Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Juli 2020
Perekonomian Kepri triwulan II 2019 tetap baik tercatat tumbuh sebesar 4,66% (yoy), meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,79% (yoy). Kinerja perekonomian ini masih mengindikasikan momentum pertumbuhan ekonomi Kepri yang tetap terjaga dalam fase peningkatan sejak pertengahan tahun 2017. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 terutama ditopang oleh kinerja investasi. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh kinerja industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan.
 
Investasi pada triwulan II 2019 tumbuh 6,59% (yoy) lebih baik dibanding triwulan lalu sebesar 0,67%(yoy). Akselerasi pertumbuhan investasi terkonfirmasi oleh investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh menguat, serta didorong oleh telah dimulainya proyek-proyek pembangunan pada triwulan II 2019. Adapun konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2019 tumbuh 5,02% (yoy), relatif stabil meskipun sedikit lebih lambat dibandingkan triwulan I 2019 yang tumbuh sebesar 5,04% (yoy). Kinerja net ekspor tercatat mengalami kontraksi setelah sebelumnya tumbuh positif pada triwulan I 2019, bersumber dari perbaikan kontraksi impor luar negeri pada PDRB yang lebih baik dibandingkan perbaikan kontraksi ekspor luar negeri pada PDRB. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ditopang oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, serta perbaikan kinerja net ekspor.
 
LU industri pengolahan pada triwulan II 2019 tercatat tumbuh 7,71% (yoy), menguat dibandingkan triwulan I 2019 yang tumbuh sebesar 5,33% (yoy). LU konstruksi pada triwulan II 2019 tercatat tumbuh 10,44% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh 2,27% (yoy). Sementara itu, LU perdagangan pada triwulan II 2019 tumbuh menguat sebesar 8,75% (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 4,69% (yoy). Sedangkan LU pertambangan dan penggalian tercatat mengalami kontraksi sebesar 7,71% (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh positif sebesar 10,04% (yoy).
 
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ditopang oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, serta perbaikan kinerja net ekspor. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh pertumbuhan LU industri pengolahan dan konstruksi yang meningkat serta perbaikan kinerja LU pertambangan dan penggalian.
   
Realisasi pendapatan Pemda di wilayah Kepri pada triwulan II 2019 adalah sebesar Rp6,12 Triliun atau telah terealisasi sebesar 46,62% dari total anggaran, lebih tinggi dibandingkan realisasi pendapatan pada periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar Rp4,64 Triliun atau terealisasi sebesar 40,5% dari total anggaran. Peningkatan realisasi pendapatan Pemda didorong oleh realisasi pada pos pendapatan asli daerah, transfer pemerintah pusat – dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Realisasi belanja Pemda di wilayah Kepri hingga triwulan II 2019 yaitu sebesar Rp4,56 Triliun atau telah terealisasi sebesar 33,34% dari total anggaran, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,02 Triliun atau telah terealisasi sebesar 32,51% dari total anggaran.
 
Inflasi Kepri pada triwulan II 2019 sebesar 3,16% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi pada triwulan I 2019 sebesar 2,71% (yoy) serta masih berada dalam sasaran inflasi Nasional 2019 sebesar 3,5 ± 1% (yoy). Peningkatan inflasi pada triwulan II 2019 tersebut terutama dikontribusi oleh kelompok bahan makanan dan makanan jadi. Inflasi kelompok bahan makanan tercatat meningkat dari 0,08% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi  6,90% dengan andil 1,54% pada triwulan laporan. Inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau tercatat 4,17% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan lalu sebesar 4,21% (yoy) dengan andil 0,65%.
 
Pada Juli 2019, Kepri mencatatkan inflasi 2019 sebesar 0,60% (mtm) atau 3,50% (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan II 2019 sebesar 3,16% (yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai merah, tarif angkutan udara dan cabai rawit. Kenaikan harga cabai merah maupun cabai rawit di Kepri diperkirakan merupakan dampak keterbatasan pasokan dari sentra penghasil antara lain akibat kekeringan yang terjadi di Jawa Tengah maupun pergeseran masa tanam di Sumatera Utara.
 
Kinerja perbankan Kepri pada triwulan II 2019 tumbuh menguat dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari peningkatan pertumbuhan kredit, aset maupun Dana Pihak Ketiga (DPK). Total penyaluran kredit, aset dan DPK perbankan pada triwulan II 2019 tumbuh menguat masing-masing sebesar 9,48% (yoy), 8,11% (yoy) dan 8,36% (yoy), dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I 2019 yang masing-masing tercatat sebesar 7,63% (yoy), 4,94% (yoy) dan 4,12% (yoy). Tingkat kredit bermasalah tercatat sebesar 4,77%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,71%. Sementara, aktivitas penyaluran kredit UMKM tumbuh melambat pada triwulan II 2019.
 
Net outflow uang kartal pada triwulan II 2019 adalah sebesar Rp912 Miliar, terkontraksi cukup dalam yaitu sebesar 65,56% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 81,96% (yoy). Sementara itu, transaksi SKNBI (kliring) pada triwulan II 2019 masih mengalami kontraksi, dimana nominal transaksi dan jumlah warkat terkontraksi masing-masing sebesar 9,09% (yoy) dan 15,82% (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan I 2019 yang mengalami kontraksi masing-masing sebesar 17,07% (yoy) dan 24,37% (yoy).
  
Jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 128.462 orang atau 5,90% dari total penduduk Kepri pada Maret 2019 sedangkan pada periode September 2018, penduduk miskin sebanyak 125.362 orang atau 5,83% dari total penduduk.
 
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ditopang oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, serta perbaikan kinerja net ekspor. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan didorong oleh pertumbuhan Lapangan Usaha (LU) industri pengolahan dan konstruksi yang meningkat serta perbaikan kinerja LU pertambangan dan penggalian. Secara keseluruhan 2019, ekonomi Kepri diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,6%-5,0%.
 
Capaian inflasi Kepri pada akhir tahun 2019 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun 2018, namun tetap berada pada kisaran sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1% (yoy). Adapaun risiko inflasi triwulan IV antara lain peningkatan konsumsi menjelang Hari Raya Natal dan angin musim utara dan gelombang laut yang tinggi akan mempengaruhi aktivitas nelayan dan distribusi pangan.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel