Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau November 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 September 2020

Perekonomian Kepri triwulan III 2019 tercatat tumbuh 4,89% (yoy), menguat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2019 sebesar 4,66% (yoy). Kinerja perekonomian ini masih mengindikasikan momentum pertumbuhan ekonomi Kepri yang tetap terjaga dalam fase peningkatan sejak pertengahan tahun 2017. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2019 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh menguat dan kinerja net ekspor yang membaik. Sementara dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh perbaikan kinerja LU pertambangan dan penggalian serta LU perdagangan yang tumbuh menguat.

Konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2019 tercatat tumbuh menguat sebesar 5,43% (yoy), dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2019 sebesar 5,02% (yoy). Akselerasi kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2019 didorong oleh peningkatan jumlah angkatan kerja serta momentum perayaan Hari Raya Idul Adha dan tahun ajaran baru sekolah. Net ekspor Kepri pada triwulan III 2019 tercatat tumbuh positif sebesar 19,09% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar -8,61% (yoy). Perbaikan kinerja net ekspor pada triwulan III 2019 ditopang oleh peningkatan pertumbuhan total impor yang lebih rendah dibandingkan peningkatan kinerja total ekspor.

LU pertambangan dan penggalian tercatat mengalami kontraksi sebesar -4,69% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi lebih dalam sebesar -7,71% (yoy), terkonfirmasi oleh perbaikan kinerja ekspor migas pada triwulan III 2019 yang tercatat tumbuh tinggi sebesar 30,07% (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi cukup dalam sebesar -23,97% (yoy). Adapun LU perdagangan pada triwulan III 2019 tercatat tumbuh 9,70% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh 8,75% (yoy) didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan ekspor dan impor serta peningkatan permintaan seiring dengan konsumsi masyarakat yang meningkat pada perayaan Hari Raya Idul Adha dan tahun ajaran baru sekolah.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ditopang oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara kinerja net ekspor diperkirakan tumbuh terbatas. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ditopang oleh peningkatan kinerja LU industri pengolahan dan LU konstruksi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2019 berpotensi tertahan oleh kinerja LU perdagangan dan LU pertambangan dan penggalian.

Realisasi pendapatan Pemda di wilayah Kepri pada triwulan III 2019 adalah sebesar Rp9,36 Triliun atau telah terealisasi sebesar 69,60% dari total anggaran, lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan pada periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar Rp8,03 Triliun atau terealisasi sebesar 69,92% dari total anggaran. Perlambatan terjadi pada realisasi pos pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Realisasi belanja Pemda di wilayah Kepri hingga triwulan III 2019 yaitu sebesar Rp7,95 Triliun atau telah terealisasi sebesar 56,36% dari total anggaran, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7,12 Triliun atau telah terealisasi sebesar 57,65% dari total anggaran.

Inflasi Kepri pada triwulan III 2019 sebesar 2,82% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi pada triwulan II 2019 sebesar 3,16% (yoy) serta masih berada dalam sasaran inflasi Nasional 2019 sebesar 3,5 ± 1% (yoy). Penurunan inflasi pada triwulan III 2019 tersebut terutama dikontribusi oleh kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Inflasi kelompok bahan makanan tercatat menurun dari 6,90% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 5,08% dengan andil 1,13% pada triwulan laporan. Inflasi makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau tercatat 2,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan lalu sebesar 4,17% (yoy) dengan andil 0,43%.

Pada Triwulan IV 2019, potensi risiko pendorong inflasi di Kepri antara lain peningkatan harga bahan makanan khususnya komoditas sayuran serta ikan segar karena keterbatasan pasokan dipengaruhi oleh kondisi cuaca (angin musim utara) yang berdampak kepada kelancaran distrbusi serta hasil tangkapan ikan laut. Selain itu, peningkatan konsumsi rumah tangga menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru diperkirakan turut mendorong inflasi kelompok bahan makanan.

Kinerja perbankan Kepri pada triwulan III 2019 tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari kontraksi pertumbuhan kredit serta perlambatan pertumbuhan aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Total penyaluran kredit perbankan pada triwulan III 2019 tumbuh melambat sebesar 4,29% (yoy), setelah pada triwulan II 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 9,48% (yoy). Sementara itu, penyaluran aset dan DPK perbankan pada triwulan III 2019 tumbuh melambat masing-masing sebesar 7,63% (yoy) dan 7,99% (yoy), dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan II 2019 yang masing-masing tercatat sebesar 8,11% (yoy) dan 8,36% (yoy). Tingkat kredit bermasalah tercatat sebesar 4,69%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,52%. Sementara, aktivitas penyaluran kredit UMKM tumbuh menguat pada triwulan III 2019.

Net outflow uang kartal pada triwulan III 2019 adalah sebesar Rp1,54 Triliun, masih terkontraksi sebesar 14,90% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang juga mengalami terkontraksi sebesar 17,63% (yoy). Sementara itu, transaksi SKNBI (kliring) pada triwulan III 2019 mengalami peningkatan, dimana nominal transaksi tercatat mengalami peningkatan sebesar 8,42% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu. Sedangkan dari jumlah warkat tercatat mengalami kontraksi sebesar 11,73% (yoy), namun masih lebih baik dibandingkan triwulan II 2019 yang mengalami kontraksi sebesar 15,82% (yoy).

Jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 128.462 orang atau 5,90% dari total penduduk Kepri pada Maret 2019 sedangkan pada periode Maret 2018, penduduk miskin sebanyak 131.676 orang atau 6,20% dari total penduduk.

Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 diperkirakan melambat dipengaruhi konsumsi rumah tangga seiring moderasi konsumsi masyarakat pasca perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru serta konsumsi pemerintah yang masih rendah di awal tahun. Secara keseluruhan 2020, ekonomi Kepri diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,7%-5,1% (yoy).

Capaian inflasi Kepri pada triwulan I 2020 diperkirakan lebih rendah dibandingkan inflasi akhir tahun 2019. Faktor utama yang diperkirakan menahan laju inflasi pada triwulan I 2020 terutama berasal dari kelompok bahan makanan dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan, bersumber dari moderasi konsumsi masyarakat pasca periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Secara keseluruhan 2020, inflasi Kepri diperkirakan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel