaga. Meski cukup terjaga, belum stabilnya perbaikan harga komoditas ekspor utama masih menjadi faktor penahan kinerja korporasi ke depan. Selain itu, ketahanan sektor rumah tangga perlu mendapat perhatian seiring melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditengah tekanan inflasi yang cukup terkendali. Permintaan domestik yang stagnan, pergeseran pola konsumsi masyarakat dan indeks penghasilan saat ini yang masih sangat terpengaruh pendapatan dari sektor pertanian dan perkebunan menjadi faktor risiko kerentanan sektor rumah tangga ke depan.

Kinerja perbankan Provinsi Lampung pada triwulan laporan tercatat cukup stabil, meskipun fungsi intermediasi perbankan belum cukup kuat, yang tercermin dari pertumbuhan DPK dan Kredit bank umum yang tercatat melambat, dengan risiko kredit yang meningkat meskipun masih terjaga di bawah threshold 5%. Di sisi lain, dukungan perbankan terhadap UMKM di Provinsi Lampung tercatat meningkat ditandai dengan lebih tingginya pertumbuhan kredit UMKM pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun demikian peningkatan dukungan kredit tersebut belum diiringi dengan perbaikan risiko kredit yang masih yang perlu mendapat perhatian.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah

Sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang lebih baik di triwulan III 2017, transaksi pembayaran non tunai baik melalui kliring maupun RTGS juga cenderung mengalami peningkatan. Begitu juga untuk penggunaan uang elektronik yang tercatat meningkat signifikan untuk aktivitas pembayaran.

KPw BI Provinsi Lampung senantiasa terus mendorong clean money policy dan meningkatkan kualitas uang beredar di masyarakat melalui peningkatan intensitas kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah. Tercermin dari peningkatan soil level yang lebih baik untuk pecahan kecil (UPK) maupun pecahan besar (UPB). Dalam rangka persiapan implementasi elektronifikasi pembayaran Jalan Tol Trans Sumatera (JJTS), KPw BI Provinsi Lampung terus melakukan koordinasi dengan pihak BUJT dan Perbankan, termasuk terus berupaya memperkenalkan Gerakan Nasional Non Tunai untuk memperluas edukasi terkait elektronifikasi dan keuangan inklusif kepada masyarakat di Provinsi Lampung.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada periode Agustus 2017 menunjukkan penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya, ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk yang siap bekerja dan berusia kerja (angkatan kerja) serta menurunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Namun di sisi lain, tingkat pengangguran di periode ini tercatat mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi triwulan III 2017.

Sementara itu, kesejahteraan petani yang tercemin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami peningkatan dari sebesar 104,28 pada triwulan II 2017 menjadi sebesar 105,00 pada triwulan III 2017. Hal ini didorong oleh relatif tingginya pertumbuhan indeks yang diterima (It) dibandingkan indeks yang dibayarkan (Ib) petani. Secara sektoral, terdapat 3 sektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu sektor Padi & Palawija, Perikanan Budidaya serta Peternakan. Sedangkan sektor Perkebunan, Hortikultura dan Perikanan Tangkap mengalami penurunan NTP. Kedepan, kesejahteraan petani masih rentan apabila ketergantungan Lampung terhadap ekonomi yang berbasis komoditas masih tinggi mengingat harga komoditas yang cenderung berfluktuasi.

Ditengah kondisi tersebut, jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung telah menunjukkan kecenderungan turun, namun rata-rata persentase penduduk miskin Lampung selama 3 tahun terakhir masih tergolong tinggi dan berada diatas rata-rata persentase penduduk miskin nasional. Oleh karena itu program pengentasan kemiskinan yang telah dijalankan terutama di wilayah pedesaan perlu diperkuat dengan upaya mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas yang diproduksi.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan I 2018 diperkirakan mencapai kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dengan risiko perubahan keatas dan kebawah yang relatif berimbang sehingga berpeluang melebihi pertumbuhan pada triwulan sebelumnya. Konsumsi pemerintah dan investasi khususnya investasi bangunan diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan, meskipun terdapat risiko penundaan belanja terkait pelaksanaan pilkada. Sementara itu konsumsi swasta dan net ekspor diperkirakan tumbuh stabil dengan potensi bias keatas, ditengah perkiraan apresiasi harga komoditas yang terbatas dan berkurangnya produksi komoditas utama perkebunan. Hal ini didasari adanya upward risk berlanjutnya perbaikan produksi sekaligus permintaan eksternal, serta meningkatnya permintaan domestik terkait persiapan pilkada. Secara sektoral, siklus peningkatan produksi sektor pertanian khususnya tanaman pangan, serta realisasi pembangunan infrastruktur diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan. Mengacu pada perkiraan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2018 diperkirakan masih cukup ekspansif dan berpotensi sedikit meningkat dari tahun sebelumnya.

Inflasi

Prospek inflasi triwulan I dan keseluruhan tahun 2018 diperkirakan dapat terkendali pada kisaran 3,5%±1% (yoy), seiring kecenderungan menurunnya tekanan inflasi IHK sejak semester II 2017 yang didukung langkah progresif pemerintah untuk mengendalikan harga komoditas volatile. Faktor risiko yang diperkirakan dapat meningkatkan tekanan inflasi pada triwulan I berasal dari kelompok volatile food sejalan dengan tingginya intensitas hujan, sebaliknya siklus peningkatan produksi tanaman pangan berpotensi menimbulkan koreksi harga. Kondisi ini perlu diantisipasi TPID dengan fokus pada upaya menjaga stabilitas harga bahan makanan guna mempertahankan daya beli rumah tangga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel